AFK | SISI LAIN AGARISH

3.6K 77 6
                                        

“Ikut gue.” Reygan meraih tangan Shaheen setibanya di gerbang.

“Heh apa-apaan lo, lo siapa main pegang-pegang sembarangan, kita gak kenal ya!” sarkas Shaheen menepis kasar tangannya.

Reygan menghela kesal, “Gue teman Afkar, dia nyuruh gue buat jemput lo!” terpaksa Reygan menggunakan nama laki-laki itu untuk beralasan.

“Oh jadi lo teman tuh cowok, lo bilangin sama temen lo itu ya, gak usah sok-sok perhatian lagi sama gue, mending dia urus tuh selingkuhannya, gue udah gak mau berurusan dengan dia lagi, paham lo!” gertaknya membuat Reygan tercengang, meskipun sudah lama mengenal Queen dan kepribadiannya si Nawla Reygan gak menyangka jika sosok Shaheen se energic ini.

“Tapi lo tetap harus ikut gue, lo dalam bahaya, udah jangan banyak omong lo, pengen banget gue di tonjok tuh macan!” dengus Reygan tetap meraih tangan Shaheen. Lagi-lagi Shaheen melepaskan dan mendorong dada Reygan.

“Gak mau, bodoamat lo mau di bikin sate sekalipun sama tuh macan gue gak peduli.” Shaheen pergi dari sana dengan langkah secepat kilat.

“Woi, wah tuh cewek benar-benar nguji kesabaran gue.” cerocoh Reygan kesal. Cordelia tertawa keras sembari mendekati Reygan membuat cowok itu semakin kesal.

“Ketawa lo!” damprat cowok itu.

“Emang enak, lucu yah Shaheen gak kenal lo sama sekali.” Ejek Cordelia sangat puas. Karena dengan begitu dia jadi bisa berduaan dengan Reygan.

“Senang banget lo liat gue kesal begini awas ya lo, sebagai gantinya lo harus gantiin Shaheen buat nemenin gue.” Reygan meraih tangan Cordelia dan membawanya pergi dari sana.

“Kemana?” tanya gadis itu mengikuti langkah Reygan yang super lebar.

“Ikut aja.” Cowok itu tersenyum tipis begitupun dengan Cordelia dia diam-diam tersenyum, akhirnya dia bisa punya waktu berdua dengan Reygan.

Kepergian mereka diam-diam di pantau oleh Agarish, ia mengepalkan kedua tangannya. Kedua orang yang ia pikir tidak akan mengkhianatinya ternyata mereka yang menjadi musuh dalam selimut. Agarish tidak akan pernah membiarkan mereka hidup tenang setelah melakukan hal itu kepadanya terutama Cordelia, gadis itu berani mempermainkan perasannya.

°•°•°

Seluruh perlengkapan perang sudah siap, beberapa anggota masih berlatih sebagai pemanasan sebelum menghadapi perang nanti malam. Afkar, laki-laki itu terus saja memeriksa kondisi para anggota Black Moon yang akan bertarung, semuanya harus dalam keadaan full energy.

“Lo aman? Ini tangan lo kenapa di perban?” tanya Afkar melihat tangan salah satu anggota BM dibalut perban.

“Biasa jatuh dari motor, udah nggak sakit kok, bos!” ujarnya dengan mantap.

“Yakin?”

“Yes, bos!” ulangnya tegas.

“Semuanya berhenti, sebaiknya kalian pergunakan waktu ini untuk istirahat, jangan terlalu memaksakan berlatih nanti tenaga kalian tidak stabil.” Seru Dewa menginstruksi pasukan.

Semuanya dengan patuh berhenti dari aktivitasnya, Dewa kembali bergabung dengan kelompok inti BM yang berada didalam markas.

“Bang lo aman?” tanya Afkar kepada Bumi, yang sedari tadi terlihat murung dan tidak semangat.

“I’m fine!” lirih cowok itu pelan.

“Fine kok lemes gitu?” tuding Restu menatap curiga.

“Lagi kangen putri Salju dia!” imbuh Langit, yang memang tahu jika Bumi akhir-akhir ini selalu kepikiran tentang Salju.

“Lo yang sabar ya manbos, putri Salju pasti udah bahagia di surga, apalagi ketemu pangeran-pangeran cogan dia pasti gak bakal ingat manbos lagi.” Ujar Dewa berniat menenangkan tapi malah membuat Bumi tantrum.

“Lo ngomong apa? Mau gue oven mulut lo!” sarkas Bumi menatap garang. Sedangkan cowok itu malah tersenyum tengil.

“Santai manbos, gue cuma ngedongeng.” Kikiknya menahan tawa.

Alam merangkul bahu Bumi mencoba menyalurkan semangat, “Lo tenang aja bang, kita semua juga pasti berdo’a semoga Salju tenang di akhirat dan lo juga bisa menerima kenyataan ini dengan ikhlas.

“Semoga, Lam!”

Mendengar obrolan mereka dalam hati Afkar juga tengah memikirkan Shaheen, sedang apa wanitanya itu saat ini? Afkar harap setelah misi mereka ini selesai, dia akan membawa kembali Shaheen kedalam hidupnya dan Afkar tidak akan membuat gadis itu merasakan kesedihan sedikitpun.

Semoga kamu bisa tunggu aku Shaa.. Batin Afkar dalam hati.

°•°•°

“Semua senjata sudah siap, bos monster!” lirih salah satu anggota kepada Agarish.

“Pastikan semua senjata tidak ada yang rusak!” imbuh Leyzo mengecek senapan api itu, kali ini mereka akan menggunakan senjata tajam dan pistol. Walaupun di peraturan perang tidak boleh menggunakan senjata tajam, namun geng ME tidak akan mengacuhkan persyaratan itu, karena tujuan mereka kali ini bukan hanya mengikuti rival seperti biasanya melainkan untuk membunuh seluruh anggota inti Black Moon.

“Pastikan kalian semua siaga, ingat apa yang gue katakan kemaren, kalian harus memiliki kepekaan yang tajam untuk melawan Black Moon, karena mereka sangat lihai dalam mengecoh konsentrasi lawan!”

“BAIK BOSS!” sorak mereka menggema di ruangan itu.

“Gar, sebelum perang terjadi sebaiknya kita temui Mama sama Papa dulu.” Saran Leyzo.

Agarish tampak diam memikirkan omongan Leyzo, sebenarnya dia juga ingin sekali menemui kedua orang tuanya layaknya sebuah keluarga yang damai. Namun, untuk saat ini perasaan kecewa dan sedih masih membekas di hatinya.

“Lo aja yang nemuin, titip salam gue buat mereka, katakan kalau gue masih sangat menyayangi mereka, meski mereka tidak menyayangi gue!”

“Lo bicara apa sih? Papa menyayangi kita bertiga, lo harus percaya itu!” bantah Leyzo saat ucapan Agarish terlihat seperti orang yang tersisihkan oleh kedua orang tuanya.

“Iya, tapi gue belum bisa ketemu sama Papa, jadi lo aja yang bertemu sama mereka. Kalaupun gue nanti gugur dalam perang setidaknya gue sudah memaafkan semua kesalahan dia, kalau gue yang memiliki kesalahan sama mereka, tolong sampaikan permintaan maaf gue, Bang!”

Untuk pertama kalinya setelah beranjak dewasa, Agarish memanggil Leyzo dengan sebutan ‘Bang’ hal itu berhasil membuat perasaan Leyzo menghangat. Laki-laki itu memeluk tubuh adiknya dengan cairan bening sudah meluncur di pipinya.

“Kita pasti menang, Gar!”

“Pasti!”

AFKAR Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang