Disclaimer : Cerita ini adalah fiksi dan murni dari fikiran penulis. Seluruh adegan dan pemerandisesuaikan dengan kebutuhan penulis. Credits untuk seluruh gambar yang digunakan dari Pinterest.
Don't forget to VoMent Happy Reading!!!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Beberapa saat setelah panggilan aneh bin ajaib itu keluar dari bilah bibirnya, Chery tak henti memasang senyum kaku,karena Gendis terus melihatnya dengan tatapan berseri-seri. "Pinter. Dibiasakan ya, biar tidak canggung lagi." kepalanya dibelai seiring pujian itu dilontarkan.
"Yuk, Ibu kasih liat koleksi kain baru yang belum dipajang." Lalu sepanjang wisata galeri Rumah Kain yang berlangsung hampir 1 jam itu, Chery hanya bergerak pasrah ketika ditarik kesana-kemari oleh Gendis. Dengan semangat 45, Gendis menjelaskan setiap kain yang ada. Baik yang dipajang, maupun yang disimpan untuk pameran selanjutnya. Mulai dari asalnya, model dan pola motifnya, lalu siapa yang mengerjakan dan berapa lama pengerjaannya.
Respon Chery yang lama kelamaan kembali santai dan bisa mengimbangi Gendis pun membuat paruh baya itu semakin kesenangan. Sampai-sampai Chery didandani dengan sebuah kain yang katanya memiliki motif paling populer.
"Nah, cantik sekali. Cocok sama warna kulit Chery. Aduh, Ibu jadi tidak mau Chery pulang. Chery senang disini, nak?" tanya Gendis sambil mengelus lengan Chery.
"Seneng, Bu. Tapi sayang, saya cuma bisa dua hari disini karena masih banyak kegiatan di Jakarta."
"Tidak apa-apa. Kalau nanti ada waktu, Chery boleh mampir lagi. Sering-sering juga tidak apa-apa. Tidak harus sama Mas Liam. Anak itu selalu sibuk. Kalau nunggu dia, yang ada kamu nggak akan mampir lagi sampai tahun depan." Chery terkekeh. Gendis sangat ramah padanya. Berbeda dengan anaknya yang menyebalkan.
"Cher, let's go." Gendis mendelik pada Liam yang tiba-tiba datang dan malah akan membawa Chery pergi.
"Mau dibawa kemana Chery nya?"
"Lihat sunset, Bu. Sekalian nemenin Chery hunting foto. Dibawa ke tempatnya Pak Nyoman, pasti kesenengan dia." Gendis terlihat berat hati untuk melepas tangan Chery. Tapi ia mengalah. Lagipula ia sudah bilang, akan membantu putranya mensukseskan hubungannya dengan Chery.
"Yasudah, tapi dijagain loh ya Chery nya. Ambil sisi yang tidak terlalu ramai ya Mas."
"Iya Bu, Mas pamit. Ayo Cher."
"Chery pamit ya Bu." Gendis mengangguk sambil tersenyum keibuan.
"Iya, hati-hati. Cubit aja Mas Liam nya kalau kamu dijahilin." Chery terkekeh lagi sebelum menyusul Liam. Mereka berboncengan lagi, menikmati udara Gili Air yang sudah agak teduh. Tak sampai 10 menit, Liam akhirnya berbelok pada sebuah gapura bambu yang ternyata adalah pintu masuk sebuah resort.