AFK | TEMPUR 2

3.2K 89 6
                                        


S

etelah sampai di depan pintu apartemen Afkar, Shaheen mengatur deru nafasnya yang terasa sesak. Saat hendak membuka pintu, pintu itu terbuka dengan sendirinya, ada sedikit kecurigaan namun Shaheen tak memperdulikan itu, ia segera masuk ke dalam.

Ruangan itu sangat gelap, Shaheen berusaha mencari saklar lampu namun lampu sudah lebih dulu menyala. Menampakkan ketiga temannya tengah terikat di sofa dengan mulut mereka yang di tutup dengan lakban.
“Rin, Parveen Kak Anne? Kali___” langkah Shaheen yang hendak mendekati mereka terhenti saat suara seseorang terdengar dari belakangnya.

“Hello Shaheen.” Lirih perempuan itu tersenyum picik. Rindu dan Parveen terus berusaha memekik supaya Shaheen lari dari sana.

Shaheen membalikkan tubuhnya menatap sumber suara, “L-lo?” Shaheen menatap nyalang sosok itu.

“Kenapa terkejut?” ujarnya mendekati Shaheen.

“Lo kenapa ada disini? Lo harusnya di penjara.” Tukas memundurkan langkahnya menghindari Temaram.

“Karena ada nyawa yang harus di lenyapkan, makanya gue ada disini.” Temaram hendak menyentuh Shaheen namun gadis itu segera menghindar dan menghantam perut gadis itu hingga membuatnya mengaduh kesakitan.

“Arrgh! Sialan lo Shaheen!” ujarnya sembari mengeluarkan pistol dari dalam sakunya dan menembak Shaheen saat itu juga.

Dor!

“Aaaaaakhhr!” pekik Shaheen memegangi perutnya. Darah segar dari perutnya mengalir dengan deras.

“Shaaa!!” pekik Anne yang berhasil melepaskan kain penutup mulutnya. Ketiga gadis itu hanya bisa menangis melihat Temaram menyiksa Shaheen.

“Gimana Shaheen? Sakit nggak?” lirihnya tersenyum, Shaheen masih berusaha berdiri, dia tidak boleh lemah saat ini.

“Apa maksud lo?”

“Shaheen, lo rindu sama keluarga lo kan? Lo mau ketemu sama bunda sambung lo kan? Sekarang sini, biar gue bantu lo buat ketemu mereka, kalian bisa bertemu diakhirat dengan keluarga yang cemara.” Temaram mengeluarkan sebuah pisau dari dalam sakunya.

Shaheen menjauhkan tubuhnya dari gadis itu, dengan langkah mundur yang tertatih-tatih Shaheen terus berlari menjauhi Temaram. Shaheen berlari ke arah pintu yang ternyata sudah terkunci.

“Jangan takut, Sha. Gue sebenarnya orang baik, tapi dunia selalu memperlakukan gue dengan jahat, makanya gue berfikir sepertinya hidup sesuai perlakuan dunia kepada diri kita lebih menyenangkan, ternyata itu benar Sha.”

“Enggak! Pergi lo!” teriak Shaheen, rasa sakit di perutnya membuatnya kesusahan untuk mengayunkan kaki. Sudah dipastikan kali ini Shaheen tidak bisa melakukan perlawanan.

“Mendekatlah Sha, kemarilah!” lirihnya sepelan mungkin.

Kekehan menyeramkan gadis itu terus keluar dari mulutnya, “Sadar, Ram! Tindakan lo kriminal!” sergah Shaheen, tenaganya secara perlahan semakin terkikis akibat rasa sakit di sekujur tubuhnya semakin menyerangnya.

“Gue akan sadar setelah membunuh lo, Shaheen!” jawabnya dengan nada berat.

“Aaaarrghhh!” Shaheen mengerang sakit saat Temaram menarik rambutnya dan membenturkan kepalanya ke dinding.Suara rintihan dan pekikan Shaheen begitu merdu ditelinga Temaram.

Plak!

Plak!

Tamparan keras bertubi-tubi melekat dipipi Shaheen hingga membuat kedua sudut bibirnya berdarah, bukan hanya bibir bahkan hidung dan tulang pipi Shaheen juga sudah mengeluarkan cairan merah.

“LO ITU PARASIT BANGSAT!” teriak Temaram meluapkan seluruh sakit hatinya.

“KALAU LO NGGAK HADIR DI KEHIDUPAN AFKAR, GUE PASTI BISA DAPETIN DIA!! SEHARUSNYA LO YANG JADI KORBAN PELECEHAN RANGGA, BUKAN GUE!!”

JLUB!!

“AAAAAARRRGHH!” teriak Shaheen kesakitan, Temaram menusuk perutnya dan langsung mengangkat pisau itu, darah segar langsung membasahi baju Shaheen dan mengenai wajah Temaram.

“Lo harus mati Shaheen!” lirihnya lagi seraya mengangkat pisau itu ke atas hendak menancapkan lagi ke arah Shaheen.

“Selamat tinggal Shaheen Huda.” Bisiknya tersenyum.

°•°•°

“4!!” teriak Bumi kembali memberikan peringatan kepada pasukannya.

Mendengar itu, seluruh anggota BM dengan sigap menghindari tembakan dari anggota ME. Benar-benar licik, tidak hanya benda tajam ternyata geng ME juga membawa senapan api.

DOR!

DOR!

DOR!

Suara tembakan sudah menguasai area beberapa pasukan memilih kabur dari peperangan itu, ada beberapa anggota dari masing-masing pasukan yang terkena tembakan, beruntung anggota Black Moon memakai baju pengaman karena Brams sudah membocorkan strategi mereka kepada anggota Black Moon.

“Sialan, ternyata lo masih sama Agarish! Sifat pecundang sudah mendarah daging dalam diri lo, bangsat!!” teriak Afkar menarik keras kerah jaket Agarish.

Laki-laki itu terkekeh renyah, “Kenapa? Gue nggak butuh saran dari lo, bajingan!!” Agarish melakukan perlawanan dengan menendang dada Afkar. Bumi yang melihat pergerakan Agarish segera menginstruksi seluruh pasukannya.

“2!!” teriaknya begitu keras, hanya anggota BM yang mengerti dengan kode Bumi, mereka berhamburan menjauhi area itu saat Agarish melempar satu bom ke tengah lingkaran pertempuran.

DUAAAARR!!

Puluhan jiwa berhasil lenyap dalam hitungan detik.

Lokasi lapangan kosong merpati tampak semakin menyeramkan, hampir seluruh pasukan sudah lumpuh dan berserakan di area luas itu, kini hanya menyisakan tujuh anggota inti Black Moon, empat orang dari anggota Devilsclub, tiga orang pasukan dari Bandung, namun mereka memilih mundur dan menjauh dari tempat itu, dari anggota Hugo hanya menyisakan dua orang yaitu Agarish dan Leyzo.

Melihat ketujuh anggota inti Black Moon masih utuh, senyuman licik terbit dari wajah Agarish, ia terkekeh pelan hingga menjadi keras.

“Kalian memang ahli sekali rupanya,” ia bertepuk tangan seolah memberikan aplus untuk BM gang.

“Tapi, sayang malam ini kalian semua akan menyerahkan diri untuk mati!” lanjutnya begitu yakin.

“Lo yang akan mati malam ini, Agarish!” sambung Alastar, ia berdiri disisi Bromo.

“Karena Devilsclub akan berpihak kepada Black Moon!”

“Gue sama Vano juga akan berpihak kepada Black Moon!” imbuh Sachio ikut berdiri disamping Bumi.

“Silahkan, gue ralat! Mungkin malam ini adalah malam kematian untuk lo Afkar!” lanjutnya membuat Afkar terkekeh.

“Lo mau rival privat sama gue? Maju!” lirihnya melangkah kedepan satu langkah.

“Bukan, lo yang akan menyerahkan diri untuk dibunuh di depan semua teman-teman lo!” Agarish merogoh ponselnya dari dalam saku.

Afkar menaikan satu alisnya melihat tindakan Agarish yang terasa janggal. “Temaram, apakah kado untuk kekasih kamu sudah siap?” ujar Agarish berbicara dengan adiknya saat sambungan video call itu menyala.

Hampir selesai, kak! Kenapa?

“Kekasih kamu ingin melihatnya, coba kamu perlihatkan kado istimewa itu kepada Afkar!” Agarish memaparkan layar ponselnya ke depan Afkar.

“Shaheen!!” teriak Afkar saat melihat tubuh wanita terkapar di dinding kamar apartemennya dengan seluruh tubuh sudah bersimbah darah.

AFKAR Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang