Seluruh pasukan Black Moon sudah berangkat ke lokasi yang sudah di tentukan, puluhan motor ninja hitam berbondong-bondong melintasi jalanan yang masih ramai, namun melihat lajuan motor yang tak santai ditambah suara derungan motor mereka yang begitu menggema di area lalu lintas membuat para pengendara lainnya seakan memberi ruang dengan menepikan kendaraan mereka dipinggir jalan.
Sachio dan Vano ikut bergabung malam itu, mereka tanpa takut menawarkan diri untuk membantu Black Moon bertaruh.
Afkar sebagai ketua sudah memimpin pasukan paling depan, dengan kepala sudah diikat dengan slayer hitam campur putih, di belakangnya di dampingi oleh tiga motor anggota inti Black Moon. Disebelah kanan ada Bumi bersama Alam sisi kiri ada Langit dan Bromo, bagian tengah diisi oleh Restu dan Dewa. Ketiga motor itu dengan gagahnya mengibarkan bendera mereka berwarna dark dengan logo mahkota besi.
Beberapa masyarakat yang masih mengingat siapa mereka menatap dengan takut, sebagian ada yang bersorak ria karena sudah lama tidak melihat geng paling disegani di kota Jakarta.
“BLACK MOON!!” sorak Langit mengawali.
“BERKIRBAR SEMPURNA! KEKUATAN KAMI MENGGILA!!” sahut pasukan serentak.
“LOKASI SUDAH DEKAT!!” lanjut Bromo mengangkat tangannya ke atas, tanda siaga pertama untuk pasukan.
Sedangkan dari arah berlawanan, tampak rombongan yang didominasi dengan warna hitam bercampur biru juga bersorak ganas, Akhasa sebagai panglima yang sedang mengibarkan bendera kebanggaan geng mereka.
“DEVILS!!”
“SATU AKSI LUMPUHKAN LAWAN!” teriak anggota yang berjumlah 205 jiwa dengan semangat.
“Alastar sudah memimpin rombongan dengan wajah sangarnya.
Begitupun dengan gang Hugo, pasukan itu tampak dingin tanpa ada suara sorakan yang mengiringi, semuanya terlihat menakutkan. Namun jumlah bendera yang mereka miliki lebih banyak dari empat gang yang akan menjadi rivalnya.
“STOP!!” perintah Agarish mengangkat tangan kanannya, seluruh pasukan ME berhenti tepat di sebelah utara lapangan luas itu.
Pasukan Devilsclub juga sudah datang, mereka mengambil posisi arah Barat, tak lama satu pasukan dari Bandung yang di kenal sebagai Halilintar Gang, dipimpin oleh seorang pemuda bernama, Regino Brarzean. Mereka juga mengambil posisi bersebelahan dengan Devilsclub.
Hanya Black Moon yang belum stand by, selang beberapa menit akhirnya gang yang paling dinantikan oleh ketiga pasukan itu datang. Semuanya yang ada di sana terlihat Krasak krusuk saat suara motor pasukan Black Moon mulai dekat dengan lokasi.
Ada yang tersulut emosi, ada yang takut, ada yang penasaran, dan ada juga yang diam-diam mengidolakan pasukan yang jelas-jelas akan menjadi lawan mereka nantinya. Bahkan perasaan sebagiannya bukan seperti menunggu lawan melainkan sedang menunggu idola yang sudah lama mereka tunggu untuk bertemu secara langsung.
Black Moon mengambil posisi sebelah selatan, berhadapan dengan Hugo, hanya bagian tengah yang tersisa di area itu. Jika dihitung dari jumlah anggota, jelas Black Moon lah yang memiliki anggota paling sedikit. Mungkin sebagian geng akan cemas dengan itu tapi tidak untuk Black Moon, meski memiliki anggota paling sedikit kekuatan mereka melebihi dari pasukan yang berjumlah banyak, karena anggota BM bukanlah sembarangan orang yang bisa bergabung dengan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFKAR
Roman pour AdolescentsTerbit! TYPO BERTEBARAN DIMANA MANA! PASSWORD : FOLLOW DULU SEBELUM BACA, TERIMAKASIH. -Untuk senyuman yang menjadi duniaku- Tentang sebuah persembunyian geng motor yang tak terkalahkan, dinobatkan sebagai raja jalanan, membuat posisi itu banyak...
