Firni

2.9K 356 72
                                        

Disclaimer : Cerita ini adalah fiksi dan murni dari fikiran penulis. Seluruh adegan dan pemeran disesuaikan dengan kebutuhan penulis. Credits untuk seluruh gambar yang digunakan dari Pinterest.

 Don't forget to VoMent
Happy Reading!!!

Chery mengikuti Liam yang berjalan di lebih dulu sambil menyeret kopernya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Chery mengikuti Liam yang berjalan di lebih dulu sambil menyeret kopernya. Mereka baru saja sampai di komplek apartemen Liam karena Chery akan tinggal untuk beberapa hari kedepan.

Di sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak bicara. Liam hanya sesekali bicara ketika mengingatkan Chery untuk memakai seatbelt, dan ketika menanyakan apakah Chery butuh mampir untuk membeli sesuatu sebelum mereka sampai.

Unit Liam tidak jauh dari lift. Setelah membuka pintu apartemennya pria itu menoleh, mengisyaratkan pada Chery untuk masuk lebih dulu sebelum akhirnya mengikuti dari belakang. Liam meninggalkan koper dan backpack milik Chery di pojokan dekat nakas, lalu berjalan menghampiri Chery yang hanya mematung. Berdiri di ambang ruang tengah.

Melihat Chery yang terlihat gamang, Liam mendekat lalu memeluk tubuh kecil itu dari belakang. Ia menyusupkan wajahnya, menghirup dalam-dalam aroma pada ceruk lehernya.

"Saya sedih liat kamu berusaha terlihat kuat seperti ini. Kamu bahkan belum ngomong apapun sama saya setelah kita keluar dari Kalingga." lirih Liam. Membiarkan Chery mengatur napasnya.

"I'm sorry, Mas. Tapi rasanya capek banget sampai nggak mood buat ngomong. But I'm okay, serius." suara kekehan Chery membuat kerut pada dahi Liam tercipta lebih dalam. Tanpa memaksa, ia membalik tubuh Chery dan melingkarkan kembali tangannya pada pinggang ramping kekasihnya. Menarik tubuh mendekat hingga napas mereka berbenturan.

"You're not okay, love. You're not okay and that's fine. Rasanya lebih masuk akal kalau sekarang kamu nangis daripada pura-pura kuat begini. Ada saya, sayang. Jangan malah berpikir untuk nangis sembunyi-sembunyi tanpa saya. You have me." belaian pada pipinya membuat dada Chery berdebar kuat. Rasa sedih yang ia tekan sejak tadi kini memberontak seolah gerah bersembunyi. Berusaha untuk keluar minta dimenangkan.

Raut wajahnya berubah. Matanya terpejam dengan bibir bawah yang tetap bergetar walaupun sudah ia gigit untuk menahan. Liam berusaha menenangkan tapi disaat yang sama, ia memilih untuk membiarkan. Ia akan lebih suka jika Chery terbuka dengan emosinya daripada menyembunyikan. Ia lebih suka jika Chery menyemburkan seluruh perasaan yang sejak tadi ia tahan, bersamanya.

"Sssuustt." bisiknya berulang dengan satu tangan yang mengusap naik turun pada bahu hingga lengan bagian atas Chery. Satu tangan lagi Liam bawa naik, untuk melerai gigitan Chery pada bibirnya. Lalu ketika sebuah isakan lepas dari bibir merah Chery, Liam langsung membawa tubuh kecil yang sedang gemetar itu ke dalam pelukannya.

Cherry On TopCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang