-Untuk senyuman yang menjadi duniaku-
“
Sini tangan lo!” ketus Parveen kepada Onvhy.
Gadis itu dengan takut menyerahkan tangannya yang luka ke depan Parveen. Saat ini mereka berada di taman belakang sekolah, Onvhy seperti biasa tengah menikmati bullyan dari ketua geng Rahits yaitu Parveen. Kali ini yang menyiksanya hanya Parveen saja, kedua temannya entah pergi kemana.
Onvhy meringis saat tangannya disentuh oleh gadis itu, dugaannya yang akan merasakan sakit lagi ternyata salah, Parveen tidak lagi memukul tanga ujungnnya menggunakan penggaris besi, melainkan mengobati lukanya?
Onvhy sempat terkejut dan bingung dengan reaksi ratu bullying itu terhadapnya, Parveen mengobati lukanya? Apa gadis itu tengah kesurupan? Pikir Onvhy dalam hati.
“Lain kali jangan suka bantah gue, kalo lo nurut aja apa yang gue mau, lo ga akan terluka terus seperti ini.” Tuturnya sembari mengoleskan obat merah ketangan Onvhy.
Onvhy yang masih ketakutan tidak menjawab apa-apa, dia hanya tertunduk seolah melihat wajah Parveen seakan hal yang menakutkan.
Tak lama seorang wanita terlihat tengah berjalan kearah mereka, Parveen yang menyadari kehadirannya sontak berdiri serta menegakkan tubuh Onvhy juga.
“Mau apa lo?!” ketusnya dengan tatapan benci.
Wanita itu tersenyum, ia menoleh sekilas kearah Onvhy.
“Vhy, lo pergi dulu, gue ada urusan sama dia.” Titah Parveen langsung diangguki Onvhy.
Gadis itu bergegas pergi dari sana, menyisakan kedua perempuan itu yang kini saling melempar tatapan bengis.
“Ikut gue!” titahnya dengan wajah angkuh.
Parveen menurut saja dan langsung mengikuti langkah gadis itu. Gudang, adalah tempat mereka sekarang, wanita itu terkekeh melihat wajah sangar Parveen.
“Rupanya ada yang mulai berani, sampai berniat memfitnah gue.” Lirihnya tersenyum sinis.
Parveen tersenyum miring, “Fitnah? Itu fakta bukan fitnah, gak usah ngeles lo!” sarkas Parveen.
“Hahaha, ya ya ya, gue akui kelicikan lo, ternyata lo emang berbakat buat jadi pengkhianat, ya?”
Parveen terkekeh remeh, “Pengkhianat? Lo ngerti apa arti dari kata itu? Gue nggak pernah menyepakati apa-apa sama lo, kalau lo lupa.”
“Harusnya kehancuran kedua orang tua lo bisa membungkam mulut sampah lo itu, tapi ternyata tidak, apa perlu kehilangan mereka bisa membuat lo diam selamanya?” ancamnya dengan tatapan tajam.
Parveen sama sekali sudah tidak takut dengan ancaman gadis itu yang itu-itu saja. Lagian dia dan kedua orang tuanya juga sudah sepakat untuk lepas dari jeratan keluarga iblis itu.
“Oh ya? Gue udah nggak takut sama ancaman lo! Dengar baik-baik, selama ini gue udah capek mengikuti semua kemauan gila lo itu, mulai dari lo ngejebak gue di diskotik hingga hubungan gue kandas dengan Afkar, keluarga gue yang di perlakukan seperti binatang oleh orang tua lo! Dan sekarang? Tindakan kriminal yang lo lakukan terhadap ibu tiri lo sendiri, yaitu tante Rinai, orang tua Shaheen.”
Deg!
“TUTUP MULUT LO, PARVEEN, BUKAN GUE YANG BUNUH DIA!” sergahnya dengan marah.
Tanpa mereka sadari, Onvhy diam-diam mengikuti mereka ke gudang, dan merekam semua pembicaraan mereka.
“Kenapa? Lo takut ada yang dengar? Haha, bagus jika ada yang mendengar, nyonya Temaram.” Kekeh jahat Parveen membuat Temaram semakin naik pitam.
Ya, gadis itu adalah Temaram Abhisar. Perempuan cantik, lugu dan terlihat anggun itu adalah sosok yang sudah menghancurkan separuh kebahagiaan Parveen, dan juga pelaku yang di duga membunuh Rinai mantan ibu tirinya.
“Lo pikir gue takut, hm?” gertak Temaram emosi.
Parveen mengerutkan keningnya melihat tingkah gadis licik itu. Ia berjalan ke kanan dan ke kiri dengan raut memuakan bagi Parveen.
“Lo kan yang bunuh tante Rinai?”
“Lo gak perlu tau siapa pelaku sesungguhnya,” jujurnya sembari memandangi kukunya dengan santai.
“Dasar iblis! Siapapun pembunuhnya lo pasti terlibat!”
“Dia emang pantes untuk mendapatkan kematian seperti itu, wanita jalang itu sudah menerima karma dengan tunai, dia sudah menghancurkan keluarga gue.”
“Gue akan laporin lo ke polisi.”
Temaram tertawa kecil, ia mendongakkan kepalanya keatas dengan suara tawa yang semakin keras. Sungguh, sosok gadis itu sangat jauh berbeda dengan Temaram yang dikenal banyak orang.
“Gue gaakan pernah masuk penjara karena memang bukan gue pelakunya, jadi percuma lo buat laporan buat gue.”
“Lo gak usah terlalu percaya diri untuk itu, karena gue gak akan tinggal diam.”
“Waw, benarkah?” ejeknya pura-pura takut.
“Sepertinya kerja sama kita sudah berakhir sampai disini. Ok, kita akhiri dengan momen yang begitu menyenangkan.” Lanjutnya tersenyum lebar, Parveen tahu jika senyuman itu memiliki arti bagi gadis itu.
Ia menggeledah seluruh ruangan dengan matanya, rencana apa yang sudah Temaram siapkan untuknya, tak lama dua orang dari arah belakang berjalan kearah mereka, Parveen terbelalak saat melihat kedua wanita yang tengah berdiri tak jauh darinya tersenyum sinis kearahnya.
“Kanaya, Sari?” pungkas Parveen terkejut.
Mereka hanya diam dengan wajah masih tersenyum angkuh, Kanaya dan Sari kini berdiri disisi Temaram.
“Kalian?” tukasnya lagi tak percaya.
“Ini baru pengkhianatan sesungguhnya ya kan?” seru Temaram tersenyum.
Parveen masih tenganga mengetahui fakta itu, ia tidak menyangka kedua sahabat yang sudah ia anggap seperti saudara ternyata tega mengkhianatinya?
“Lakukan, sepuas kalian!” suruh Temaram diangguki oleh keduanya.
Mereka melangkah mendekati Parveen, gadis itu handak kabur namun kedua wanita itu sudah memeranginya terlebih dahulu.
“LEPAS! LEPASIN GUE PENGKHIANAT!” teriak Parveen memberontak.
Onvhy ketakutan melihat aksi bullying itu, ia segera pergi dari sana berniat mencari pertolongan. Dengan langkah gontai ia terus berlari menjauhi ruangan itu hingga menabrak seseorang membuatnya terjatuh.
“Aw!” pekik keduanya saat mereka bertabrakan.
“Maaf, say-saya tidak sengaja.” Lirih Onvhy gelapan.
“Kak Onvhy?” ucap seseorang yang ternyata adalah Shaheen.
Shaheen memapah tubuh Onvhy untuk berdiri, “Kakak dari mana? Kenapa lari-lari begitu?”
“Par-Par Veen, adik, Parveen!” gugupnya ketakutan.
“Iya-iya, Parveen ngapain Kakak lagi, dia bully lo lagi? Biar gue kasi pelajaran tuh anak!” cecar Shaheen seketika emosi melihat kondisi Onvhy yang sangat ketakutan.
“Bukan adik, bukan. Parveen, kita harus bantu dia adik!”
“Bantu? Ogah!” tolak Shaheen malas.
“Bantu dia adik, Parveen tau rahasia besar adik, ayok adik!” Onvhy terus menguncang lengan Shaheen, memohon.
“Rahasia besar?”
“Iya, ayok adik?”
Akhirnya Shaheen mengalah dan menyetujui permintaan Onvhy. Mereka segera menuju ke tempat Parveen disiksa oleh ketiga gadis itu.
•••
Tinggalkan jejak sebelum lanjut yaa sayang..
KAMU SEDANG MEMBACA
AFKAR
Teen FictionTerbit! TYPO BERTEBARAN DIMANA MANA! PASSWORD : FOLLOW DULU SEBELUM BACA, TERIMAKASIH. -Untuk senyuman yang menjadi duniaku- Tentang sebuah persembunyian geng motor yang tak terkalahkan, dinobatkan sebagai raja jalanan, membuat posisi itu banyak...
