I'm back ... Bagaimana kabar kalian teman-teman? Sudah selesai liburannya? Atau ada yang masih menikmati hari libur? Di Jakarta sudah mulai masuk sekolah, padahal yang di daerah masih libur. Sedih ...😔😔😔. Gak apa-apalah, semangat!!!
****
Bagaimana mungkin Dewa tidak menyadari bila Larasati memang sengaja menghindarinya? Jelas-jelas Larasati sudah menyadari kehadiran Dewa yang berstatus pasien di rumah sakit ini. Apalagi Dewa juga tahu bila kehadirannya banyak menarik kaum hawa yang masih lajang.
Tidak perawat, tidak dokter. Semua yang berjenis kelamin perempuan mendadak bersikap ramah padanya. Berlomba menarik perhatiannya, seperti yang dicoba tarik perhatiannya tertarik saja.
Bagi Dewa yang terbiasa menjadi orang yang suka mengontrol orang lain dan menggunakan kekuasaannya untuk membuat seseorang takluk padanya, bukan perkara sulit untuk membuat Larasati bekerja padanya. Memang apa yang bisa diperbuat perempuan dusun tanpa uang dan kekuasaan yang dimilikinya?
Karena itu ketika Larasati muncul di hadapannya, dalam rupa perempuan dewasa yang menarik. Mau tidak mau Dewa sedikit tercengang. Bayangan perempuan kampung lugu yang dulu selalu memandangnya dengan malu-malu, penuh kekaguman dan bercampur rasa takut tidak lagi dilihatnya.
Larasati muncul dihadapannya sebagai wanita penuh rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi.
Tentu saja Dewa tidak tahu bila sebenarnya Larasati tidak setegar itu. Masih ada rasa takut saat harus berhadapan dengan Dewa. Jantungnya berdebar kencang, keringat dingin membasahi punggungnya. Tapi ia berhasil menyembunyikan rasa gugup dan takutnya dengan sangat baik, hingga yang terlihat cuma ketenangan dipermukaan.
Tidak sia-sia Laras berteman dengan seorang psikolog. Yang mengajarinya bersikap tenang dihadapan orang yang sudah bersikap buruk padanya, membantunya melewati segala kesulitan disaat ia dalam keadaan paling terpuruk dalam hidupnya.
Padahal melihat pria ini saja, Laras sudah nyaris pingsan karena kaget dan shock! Kalau bisa ia ingin lari saja, menghindar, bersembunyi. Tapi itu semua sia-sia.
Kini orang yang tidak ingin ditemuinya sedang duduk di ranjang rumah sakit, hanya berjarak beberapa langkah darinya. Dewa sedang diperiksa dokter Kemala ketika Laras muncul di bangsalnya. Untuk beberapa saat perhatian Dewa tidak tertuju padanya, melainkan pada dokter cantik dihadapannya ini.
"Kondisi Pak Dewa sudah stabil, hanya tinggal pemulihan kakinya saja. Tapi untuk kebaikan Pak Dewa, saya rasa dua atau tiga hari lagi Pak Dewa sudah bisa keluar dari rumah sakit ini."
"Saya mau besok sudah keluar dari sini, dok. Saya sudah tidak betah lama-lama di rumah sakit!"
"Tapi pak ... "
Dewa mengangkat tangannya sebagai tanda ia tidak mau dibantah. Dan dokter Kemala langsung menutup mulutnya. Kalau direktur rumah sakit saja begitu menghormati Dewa. Lalu apa kedudukannya bila ia berani membantah hak istimewa yang dimiliki Dewa di rumah sakit ini?
"Lagi pula, saya sudah memiliki perawat pribadi yang cukup profesional untuk merawat saya di rumah." Dewa mengalihkan pandangannya pada Larasati yang selama ini cuma jadi patung bisu. Dan saat itulah semua yang ada di ruangan ini menyadari kehadiran Larasati.
Dokter Kemala menatap Larasati heran, jadi ini perawat yang diminta langsung oleh direktur untuk merawat Dewa. Apa istimewanya perawat ini hingga diantara sekian banyak perawat yang ada di rumah sakit ini justru perempuan ini yang mendapat keberuntungan itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembayung di ujung Senja
RomansaBagi Dewa Putra Bramasta, Larasati adalah serangga pengganggu. Kehadiran gadis itu sama buruknya dengan ibunya yang tanpa malu merayu kakeknya demi harta. Karena itu ia melakukan berbagai cara untuk membuat gadis itu menderita. Membully, melecehkan...
