Kue Pukis

3.2K 300 121
                                        

Disclaimer : Cerita ini adalah fiksi dan murni dari fikiran penulis. Seluruh adegan dan pemeran disesuaikan dengan kebutuhan penulis. Credits untuk seluruh gambar yang digunakan diambil dari Pinterest.

Don't forget to VoMent
Happy Reading!!!

Don't forget to VoMentHappy Reading!!!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Perpisahan memang tidak pernah mudah. Kadang dalam penantiannya, orang yang meninggalkan dan ditinggalkan akan mudah merasa sedih, bahkan sampai tidak napsu makan. Dan hari ini, si pengantin baru akan berpisah.

Liam dan Chery sudah ada di Bandara Soekarno-Hatta, bahkan sejak matahari belum naik. Mereka menunggu panggilan boarding di sebuah lounge tak jauh dari check in area. Keduanya sama-sama terlihat berat meninggalkan. Chery juga mendadak berat hati, karena melihat Liam yang terus menggenggam tangannya seolah tidak melepaskan.

"Mas jangan lemes gitu dong." kata Chery sambil terus mengusap sisi wajah Liam yang bersandar padanya.

"Saya mau ditinggal istri, sebulan. Gimana caranya biar saya nggak lemas?"

"Tapi kan dua hari ini kita quality time. Mas sampai nggak ke resto buat nengokin Lucas sama Mark."

"But you'll leave for a whole month."

"I'll be back soon. Lagipula habis ini jadwal kamu padet, nggak akan terasa kok kalau aku nggak ada."

"Ha ha, good jokes." Liam terkekeh sarkas. Tangannya yang melintang di balik punggung Chery semakin menarik tubuh itu mendekat. Napasnya terdengar berat, menggambarkan bagaimana kalut perasaannya saat itu.

Setelah hampir satu jam menunggu, Liam akhirnya harus benar-benar melepaskan Chery ketika waktu check-in yang tersisa semakin sedikit. Keduanya berdiri di dekat line check-in, sambil mempersiapkan mental sebelum benar-benar berpisah di hari ke-14 usia pernikahan mereka.

"Don't forget to always answer my call and reply to my text. Jangan kelaparan disana. Jangan kedinginan, jangan sakit, jangan susah dihubungi. Jangan lupa untuk terus update, apapun itu saya mau tahu. Kabarin setiap kamu mau pergi kemanapun. Kirimi saya foto setiap hari. Jangan bikin saya khawatir." Chery mengangguk patuh, dengan wajah yang masih Liam tangkup dan tatap dalam-dalam.

Suaminya itu lalu menghela nafas sebelum menyatukan kedua kening mereka sambil memejamkan mata.

"Jangan lupa sama saya." lirihnya membuat Chery mengulum senyum. Liam terlihat berlebihan, tapi menggemaskan disaat yang sama. Ekspresi khawatirnya lebih terlihat seperti seorang ayah yang akan melepas anaknya ke medan perang.

"Jangan lupa kalau kamu sudah punya suami yang akan selalu tunggu kamu di rumah. Pulang, oke?" Chery akhirnya tersenyum lebar sebelum kembali mengangguk.

Cherry On TopCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang