Aglio E Olio

3.1K 376 84
                                        

Disclaimer : Cerita ini adalah fiksi dan murni dari fikiran penulis. Seluruh adegan dan pemeran disesuaikan dengan kebutuhan penulis. Credits untuk seluruh gambar yang digunakan dari Pinterest.

Don't forget to VoMent
Happy Reading!!!

Hari terakhir Chery di Gili Air, ia habiskan dengan berkeliling Rumah Kain

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari terakhir Chery di Gili Air, ia habiskan dengan berkeliling Rumah Kain. Ia bangun lebih siang dari biasanya dan mendapati kamar yang ia tempati sudah kosong. Tanpa Liam yang semalaman menemaninya.

Semalam, ia tidak bisa langsung tidur. Liam yang menyadarinya pun akhirnya ikut terjaga dan mereka berakhir berbincang panjang dengan kondisi yang lebih tenang. Tanpa Liam yang mencoba untuk menggodanya lebih jauh. Tanpa Liam yang mengungkit lagi kesalahpahaman yang sempat membuat Chery hiperbola dengan pernyataan cintanya. Mereka pun baru tidur setelah suara beberapa pekerja terdengar lewat, tanda bahwa ikan tangkapan para nelayan yang melaut malam sudah datang.

Kini, Chery sedang memperhatikan demo masak yang diadakan di aula, bersama Juwi, salah satu karyawan yang membantu Gendis mengurus galeri. Pesertanya kebanyakan turis mancanegara. Sekalinya ada orang Indonesia, hanya guide yang memang rutin membawa turis.

"Kenapa bukan Mas Liam aja yang demo Wi?" Juwi terkekeh mendengar nada canggung Chery saat menyebut nama Liam. Karena takut diadukan pada Gendis, Chery jadi harus memanggil Liam dengan panggilan Mas jika di depan orang lain.

Hanya untuk formalitas, dan hanya saat pria itu tidak ada.

"Dari dulu, Mas Liam memang ndak pernah pegang demo, Mbak. Sejak ada programnya, demo memang biasa dikerjakan Pak Anas atau Pak Putu."

"Alasannya?" Juwi menggeleng.

"Ndak tahu. Tapi kalau kata Ibu, Mas Liam ndak mau. Ndak bakal bisa juga, Mas Liam sabar mengajar masak ke pengunjung yang hampir semuanya amatir. Yang ada, mereka diteriaki karena salah ambil rimpang."

Chery tertawa membayangkan Liam mengajar masak sambil marah-marah. Iya juga, mana bisa Liam jadi seperti Pak Anas yang sedang demo di depan sana. Yang dengan sabar mendatangi satu persatu peserta demo sambil menebar senyuman lebar, lalu menjelaskan pelan-pelan bedanya kencur dan jahe. Liam terlalu tidak sabar dan memang lebih baik ditempatkan di dapur yang tertutup dari mata-mata yang lemah jantung.

Puas melihat kegiatan demo yang masih berlangsung, langkah mereka bergeser ke sisi lain Rumah Kain. Sisi yang agak jauh dari keramaian, dan menghadap langsung ke arah pantai.

Sejak Chery bangun pukul 7.30 dan hingga sampai pukul 10 kini, ia hanya bertemu Liam sekali karena pria itu sibuk. Kata Juwi, Liam sedang sibuk memberi arahan kepada pihak perwakilan resto, pengurus Rumah Kain dan juga galeri sebelum kembali ke Jakarta.

Mendengar banyaknya pekerjaan yang harus Liam lakukan membuat Chery meringis. Jika tahu pria itu akan sibuk, seharusnya semalam mereka tidak bicara sampai hampir pagi.

Cherry On TopTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang