Pajeon

2.4K 354 35
                                        

Disclaimer : Cerita ini adalah fiksi dan murni dari fikiran penulis. Seluruh adegan dan pemeran disesuaikan dengan kebutuhan penulis. Credits untuk seluruh gambar yang digunakan diambil dari Pinterest.

Don't forget to VoMent
Happy Reading!!!

Don't forget to VoMentHappy Reading!!!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Sorry, telat. Laporannya udah gue kirim ke email. Coba lo cek, udah masuk belum?"

"Sudah." kata Liam. Matanya fokus menatap layar laptop. "Mana laporan lo yang lain?" tanyanya sambil menggeser laptopnya ke samping. Minta dibukakan laporan lainnya.

"Ck, buru-buru banget. Lo ngga mau nyobain menu best seller kita dulu? Atau basa-basi kek, cerita soal kesan lo tinggal di Jakarta. Udah mau sebulan kan?" kata Lucas. Sepupu sekaligus orang yang Liam percayai untuk mengurus restorannya yang berada di daerah selatan Jakarta.

"Gak ada. Now, laporan lo, Lucas!"

"Ck, dasar artis. Buru-buru banget, sok sibuk." walaupun menggerutu, Lucas tetap membuka file yang Liam minta. Ia menggeser lagi laptopnya hingga ke hadapan Liam.

Tatapan Liam semakin serius mengamati satu persatu angka yang ada di laporan Lucas. Keningnya mengerut dan mengurai, terus berulang beberapa kali ketika ia membaca dan mengetik sesuatu disana. Membuat Lucas gugup. Padahal laporannya sudah benar.

"Dibanding bulan lalu, pemasukan bulan ini turun 3%?" Lucas menggaruk bagian belakang kepalanya. Sementara wajah Liam semakin terlihat tidak enak, dengan kedua alis yang menukik ketika beralih pada bagian grafik evaluasi kepuasan pelanggan. "Ini juga, kenapa kepuasan pelanggan nggak pernah nyentuh 90%? Paling mentok 87%. Sisanya kemana? Dimana yang missed? Sudah dicari tahu belum, aspek yang jadi masalah?"

"Satu-satu, Bos." Lucas menarik napasnya panjang-panjang, sebelum memulai pembelaannya. "Bagian pemasukan turun kan memang karena bulan ini ada hari libur beberapa hari, buat renovasi toilet belakang. Otomatis, jumlah pelanggannya berkurang. Kalau soal kepuasan pelanggan, ini tuh gara-gara kemarin resto kita sempat viral. Jadi banyak pengunjung baru yang kepo doang. Biasa, protes katanya harga makanan kita kemahalan." Liam tak menanggapi Lucas, tapi ia tetap mencatat itu sebagai bahan evaluasinya.

"Bulan depan gue mau penjualan kita naik, bisa? Kira-kira inovasi apa yang bisa kita buat?" Tanya Liam serius.

"Buat naikin penjualan, gimana kalau kita renovasi halaman belakang? Kita tebang pohon gede yang ada di tengah, terus bikin area outdoor yang lebih luas." kata Lucas dengan nada yang ragu-ragu, dan membuat Liam mengangkat alisnya menunggu lanjutannya.

"Banyak yang tertarik buat mampir kesini karna review kita di internet bagus. Apalagi tim marketing kita aktif di sosial media. Tapi tempat kita nggak terlalu besar buat nampung semua permintaan. Mau nerapin waiting list, juga nggak wise. Masa orang mau nongkrong sambil minum santai, kita buru-buru."

Cherry On TopTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang