Temaram merasakan badannya terasa berat, ia berusaha membuka matanya dengan kepala yang terasa pusing.
"Argh!" erangnya mendudukan tubuhnya, "Tempat apa ini?" lirihnya melihat ruangan itu, kotor dan gelap. "Kenapa gue ada disini?" tanyanya tak mengingat apapun.
"Sudah puas nona Temaram?" ujar seseorang menghampirinya.
"Lo?" Temaram terkejut saat melihat Rangga di sana, "Gimana lo menikmati permainan gue kan?" Temaram menatap tajam. Ia segera mengecek tubuhnya yang memang terasa sakit bahkan di area kewanitaannya.
"Brengsek lo apain gue sialan!" teriaknya deru nafasnya sudah memburu.
"Memenuhi nafsu lo yang nggak di penuhi oleh Afkar, baik kan gue?" kekehnya memandang remeh Temaram.
"GAK! ITU SEMUA GAK BENAR, GUE GAK SUDI BRENGSEK!" Temaram menangis sejadi-jadinya di sana.
"Selamat sebentar lagi lo akan menjadi ibu dari anak gue." Lanjutnya tersenyum picik.
"BRENGSEK LO RANGGA, GUE BENCI SAMA LO, GUE GAK SUDI MENGANDUNG ANAK LO SIALAN!" pekiknya mencakar semua badannya.
"Sudahi drama mu Merem!" oceh Restu yang sejak tadi menyaksikan, posisinya tengah bersandar di dinding dengan kedua tangan terlipat ke dada.
"Jangan munafik jadi cewek, lo yang minta jatah kan? Malah sok-sok an merasa jadi korban." Cibir Langit ikut jengah.
"Dimana Afkar hah? Gue cuma butuh Afkar." Teriaknya.
"Gue disini." Afkar muncul bersama Alam dan Bumi. Tak hanya Black Moon geng Devilsclub juga ada disana menertawai kondisi Temaram.
"Kak, tolong aku kak, mereka melukai aku." Adu Temaram. Namun Afkar hanya menatapnya tanpa ekspresi apapun.
"Kak kamu nggak ikut sama ide manusia biadab seperti mereka kan? Kamu gak mungkin merencanakan ini untuk aku kan?" Temaram menangis menatap Afkar.
"Gue gak bisa membela lo Ram, karena lo udah membahayakan cewek gue, lo juga udah bunuh tante Rinai."
"Membunuh?" ulang Temaram tak mengerti.
Semuanya berdecak kesal, "Udahlah gak usah ngeles." Sahut Dewa terkekeh.
"Lo ternyata ada hubungan dengan tante Rinai, dia mantan ibu tiri lo yang sangat lo benci." Ujar Afkar.
Temaram menggeleng, "Gak kak, bukan gue yang bunuh dia, gue memang benci sama dia tapi bukan aku yang bunuh dia." Membantah.
"Gak usah bohong Ram," sambung Parveen datang bersama Rindu dan Anne. "Gue dengar sendiri lo ngancam akan bunuh tante Rinai kalau dia gak mau memindahkan Shaheen ke luar negeri." jelas Parveen.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFKAR
Fiksi RemajaTerbit! TYPO BERTEBARAN DIMANA MANA! PASSWORD : FOLLOW DULU SEBELUM BACA, TERIMAKASIH. -Untuk senyuman yang menjadi duniaku- Tentang sebuah persembunyian geng motor yang tak terkalahkan, dinobatkan sebagai raja jalanan, membuat posisi itu banyak...
