Episode 42

758 86 2
                                        

~Happy Reading~

Aletta dan Alvaro langsung masuk ke ruang osis. Terlihat Zean yang seperti nya habis menerima telepon.

"Kak ini balon nya di kemanain?" Tanya Aletta.

"Kamu kasih aja ke kak Nathan, kakak mau ambil dompet kakak dulu di rumah"

"Lah dompet kakak ketinggalan?"

"Iya hehehe"

"Kenapa tadi gak bilang di telepon kak? Kan bisa aku bawain"

"Ya kakak kira udah kebawa, ternyata belum" Zean nyengir.

"Yaudah deh bawa dulu sana"

"Oh iya kak Nathan nya dimana kak?" Tanya Alvaro.

"Di aula mungkin"

"Hm kalau gitu kita kesana ya kak" pamit Alvaro lalu melangkahkan kakinya ke aula.

Setelah mereka menjauh, Zean tersenyum miring dan pergi ke belakang sekolah untuk mengambil motornya.

Saat sampai di motornya, Zean langsung memakai masker, topi dan sarung tangan lalu pergi meninggalkan area sekolah.

Sementara di aula, Aletta, Serli, Indri, Arabella dan Senja sedang meniupi balon dan para cowok cowok sedang memasang balon di aula.

"Balon nya kurang gak? Kalau kurang gue beli lagi" Tanya Senja.

"Kayaknya kurang deh, kurang 4 plastik lagi Ja" jawab Erik.

"Tapi mendingan beli 9 plastik dulu deh kak. Tiga plastik balon warna putih, tiga plastik balon warna emas dan tiga plastik balon warna item" usul Aletta.

"Nah boleh tuh" sahut Erik.

"Oke gue beli dulu"

"Uangnya?"

"Udah pake uang gue dulu" ujar Senja seraya keluar dari aula.

Sambil menunggu balon yang di beli Senja, Alvaro, Dafisan, Nathan dan Erik memasang lampu tumbler nya dengan di bantu Aletta, Serli dan Indri.

Setelah memasang lampu tumbler, mereka kembali memeriksa buku yang tadi Arabella data dan menentukan jam tampil mereka.

★★★

Zean memasuki gedung itu dengan santai dan tenang untuk menemui Olivia, Febby dan Alisya.

"Hai bitch. Apa kabar?" Sapa Zean lembut.

Olivia diam saja karena mulut nya masih di lakban.

Ya jadi mereka bertiga masih di sekap oleh Zean di gedung yang sudah terbengkalai dan jauh dari jalan raya.

Orang tua mereka juga sudah mencari cari mereka namun hasilnya nihil mereka tak kunjung bertemu dengan anak anaknya.

"Emph emph" Olivia memberontak meminta untuk di lepas lakban nya.

"Kenapa? Lo mau ngomong apa hm?" Tanya Zean seraya mencabut lakban nya dengan kasar.

"Lepasin kita!" Teriak Olivia.

"Oke, gue bakal lepasin lo bertiga. Tapi ada syarat nya." Ujar Zean.

"Apaan?"

"Kalian jangan bilang kalau gue yang culik kalian, atau kalian bakal mati di tangan gue" Zean menyeringai.

"I-iya gue gak bakal bi-bilang. Gue jan-janji" ujar Febby terbata.

Tiada Tara (End) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang