Bab 2

19.3K 1K 14
                                        

"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" Wina yang pertama kali bertanya pada dokter Romli begitu bertemu dokter yang merawat Dewa.

"Kami sudah berhasil menghentikan pendarahannya, Bu. Dan mengeluarkan gumpalan darah di otaknya. Tapi terus terang, keadaannya masih mengkhawatirkan."

"Anak saya baik-baik saja kan, Dok? Kami boleh menjenguknya?" Bram yang berdiri di samping istrinya ikut buka suara.

"Pasien masih belum sadar, masih terlalu dini untuk mengetahui perkembangannya. Tapi kami terus memonitor keadaannya."

"Kami hanya ingin melihatnya, Dok. Sebentar saja. Hanya ingin memastikan keadaannya baik-baik saja. Dari luar juga tidak masalah," ucap Wina. Melihat raut wanita berusia hampir enam puluhan itu, dokter Romli mengangguk.

Dewa memang masih dirawat di ruang ICU, tapi dengan kaca tembus pandang. Meski belum ada yang diperbolehkan masuk menjenguk, tidak apa jika melihat dari luar jendela. Asal jangan berisik. Karena pasien di rumah sakit ini butuh ketenangan.

Pak Solihin yang sedari tadi mendampingi suami istri itu sejak turun dari pesawat cuma bisa mengekori dari belakang. Ia tidak menyangka bila nomor telpon yang ia hubungi ternyata nomor telpon ibu Pak Dewa. Dan yang sekarang datang bahkan orang tuanya. Bukan istrinya.

Ke mana istri Pak Dewa? Apa wanita itu tidak datang padahal tahu suaminya sedang kritis? Tidak tahu selamat atau tidak. Mustahil sebagai istri tidak peduli dengan keadaan suaminya sendiri. Namun meski begitu, ia tidak berkata apa-apa. Buat apa? Ia cuma bawahan. Apa haknya ikut campur pada urusan majikannya? Apalagi orang kaya seperti mereka, yang tidak bisa disinggung. Dia masih butuh pekerjaannya!

Dari luar ruang ICU, Wina bisa melihat keadaan putra semata wayangnya. Yang kini terbaring tak berdaya dengan bantuan berbagai instrumen alat di tubuhnya. Dari semenjak operasi, Dewa belum sadar. Ia masih koma. Dan dokter masih memantaunya 24 jam. Meski begitu harus ada orang yang menjaga Dewa di luar ruangan, karena biasanya segala sesuatu yang terjadi di ruang ICU membutuhkan keputusan yang cepat. Keputusan yang biasanya membutuhkan persetujuan keluarga.

Karena itu sebelum Wina dan suaminya datang, Pak Solihin, Rahmat dan Firman bergantian menunggui Dewa di luar ruangan. Dan saat Pak Solihin menjemput keluarga Pak Dewa di Bandara, maka Pak Rahmat yang menunggui Dewa.

Wina menangis terisak-isak begitu melihat keadaan Dewa, suaminya berusaha menenangkan. Tadi di dalam mobil, Pak Solihin sempat bercerita mengenai kecelakaan yang menimpa Dewa. Ternyata itu kecelakaan tunggal, mobil yang dikendarai Dewa selip ban dan menabrak pohon dengan keras. Mungkin untuk menghindari terjun ke dalam jurang hingga Dewa memilih menabrakan mobilnya ke pohon. Tapi ternyata tidak menghalangi luka parah yang dialami Dewa.

Dewa berada di Malang untuk urusan proyek barunya. Ia berinvestasi pada sebuah lahan untuk pembuatan tempat wisata berbentuk resort di daerah Batu Malang. Bukan cuma resort tapi juga taman bermain.

Wina tidak mengerti kenapa Dewa ingin berinvestasi di Malang. Padahal bisnis resortnya di Bali sudah sangat menguntungkan. Mungkin ia memiliki pertimbangan lain mengingat Malang juga daerah wisata yang cukup menjanjikan.

Tapi siapa sangka, baru seminggu meninjau proyek di Malang, Dewa sudah mengalami musibah. Kecelakaan mobil yang nyaris merenggut nyawanya. Menurut Solihin, manager proyek yang juga anak buah Dewa, jalan yang dilalui Dewa memang cukup terjal. Dengan tebing dan jurang curam. Pengendara mobil harus hati-hati, apalagi kondisi habis hujan.

Dewa sebenarnya punya supir selama di Malang ini. Supirnya Pak Solihin tapi dipekerjakan pada Dewa selama bos besar ada di Malang. Tapi entah kenapa hari itu Dewa nekat mau menyetir mobil sendiri, padahal belum hapal medan jalan. Untung saja orang tua Pak bos tidak menyalahkan mereka. Karena memang murni kecelakaan.

"Apa kita perlu mengabari Priscila?" Bram bertanya hati-hati pada istrinya yang langsung disambut pelototan sang istri.

"Buat apa mengabari perempuan itu? Mereka sudah bercerai! Sudah tidak ada urusan lagi! Tidak ada gunanya mengabari perempuan itu. Dewa juga gak bakal mau ketemu mantan istrinya itu kalau nanti dia sadar!"

Mendengar jawaban istrinya Bram langsung diam. Lelaki itu memang selalu kalah bila di depan istrinya. Cuma bisa mengalah dan diam. Mungkin karena sadar diri atau rasa mindernya. Sadar kalau yang kaya itu istrinya. Sedang dia sendiri tidak punya apa-apa!

*****

"Kamu tahu, Ning. Pasien yang baru masuk itu, yang sedang dirawat di ICU. Wong sugih dari Jakarta. Bos besar. Dengar-dengar keluarganya datang ke Malang ini naik private jet. Pesawat jet pribadi."

"Sopo jenenge, Mbak Ut?"

"Dewa. Wong e guanteng, Ning. Sudah kaya, sugih tenanan. Sing dadi bojo ne yo beruntung iku."

Larasati yang baru saja masuk ke kamar jaganya mendengar pembicaraan kedua rekannya. Nining dan Mbak Uut. Hari ini ia dinas siang. Dan balik lagi ke tempat tugasnya dinas di bangsal umum.

Tempo hari ia cuma diminta dokter Hartoyo untuk jaga di UGD, menggantikan tugas suster Dina yang cuti. Karena sekarang Dina sudah masuk, ia kembali lagi dinas di bangsal umum.

"Benaran mbak Laras, pasien yang namanya Pak Dewa itu orang kaya? Punya pesawat pribadi? Dan orangnya juga ganteng?" Nining yang melihat Larasati baru datang langsung bertanya. Ia termasuk perawat muda dan single di rumah sakit ini. Begitu mendengar ada pasien ganteng, langsung semangat.

Maklum jarang-jarang kan ada pasien ganteng dan masih muda. Kaya lagi. Baru dua hari dirawat, sepertinya kehadiran Dewa sudah menjadi berita utama di antara para perawat muda dan dokter wanita yang masih single.

Larasati sendiri tidak peduli. Sampai sekarang ia belum melihat Dewa lagi. Buat apa? Dia kan gak tugas di ICU. Kalau sudah sadar, Dewa juga paling di tempati di bangsal VVIP. Tidak mungkin di bangsal umum kelas tiga tempat ia bertugas sekarang.

"Nggak tahu, Ning. Katanya sih iya."

"Ganteng, mbak?"

"Emm ... ya mungkin."

"Lho, bukannya kamu yang hari itu tugas di IGD, Ras? Masa gak tahu info pasien yang bernama Pak Dewa itu. Memang kamu gak lihat wajahnya yang ganteng?"

"Waktu itu wajahnya berlumuran darah, Mbak. Aku gak lihat jelas. Memang Mbak Uut juga udah lihat kayak apa tampangnya?" Larasati balik bertanya.

"Nggak sih. Cuma dengar dari temanku, iku loh si Ambar. Yang jaga di ICU. Katanya Pak Dewa juga sudah sadar, dan sekarang masih dirawat di ruang VVIP. Perawat yang tugas di bangsal VIP pada rebutan jaga di kamar pasien itu. Katanya gantengnya sudah kayak bintang film."

"Kalaupun gantengnya kayak bintang film terus kenapa? Pastilah dia juga sudah nikah, Mbak. Sudah punya istri dan anak," ucap Larasati yang ucapannya seperti menyadarkan keduanya dari mimpi. "Jadi ngapain ribut-ribut soal pasien ganteng dan kaya? Orang kaya, standar untuk perempuannya juga pasti tinggi, Mbak."

"Iya juga ya. Cuma penasaran aja sih, Mbak Ras. Seganteng apa pasien itu. Kayaknya konglomerat ya, Mbak."

Larasati cuma angkat bahu. Ia sengaja berbohong bila tidak terlalu memperhatikan wajah Dewa. Padahal, siapa yang bisa lupa wajah yang kerap menghantuinya selama enam belas tahun ini?

Dewa bukan orang asing baginya. Bahkan saat ini, ia sudah memiliki seorang anak bersama Dewa. Anak lelaki bernama Arfa yang usianya kini sudah lima belas tahun. Anak yang tidak diketahui Dewa kehadirannya dan tidak ingin diketahui Dewa. Larasati bersumpah, ia akan tetap menyembunyikan kehadiran Arfa dari Dewa. Dan juga tidak ingin bertemu pria itu lagi. Sampai ia mati!

Lembayung di ujung SenjaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang