Untuk senyuman yang menjadi duniaku
“
Pastikan seluruh senjata itu siap sebelum perang!” titah Agarish memerintah pasukannya.
Ia sudah mempersiapkan segala keperluan untuk rival nanti. Kali ini dia tidak main-main. Perang ini ia pastikan akan lebih ganas dari tragedi ‘Hujan Darah’ sepuluh tahun lalu.
Jika gagal, mereka akan mati bersama jika berhasil, hanya mereka yang akan selamat! Begitulah misi yang mereka pegang.
Agarish mengepal kuat tangannya, ingatannya kembali kepada kasus Temaram, saat ini adik perempuannya itu tengah menikam di penjara. Afkar dan teman-temannya sudah mempermainkan adiknya, pelecehan terhadap adiknya itu tidak akan dia terima begitu saja, Agarish akan membalaskan semua dendamnya secara tuntas walau nyawanya juga yang akan menjadi taruhannya.
°•°•°
“Sebentar lagi kalian akan UN, jadi bapak mohon kalian jangan menghabiskan waktu untuk bermain-main lagi, angkatan tahun kemarin berhasil meraih peringkat 1 dengan total nilai––“ prof. Anwar, selaku wali kelas 12 IPA satu itu dengan serius memberikan arahan kepada murid-muridnya.
Namun keempat laki-laki yang tengah berperang dengan pikiran masing-masing terlihat tidak fokus.
Ting!
Alam: Gue keluar duluan, Dewa dan Restu akan menyusul, setelah itu baru lo yang keluar!
Afkar: Ok!
Setelah mendapat balasan dari Afkar, Alam segera berdiri seraya mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
“Permisi, Pak. Izin ke toilet!” lirih Alam, setelah mendapat anggukan dari Anwar, laki-laki itu segera melangkah dan menatap sekilas kearah Afkar.
Segerombolan laki-laki yang berjumlah sekitar 120 anggota didepan bangunan tua yang telah menjadi tempat persembunyian mereka selama ini. Afkar memperhatikan teman-temannya yang tengah berlatih.
“BLACK MOON!!” teriak Afkar dengan gagah.
“BANTAI, LINDUNGI, AKHIRI!!” sorak mereka begitu menggema.
Seluruh pasukan Black Moon sudah berhasil berkumpul sesuai kesepakatan mereka beberapa hari yang lalu. Selain kembali memperkuat tali persaudaraan, saat ini mereka juga akan menyusun strategi untuk pertempuran yang akan terjadi beberapa hari lagi.
Afkar dengan gagahnya memberi arahan kepada seluruh anggotanya, kali ini berkemungkinan besar perang mereka akan lebih sadis dari tawuran tiga tahun lalu, karena kali ini Hugo geng yang kembali di pimpin oleh Agarish pasti sudah menyiapkan banyak hal untuk menghancurkan mereka, mengingat banyak kasus yang membuat ketua Hugo itu semakin dirundung rasa dendam.
“Kar, pastikan semuanya aman. Kita tidak boleh lalai satu saja, supaya ke fokusan kita tidak terpecah saat perang nanti!” peringat Bumi, memastikan apakah Afkar sudah benar-benar teliti dengan semua rencananya.
“Yang sangat penting cewek lo sih, bos!” tambah Restu.
Afkar mengangguk setuju, dia kembali mengingat semua strategi yang ia susun, semuanya sudah terlihat sempurna menurutnya namun, ada satu hal yang sedikit membuatnya ragu, yaitu Shaheen, gadis itu tidak boleh tahu tentang pertempuran ini.
Afkar meraih benda pipih miliknya dan mencari kontak seseorang disana. Afkar menelpon Shaheen, beberapa hari ini gadis itu sama sekali tidak menampakkan diri, rasa rindu dan khawatir semakin membuat Afkar gelisah.
Tut.. Tut.. Tut.. Nomer yang anda hubungi sedang sibuk! Cobalah beberapa saat lagi.
Afkar terkejut, Shaheen me-rijec panggilannya. Setelah keluar dari rumah sakit Shaheen langsung menjauhi Afkar kembali,karena gadis itu masih marah atas foto yang di kirimkan Temaram kepadanya, untuk saat ini lebih baik Shaheen membencinya. Itu akan membuat Afkar legah, setidaknya gadis itu pasti berusaha menghindar dan menjauhi segala hal yang berhubungan dengannya.
Maaf Shaa...
°•°•°
Shaheen melempar asal ponsel milik Onvhy, saat ini dia memang memindahkan SIM card nya ke handphone Onvhy, karena ponselnya sudah hancur akibat amukannya kemaren.
“Arrrghh! Ngapain sih nelfon lagi! Lo pikir gue bakal luluh setelah semuanya yang lo lakuin?” teriaknya dengan frustasi.
“Gue benci sama lo Afkar!!” lirihnya kembali bersedih.
Shaheen tengah berada di taman depan Asrama, seluruh anak asrama tengah mengadakan gotong royong. Shaheen mendudukkan tubuhnya kekursi besi yang ada disana, tubuhnya kembali lemah setelah mendapat telfon dari laki-laki yang masih menjadi lukanya.
“Kenapa lo tega khianatin gue Kak?” suaranya terdengar serak, bayangan foto mereka yang tengah tidur bersama selalu menghantuinya.
“Lo gak boleh hadir lagi di hidup gue, Kak! Semua tentang lo harus punah di hidup gue!” lirihnya dengan lesu, air mata tanpa sengaja keluar begitu saja.
°•°•°
KAMU SEDANG MEMBACA
AFKAR
TeenfikceTerbit! TYPO BERTEBARAN DIMANA MANA! PASSWORD : FOLLOW DULU SEBELUM BACA, TERIMAKASIH. -Untuk senyuman yang menjadi duniaku- Tentang sebuah persembunyian geng motor yang tak terkalahkan, dinobatkan sebagai raja jalanan, membuat posisi itu banyak...
