part 43 sibuk

2.1K 129 4
                                    

Pagi ini, luna sengaja kembali mengambil jadwal malam, karena keysa baru pulang di sore hari.

"Aku pengen nyoba ini" memperlihatkan sebuah restoran yang berada sekitar 4 km dari lokasi mereka.

Luna mengiyakan, mereka segera pergi dengan taxi, kafe itu terlihat sangat ramai, menjual berbagai minuman dan dessert.

Elena segera memilih sebuah dessert coklat yang hanya tersisa 3 buah lagi.

"Ininih yang lagi viral" ucap keysa.

"Tau darimana"

"Tiktok, makanya sesekali liat medsos biar gak ketinggalan info"

Luna segera mencoba dessert yang dipesankan elena. Memang nikmat seperti dessert pada umumnya, sepertinya menggunakan Dark chocolate karena itu terasa ada sedikit rasa pahit saat memakannya.

Green tea yang dipesan luna juga cukup enak, sementara keysa sangat sibuk memotret makanan miliknya.

Bukan hanya sekali, keysa mengambil beberapa kali gambar kemudian sibuk mempostingnya di media sosialnya.

Luna hanya bisa mendengus menahan kesal. Mungkin itu yang di maksud kecanduan media sosial.

"Kamu harus segera meminum kopimu sebelum dingin"

"Oke" keysa segera meletakkan hpnya kembali diatas meja.

Dia menyeruput coffe caramel hangat yang dia pesan.

"Apa gak paapa? Minum kopi pagi-pagi?  Kamu bahkan belum sarapan"

"Kan ini udah makan dessert, biasanya aku juga gak sarapan"

"Nanti sakit"

"Aku gak boleh makan banyak, ini aja dietku gagal gara gara makan dessert"

"Buat apa diet, kamu udah kurus"

"Iya, tapi kalo gak dijaga dari sekarang takutnya ntar malah kelebihan lemak'

Ini tidak seperti keysa yang luna kenal, keysa biasanya selalu menikmati makanannya, dia selalu senang setiap kali mereka makan.

Saat hpnya bergetar keysa segera mengambil hp, sesekali dia tersenyum sendiri, seakan keberadaan luna tidak terlalu penting untuknya.

"Key, biasakah kamu meletakkan hpmu? Ada aku disini"

"Ini, temen kampus ngomongin tugas" alasan keysa.

Jika menyangkut kampus luna tidak bisa melarang.

Waktu terus berjalan, hingga tiba saatnya keysa untuk pulang, luna mengantar keysa ke terminal bis.

Dia memperhatikan keysa hingga bis itu pergi, sementara keysa tidak sadar bahkan tidak melambaikan tangan karena sibuk dengan hpnya.

Sekarang tidak ada yang bisa dilakukan luna selain menyelesaikan koasnya dengan sempurna agar bisa segera kembali, hanya tersisa 5 bulan lagi.

Dia segera bersiap, pergi ke ruang ganti, dan mengambil seragamnya.

Saat berada di lorong menuju ruang HCU luna sibuk dengan beberapa berkas yang dia bawa untuk adminitrasi.

"Hahahaha pak raglan dan Bu Nita ada ada saja"

Langkah Luna terhenti, dia mendengar suara yang tidak asing. Saat menengadahkan wajahnya, dia bisa melihat laki-laki yang menyiksa hidupnya berada tepat di hadapannya.

Tangan luna gemetar, hampir saja dia menjatuhkan berkas yang dia pegang. Luna segera mempercepat langkahnya sambil menunduk, berharap laki-laki itu tidak melihatnya.

"Tunggu"

Laki laki itu berbalik untuk melihat luna, diikuti oleh 5 orang dokter senior lain.

"Oh, ini salah satu dokter koas kami pak Ayuda yang saya bicarakan tadi, Luna perkenalkan diri" ucap Dr Nita.

"Saya.... luna.. salah satu.."

"Kita harus berbicara nak" ucap Dr Ayuda.

Dr nita bingung, pembicaraan apa yang harus di lakukan mereka berdua yang belum saling mengenal.

Pak raglan segera memberikan kode kepada luna untuk mengiyakan ajakan Dr Ayuda.

"Saya bersedia, tapi jika ada Dr Nita" mendengar seorang koas memberikan syarat kepada dokter senior sudah cukup membuat orang yang mendengar cukup merinding.

"Kenapa"

"Siapa tau anda akan melakukannya lagi"

Kalimat yang ambigu, mengundang fikiran negatif berkeliaran di benak 5 orang lainnya. Pak ayuda menyadari ekspresi aneh di wajah para juniornya.

"Ini adalah percakapan keluarga Luna, tidak baik jika ada orang luar ikut di dalamnya" semuanya bertatapan, mereka sadar bahwa luna dan pak ayuda memiliki ikatan keluarga.

"Kalau begitu permisi" ucap luna berniat pergi.

"Baiklah, kalau begitu dimana kita akan berbicara nak" ucap sang ayah.

Mereka segera pergi, keruangan santai para dokter lain, luna menolak untuk berbicara santai di sebuah kafe.

Dr Nita yang bingung hanya mengikuti keduanya dari belakang, dia seperti sedang menonton serial TV tentang perdebatan ayah dan anaknya.

"Pulanglah kerumah setelah menyelesaikan koas"

"Tidak, aku akan tinggal dengan kakek dan nenek"

"Baiklah, setidaknya datang ke rumah sesekali, ibumu merindukanmu"

"Ibu? Aku masih memiliki seorang ibu?"

"Hati-hati dengan ucapanmu" dengan nada yang mulai naik, sang ayah segera menarik nafas dalam berusaha menahan emosi terlebih di hadapan Dr Nita. "Kamu bilang ayah memaksamu untuk masuk ke dokteran, tapi lihatlah, kamu menjalaninya dengan sangat baik, kamu pasti menyukai profesi ini bukan"

"Tidak, aku realistis karena ini satu-satunya keahlianku, aku melakukannya untuk bertahan hidup"

"Setidaknya kamu tau, kamu fikir bisa sejauh ini berkat siapa? Berkat ayah"

"Ini karena aku kompeten, lihatlah tanpa ayah aku menjalani semuanya dengan baik"

"Itu karena ayah mendidikmu dengan kompeten, andai kamu mendengarkan ayah, saat ini mungkin kamu berada di posisi lebih baik"

"Ini jauh lebih baik"

"Kenapa kamu begitu keras kepala? Apa tidak cukup mempermalukan ayah?"

Luna menatap mata ayahnya dengan berani "menurut ayah sikap keras kepala ini menurun dari siapa??"

Pak ayuda tau, bahwa semakin panjang mereka berdebat dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.

"Jika tidak ada yang ingin ayah katakan lagi, aku pamit"

Sungguh mempermalukan diri sendiri di depan dokter juniornya.

"Dr Nita tolong mengertilah, aku memiliki masalah dengan anakku, kamu pasti tau sifatnya sangat sulit untuk ditebak"

Dr nita mengangguk, dia berjanji untuk tidak memyebarkan rumor tentang luna dan ayahnya

Girl love Girl (GXG) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang