Disclaimer : Cerita ini adalah fiksi dan murni dari fikiran penulis. Seluruh adegan dan pemerandisesuaikan dengan kebutuhan penulis. Credits untuk seluruh gambar yang digunakan dari Pinterest.
Don't forget to VoMent Happy Reading!!!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Surprise." balas Liam tak kalah datar dan membuat Chery menjadi satu-satunya pihak yang tegang sekarang. Liam menggenggam tangan Chery dan membawanya duduk bersebelahan tepat di hadapan Nathan yang juga ikut duduk kembali. Sementara Chery memandang bingung karena interaksi keduanya.
"Ck ini mah bukan love bombing. Emang pelakunya aja newbie. Nggak ngerti cara pacaran tuh harusnya pelan-pelan."
"Lo kenal sama Mas Liam?" Nathan langsung memandang jijik pada adiknya.
"Sopan banget lo manggil dia Mas." sementara Liam diam saja. Dirinya sudah menahan rindunya berhari-hari. Tapi mengingat sifat Nathan, pembicaraan mereka mungkin tak akan memakan waktu yang sebentar.
"Mas kenal sama Nathan?" Liam membalas tatapan kebingungan Chery. Ia tersenyum tipis sebelum akhirnya mengangguk.
"Kenal sejak 5 tahun lalu. Tapi saya nggak pernah tahu kalau adiknya Nathan itu kamu, sampai kita ketemu waktu audisi." Chery menarik tangannya yang terus menerus dimainkan oleh Liam, mengacuhkan tatapan protes dari Liam yang kehilangan mainannya.
"Kenal di Lombok. Papa also knew him. Waktu pertama kali buka Rumah Kain Liam ngirim proposal kerjasama buat dapet modal. Ke Papa salah satunya. Dari situ kita jadi lumayan deket karena bisnis."
"Lo tahu tentang Rumah Kain?" Nathan mengangguk santai.
"We're friends, babe. Orang-orang yang kerja di bidang kuliner memang circle-nya nggak jauh-jauh." kata Liam menimpali. Ia kembali meraih tangan Chery untuk digenggam.
"Jadi, kalian rekan bisnis atau temen?"
"Ck, iya temen, elah." kata Nathan akhirnya. Berbeda dengan Nathan yang keliatan jengkel, Liam malah terlihat berseri-seri sambil terus menatap sisi wajah Chery. Tangannya tidak bisa diam sejak tadi. Entah untuk memainkan tangan Chery, memainkan rambut Chery atau bahkan mengelus-elus pipi gadis itu.
Melihatnya, Nathan dibuat semakin jengah dan tidak betah. Niatnya ia akan memberi ospek pada kekasih Chery sampai gemetar. Tapi tanpa diduga, kekasih Chery adalah kenalannya sendiri. Orang yang ia tahu tidak akan mengindahkan ucapannya agar tidak menyentuh-nyentuh adiknya, apalagi Chery tidak terlihat keberatan.
Dengan ide yang baru saja mampir di otaknya, senyum jail tiba-tiba muncul di wajah Nathan. Ia berdehem lalu menyandarkan punggungnya dengan nyaman.
"Ngomong-ngomong Cher, lo udah dihubungin sama Malvin?" Chery langsung menatap Nathan dengan tatapan horor. Mulut kakaknya itu memang harusnya dibungkam dengan cara bar-bar. Tidak cukup hanya dengan diberi ancaman dan peringatan.