AFK | JANGAN PERGI

4.5K 112 11
                                        

Setelah dari makam Zaskia, kini laki-laki berkemeja putih itu berada di makam Rinai, seperti ucapannya dengan seorang ustadz beberapa hari yang lalu, Afkar menepati janjinya, menikahi Shaheen.

Permintaannya tersebut sempat membuat Brams dan seluruh teman-temannya sedikit terkejut, selain mendadak situasinya juga kurang tepat, karena Shaheen masih dalam keadaan koma.

Namun, Afkar tetaplah sosok yang keras kepala, ia tidak mau menunda keinginannya, dan hari ini pernikahannya dengan sang kekasih akan terjadi di rumah sakit. Pernikahan ini hanya diketahui oleh teman-temannya dan orang tua mereka.

“Hari ini aku akan menepati janji aku sama bunda, Afkar akan menikahi putri bunda, walaupun Shaheen masih belum sadar, Afkar harap dengan terjadinya hubungan sakral kami bisa membuat Shaheen segera sadar, do’ain kita ya bunda. Semoga pernikahan ini bisa memulai kehidupan baru yang sejahtera untuk kami nanti.” Laki-laki itu menaburkan mawar putih di atas gundukan tanah itu.

“Afkar mohon izin dan restu dari bunda, Afkar janji akan selalu melindungi dan menjaga Shaheen.” Lanjutnya begitu tenang.

Tak lama deringan ponsel dari dalam sakunya terdengar, “Halo, Pah?”

Ustaz Aiman, sudah sampai dirumah sakit, Nak, cepatlah kesini.

“Baik, Pah. Afkar kesana sekarang.”

Afkar segera menutup panggilan itu, “Kalau gitu aku pamit dulu ya bunda, assalamu’alaikum.”

Hari ini akan menjadi hari terindah untuknya dan Shaheen, meski pernikahan ini tidak digelar dengan mewah, tapi niatnya dan tujuan lebih tulus dari itu.

Shaa.. Maaf ya, pernikahan kita harus berlangsung secara mendadak seperti ini. Maaf karena pernikahan mewah yang kamu idamkan tidak terjadi. Maaf karena Kakak menikahi kamu dalam keadaan sakit. Semua itu Kakak lakukan untuk kamu, supaya tanggung jawab Kakak sepenuhnya atas kamu, Kakak janji, setelah kamu sadar kita akan melakukan resepsi seperti yang kamu mau, tapi kamu harus janji juga.. Harus segera membuka mata kembali..

Tanpa sadar sekarang Afkar sudah berada di parkiran rumah sakit. Ia segera bergegas menuju ruangan Shaheen dirawat. Setibanya disana, ia terhenyak sesaat, Brams beserta teman-temannya menyambut kedatangannya dengan bahagia, mereka mengenakan pakaian persis seperti orang yang akan kondangan.

“Kenapa? Kaget karena gue tampan banget?” colos Restu mendekatinya.

“Sini, Nak.” Ujar Brams seraya membawa sebuah jas ditangannya.

“Pakai ini ya, ini adalah jas yang Papa pakai saat menikah dengan Mama mu dulu.” Brams memakaikan jas itu kepada putranya.“Kamu tampan sekali nak.” Lirihnya tersenyum.

“Aura calon manten memang beda yah.” Imbuh Dewa menimpali. Mengundang suara tawa dari orang-orang disana.

“Kar, gue senang dengan keputusan lo, ya walau sedikit mendadak, tapi gue cuma mau bilang, jadilah suami yang baik untuk Shaheen, jangan pernah menyakitinya, karena kalau lo sampai melukainya, kita yang akan memberi lo pelajaran!” Alam memeluk Afkar, suasana mendadak haru.

“Thanks, Lam. Kalian adalah saudara  gue, dan didepan orang tua kita, sebagai saudara kalian, gue janji sama kalian, jadi kalian gak usah khawatir, gue pasti menjaga Shaheen.”

“Makasih ya, Kak Afkar. Sudah mencintai sahabat gue dengan tulus, Shaheen pasti senang banget nanti,” ujar Rindu.

“Dan paling penting, dia pasti akan salbrut kalau dia bisa menyaksikan semua ini.” Sambung Parveen membuat mereka terkekeh.

“Selamat ya, Kar. Akhirnya lo benar-benar menemukan pelabuhan abadi untuk hidup lo.” Parveen mengulurkan tangannya.

“Makasih, Veen.”

“Om abis Afkar, nikahin Alastar juga ya!” Alastar menaik-naikkan kedua alisnya kepada Brams.

“Kamu udah ada calon emang?” goda Brams.

“Udah dong.”
“Assalamu’alaikum.” Ucap Anne yang baru saja datang bersama Sachio, Bromo dan Vano.

“Nah itu calonnya Om!” terang Alastar menunjuk Anne, perempuan itu terkejut saat semua pasang mata tertuju kearahnya.

“Kita mulai sekarang?” tanya pak ustadz Aiman menghentikan obrolan mereka.

“Baiklah,” Mereka mulai mendekati brankar Shaheen.

Sebelumnya Afkar kembali mendekat kearah telinga Shaheen.

“Shaa, sebentar lagi kita resmi jadi suami istri, kamu harus cepat bangun yaa.” Entah sudah berapa kali Afkar membisikkan kalimat itu kepada Shaheen, ia juga terus meminta izin untuk menikahi gadis itu.

“Bismillahirrahmanirrahim,” ucap sang Ustadz.

“Bismillahirrahmanirrahim,” jawab Afkar terasa gugup.

“Saudara Afkar, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri alm. Bapak. Arga Mahatma Huda yang bernama Shaheen Huda, dengan mahar seperangkat alat sholat, emas 150 gram beserta cincin berlian seharga 350 juta, dibayar tunai.”

“Saya terima nikah dan kawinnya Shaheen Huda, dengan mahar tersebut, tunai!”

“Bagaimana para saksi?”

“Sah...”

“Alhamdulillah..”

Ucapan syukur berdengung di ruangan itu, tanpa mereka sadari air mata Shaheen ikut meleleh membasahi telinganya. Seakan perasaan bahagia dan haru juga menyelimutinya.

“Shaa? Kamu nangis?” tanya Afkar menyadari.

“Kamu pasti bahagia ya Sha?” tanya Rindu yang kini sudah berlinang dengan air mata.

Sejak Shaheen masuk rumah sakit, gadis itu berubah menjadi sosok yang mudah menangisi tentang kondisi Shaheen. Tak lama detak jantung Shaheen kembali lemah membuat Afkar dan semua yang ada di sana kembali panik.

Tut..

Jari telunjuk Shaheen bergerak saat itu juga, “Jari Shaheen gerak?” lirih Bromo yang mengetahuinya.

“Panggil dokter.” Suruh Indra, ayah Alam ikut terkejut.

Afkar bergegas memanggil dokter, tak lama dokter Kafana datang dan mengecek kondisi Shaheen.

“Semuanya dimohon untuk keluar dulu.” Ujar seorang suster memerintah.

“Sha, kamu janji harus bangun.” Lirih Afkar sebelum keluar.

°•°•°

AFKAR Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang