Bab 35

9.8K 676 22
                                        

Untuk sementara tidak ada jadwal update dulu ya teman- teman.

***

"Untuk apa perempuan itu datang menemuimu lagi, Dew? Apa uang tunjangan bulanan yang kamu berikan padanya masih kurang? Jadi dia berani-beraninya menemuimu lagi?"

Entah dari mana ibunya mendengar mengenai kedatangan Priscila. Hingga hari ini ibunya sengaja datang ke apartemen Dewa untuk menanyakan kebenaran kabar itu.

Mungkin ada mata-mata dari pihak ibunya yang ditempatkan di samping Dewa, atau mungkin juga insting seorang ibu yang tajam. Yang pasti, Wina sudah mengetahui kabar itu dan sekarang sedang duduk berhadapan dengan Dewa di ruang tamu apartemennya. Memulai interogasinya.

Untung saja saat ini Laras dan Arfa sedang keluar, Arfa minta diantar ke toko buku. Dan hanya mau ditemani Laras. Hingga kedatangan ibunya tidak sampai menimbulkan badai. Dewa sudah bisa membayangkan, bila ibunya bertemu Laras dan Arfa. Mungkin bakal ada 'perang' lagi.

Mengingat sikap Wina yang sama sekali tidak menyembunyikan ketidak sukaannya pada Laras. Atau sikap Arfa sendiri yang juga sama menunjukkan rasa tidak sukanya pada neneknya.

Jangankan pada Wina yang notabene neneknya, bahkan pada Dewa yang ayah kandungnya saja Arfa terang-terangan tidak suka. Bahkan sampai detik ini, ia masih memanggil Dewa dengan sebutan Om. Padahal apa susahnya sih memanggil dirinya ayah?

Terkadang Dewa suka bingung sendiri, ia kaya. Uangnya banyak dan bisa memberikan apa saja untuk anaknya. Seharusnya sikap Arfa lebih baik padanya atau 'menjilat' ayah kandungnya yang kaya raya ini. Agar kelak Dewa akan mewariskan semua hartanya pada Arfa. Toh, Arfa anak kandungnya. Dan cuma satu-satunya anak yang ia miliki.

Tapi apa kenyataannya? Sikap Arfa malah sebaliknya. Jangankan menjilat ayah kandungnya sendiri, berakrab-akrab ria pun dia ogah. Seakan di kening Dewa ada tulisan, virus berbahaya. Yang mesti dijauhi.

Dewa sudah mencoba mendekati Arfa melalui Laras. Tapi hasilnya sama saja. Sikap Laras padanya juga tidak berbeda jauh dengan Arfa. Seakan Dewa benar-benar orang lain di matanya. Ia bahkan memanggil Dewa dengan embel-embel tuan, di depan namanya. Terutama bila ada orang lain. Contohnya saat kunjungan ke kamar praktek dokter Askar.

Laras benar-benar menempatkan dirinya sebagai seorang perawat Dewa, yang hanya bekerja padanya. Dan Dewa juga merasakan rasa tidak nyaman Laras padanya bila mereka hanya berada berdua dalam satu ruangan.

"Laras pernah mendapat perawatan psikiater karena trauma dan depresi yang dia alami, Dew. Apalagi saat itu dia sedang hamil. Dan sekarang elu dengan tidak punya hatinya malah mempekerjakan dia sebagai perawat pribadi lu? Di mana hati nurani lu berada? Apa lu tau, korban pelecehan dan pemerkosaan seharusnya tidak usah dipertemukan lagi dengan si pelaku. Karena dikhawatirkan bisa kembali menimbulkan trauma untuk sang korban!"

Dewa teringat ucapan Melky saat ia meminta tolong pada sahabatnya itu untuk menyelidiki masa lalu Laras. Terutama apa yang terjadi enam belas tahun yang lalu setelah kejadian itu.

Dan ternyata Laras sempat trauma dan depresi, hingga memerlukan perawatan seorang psikiater. Tentu saja biaya untuk pengobatannya tidak sedikit. Dan karena saat itu Laras sedang mengandung Arfa, ia juga tidak bisa minum sembarangan obat yang bisa membahayakan anak dalam kandungannya.

Dewa juga sempat mengetahui, untuk pengobatan Laras. Keluarganya terpaksa harus menjual kebun dan sawah peninggalan ibunya. Hal ini sempat menimbulkan setitik penyesalan di hati Dewa.

Lembayung di ujung SenjaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang