> vote & komen di setiap part <
Sebuah perjalanan kisah cinta yang rumit. Mereka di takdirkan bersama bukan karena cinta, melainkan sebuah ikatan perjodohan yang di buat oleh orang tuanya.
Memiliki masa lalu yang cukup membuat mereka trauma, bagaim...
⚠️bacanya pelan-pelan aja, biar tau alur kedepannya ⚠️
Matahari mulai terbit perlahan menyapa bumi. Arlettha sudah siap dengan blezzer yang ia kenakan untuk ke kampus saat ini. Berpenampilan tidak seperti biasanya, mungkin ia akan menemui seseorang.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tepat jarum jam menunjukkan pukul 07 : 00 WIB Arlettha sudah tiba di kampusnya, memang hari ini ia mendapatkan jadwal pagi, yaitu pukul 07 : 30 WIB. Sorot mata para mahasiswa/i terus memandangi outfit yang Arlettha kenakan.
"Gilak itu Arlettha?"
"Cakep banget, pacar gue."
"Inget sudah ada yang punya!"
Arlettha mengabaikan pembicaran mereka-mereka yang menanggapi pakaiannya hari ini. Ia berjalan hingga bertemu Pak Jae selaku kepala kampus di sini.
"Selamat pagi, Arlettha," sapa Pak Jae ramah.
"Pagi pak," balas Arlettha di akhiri senyum ramahnya.
"Bagaimana keadaan suami kamu? Apa sudah membaik?" tanya Pak Jae penuh kekhawatiran.
"Masih keadaan yang sama pak. Saya minta do'anya saja untuk kesehatan suami saya," ujar Arlettha sedikit sedih.
Pak Jae memegang pundak Arlettha berkata, "selalu Arlettha. Kami para mahasiswa dan mahasiswi di sini akan selalu mendo'akan kebaikan Pak Arga. Bagaimana pun Pak Arga salah satu keluarga kampus ini."
Arlettha tersenyum, ia bersyukur banyak sekali yang sayang dan peduli kepadanya. Tuhan selalu saja memberikan cobaan pada setiap makhluknya tapi setiap cobaan itu pasti memiliki hikmah dan pelangi yang indah pada akhirnya.
***
Tepat pukul 13 : 00 WIB jam kampus Arlettha baru saja selesai. Ia segera pergi meninggalkan kampus untuk meminta penjelasan pada Pak Ridwan, ia tampak kesepian selama di kelas dikarenakan Bella tidak hadir.
Mobil Arlettha pun meninggalkan area kampus dan menuju salah satu kantor polisi yang berada di Jakarta Selatan. Tak membutuhkan waktu lama mobil Arlettha tiba di kantor polisi Jakarta Selatan. Ia pun keluar dari mobil dan segera menemui Pak Ridwan.
"Ada perlu apa, mbak?" tanya polisi wanita yang bernama Gina. Melihat nama polwan itu, meningatkan Arlettha pada kejadian yang tragis. Bahkan sampai saat ini ia belum menemui siapa yang sengaja membunuh dirinya namun di tolong oleh suaminya.
"Saya ingin bertemu Pak Ridwan. Apa ada?"
Polwan bernama Gina itu memangguk, "mari mbak saya antar," ucapnya ramah sambil menunjukkan kantor Pak Ridwan.
Walaupun Arlettha sudah mengetahui kantor Pak Ridwan di sebelah mana. Tapi, ia tidak mau mengganggu segala tugas para polisi di sini.