Sudah empat jam berlalu, operasi Shaheen masih belum selesai. Alastar, Sachio dan Vano juga Anne baru saja datang.
“Aih, kalian udah kembali, gimana keadaan Cordelia?” tanya Restu kepada keempat orang itu.
“Dia belum sadar,” jawab Sachio.
“Mengenai Agarish dan Temaram, Agaris sudah meninggal sedangkan Temaram cewek gila itu masih hidup lagi!” decak Alastar.
“Dia tidak akan berpengaruh jika kedua kakaknya sudah mati!” imbuh Dewa diangguki oleh mereka.
“Harusnya cewek sialan itu mati juga, muak banget gue liat dia!” Parveen menyolot pembicaraan mereka, seketika rasa benci kembali memenuhi otaknya.
“Santai kali Kak, ntar bunuh dia aja, gampang kan?” imbuh Langit berjalan ke kursi yang ada di koridor itu.
“Gak boleh ada kriminal di antara kalian, jangan bertindak bodoh hanya karena dendam.” Brams menimpali perbincangan mereka yang sedari tadi hanya ia dengarkan.
“Maaf, Yah. Langit cuma bercandya.” Lirih laki-laki itu cengengesan.
“Udah lah Veen, semuanya udah terbalaskan, Leyzo dan Agarish sudah meninggal, gue rasa itu cukup jadi balasan untuk dia.” Alam menegur Parveen. Sebagai teman yang baik, ia tidak ingin cewek itu dalam masalah.
“Iya-iya, tapi tetap aja, Shaheen seperti ini gara-gara dia, untung ada Cordelia yang nyelamatin, kalau nggak mungkin sekarang Shaheen benar-benar sudah tidak ada.”
“Mending kita semua bantu bang Afkar buat do’ain Shaheen, semoga operasinya berjalan lancar.” Bromo menyudahi perdebatan mereka.
Tak lama dokter keluar membuat mereka yang ada di sana mendekatinya.
“Dok, bagaimana? Shaheen selamat kan?” tanya Afkar setibanya disana.
“Teman saya baik-baik aja, kan dok?” Rindu yang sedari tadi tidak berhenti menangis ikut menghampiri dokter itu.
Dokter bernama Katty itu menghela pelan, ia menatap sekeliling dan berhenti pada Afkar, “Saya tidak tahu ini berita baik atau buruk untuk kalian,”
“Apa maksudnya dok? Jangan bertele-tele seperti ini!”
“Nak..tahan emosi kamu.” Brams mengusap lembut bahu putranya.
“Operasi berjalan dengan semestinya, namun kondisi Shaheen belum bisa dikatakan selamat, peluru yang masuk melukai jantungnya, hal itu membuat pendarahan hebat hingga membuat fungsi pada jantungnya rusak, maka dari itu kami membutuhkan donor jantung agar Shaheen bisa bertahan hidup, waktu kita hanya 12 jam dari sekarang, jika gagal Shaheen tidak bisa bertahan lebih lama.”
Deg!!
Darah Afkar berdesir hebat, tubuhnya serasa tidak memiliki tulang, ini tidak mungkin, Shaheen harus selamat. Dia harus mendapatkan pendonor itu dalam waktu 12 jam?
“Shaa...” lirih Rindu kembali menangis.
“Kar, kita bakal cari pendonor itu, lo jangan khawatir.” Ujar Bumi disamping Afkar.
“Benar, Bos. Kita akan pergi sekarang mencari pendonor itu!” imbuh Restu.
Mereka tahu, semenjak kehadiran Shaheen di hidup Afkar, cowok itu baru kembali bersemangat sejak kehilangan Mamanya. Semenjak bersama Shaheen juga, Afkar sedikit mulai terbuka kepada mereka.
“Gak mudah mendapatkan pendonor itu, Res!”
“Kita akan berusaha, yang terpenting lo harus kuat, kita yakin Shaheen pasti bakal sembuh!” ucap Alam.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFKAR
Teen FictionTerbit! TYPO BERTEBARAN DIMANA MANA! PASSWORD : FOLLOW DULU SEBELUM BACA, TERIMAKASIH. -Untuk senyuman yang menjadi duniaku- Tentang sebuah persembunyian geng motor yang tak terkalahkan, dinobatkan sebagai raja jalanan, membuat posisi itu banyak...
