"Ah, sebentar! Kayaknya mereka udah datang!" Finesa buru-buru menuju ke arah pintu rumah. Wanita itu sudah siap menyambut kedatangan keluarga Maheswara untuk makan malam.
Nayaka sendiri sebenarnya cukup senang bisa ikut serta dalam acara makan malam ini. Ia bisa melihat keluarga Maheswara secara langsung, sekaligus memastikan apakah keluarga itu sudah lapang hati atas kepergian mending Julia. Andai saja Nayaka tidak didera suasana canggung, ia akan segera memberitahu Jasmine tentang apa saja yang akan dilaluinya dalam jamuan makan malam ini.
Sesaat Nayaka merasakan jika suasana yang tadinya sempat sedikit riuh sudah berubah hening. Sangat hening. Nayaka bahkan tidak sadar anggota keluarga lainnya sudah menyusul Finesa ke arah pintu, menyisakannya seorang diri. Nayaka terlalu sibuk dengan pikirannya sampai-sampai ia tidak melihat jika satu persatu anggota keluarga sudah menuju ke arah pintu.
Nayaka ikut bangkit dari duduknya dan turut serta untuk ikut menyusul. Suasana terasa canggung dan sedikit mencekam karena hening. Nayaka melirik mereka satu persatu. Ia sama sekali tidak paham apa yang sedang terjadi di hadapannya.
"Lo Bella, kan?" Finesa menatap Bella--istri Rizal Maheswara dan juga ibu mendiang Julia dengan tatapan menyelidik.
"Iya," jawab Bella singkat dan tersenyum kikuk di depan mereka semua.
Nayaka mengikuti arah pandang Bella, dan tatapan ibu mendiang Julia itu tertuju pada kedua orang tuanya. Kali ini kerutan di kening Nayaka mulai tampak. Ada apa ini?
"Fagan, Orane, apa kabar?" Lagi, Bella kembali berbicara dan disambut dengan tatapan keheranan dari semua orang di sana. Tak terkecuali, Nayaka dan Kanaka.
"Tante kenal sama Om Agan sama Tante Ane?", tanya Adisti memperhatikan mereka bergantian.
" Iya," jawab Bella sembari tersenyum. "Nggak cuma Fagan sama Orane, saya juga kenal Finesa, Richela, Vasaya, Mandy, Monic, Aaron, Chika, dan Adrian."
Adrian berdehem pelan. "Lebih baik kita semua makan malam dulu. Lalu setelahnya obrolan ini bisa dilanjutkan."
***
Setelah makan malam selesai, Nayaka memutuskan untuk menyendiri di belakang rumah keluarga Adisti. Ia bisa merasa sedikit tenang di sana. Nayaka tidak menyangka jika Bella mengenal orang tua dan juga tante beserta pamannya juga.
"Boleh saya duduk di sini?"
Nayaka terkesiap saat menemukan Bella tersenyum kecil padanya. Wanita itu masih berdiri di saja, menunggu persetujuan Nayaka agar memberinya izin duduk di sebelah.
"Silakan, Tante," balas Nayaka.
Bella langsung mengambil duduk di sebelah Nayaka.
"Kamu pasti penasaran kan, kenapa saya bisa kenal orang tua, dan keluarga kamu yang lain?"
Lantas Nayaka menoleh cepat ke arah Bella, dan menunggu wanita itu memberitahunya.
"Dulu, kami satu sekolah. Kebetulan Fagan, Orane, Richela, Vasaya, Mandy, Monic, Finesa dan Chika sekelas. Sementara saya dan Aaron sekelas. Adrian adalah adik kelas kami dulu. Saya pikir dulunya apa yang menarik dari anak-anak XI. IPA-2 itu, rupanya ada seseorang yang bikin saya tertarik. Dia Fagan Antasena. Ayah kamu." Bella tersenyum kecil kala mengatakan itu, terlebih lagi dengan ekspresi terkejut yang Nayaka tunjukkan di depannya.
"Tante ini, pernah suka sama ayah saya?" Nayaka sudah tidak bisa menahan diri. Dia mulai penasaran.
"Iya, bisa dibilang begitu." Bella menatap kedua kakinya yang beralas sepatu hak tinggi berwarna putih. "Ayah kamu itu seperti berlian. Dia pintar, ganteng, baik. Saya yang saat itu banyak yang deketin malah kepincut sama ayah kamu. Saya bahkan pernah mikir, dengan segala hal yang saya punya dalam diri saya, saya bisa disukai Fagan dengan begitu mudahnya. Tapi nyatanya, dia nggak pernah suka saya. Rasa cintanya udah sekuat itu sama mama kamu, sejak dia masih muda."
KAMU SEDANG MEMBACA
Batas Rasa
Teen Fiction"Hidup dengan orang tua yang bersikap adil itu, bagaimana rasanya?" Nayaka Akhilendra bingung ketika seseorang itu menanyakan hal itu padanya. Yang ada di dalam kepalanya hanyalah, 'apakah orang itu hidup dengan baik, atau justru ia bertemu dengan h...
