Kekasih? Mendadak terlintas di benak Dewa, foto yang ditunjukkan oleh Melky padanya tempo hari. Foto Larasati yang sedang bersama seorang pria berambut kelimis yang tidak terlalu diperhatikannya.
Jadi pria itu benar kekasih Larasati? Sudah berapa lama mereka berhubungan? Ah, kenapa mendadak hatinya merasa tidak senang mendengar bila Larasati sudah memiliki kekasih? Tapi benarkah pria itu kekasihnya? Atau cuma sekedar teman dekat? Atau cuma omong kosong Arfa yang diucapkannya karena menolak ikut dengannya ke Jakarta?
Lalu kenapa bila pria itu sungguh kekasih Larasati? Kenapa ia harus merasa tidak suka? Larasati perempuan bebas, single dan juga cukup cantik. Wajar bukan bila ia sudah memiliki kekasih. Apalagi usianya sudah kepala tiga. Apa selamanya harus hidup sendirian?
Meski Larasati tidak secantik mantan istrinya Priscilla. Atau seseksi Tamara yang pernah jadi pacar terlamanya, tapi harus Dewa akui Larasati cukup menarik. Tubuhnya langsing. Pinggangnya ramping dan belum ada satu kerutanpun di wajahnya. Jika orang tidak tahu mungkin akan mengira Larasati anak gadis berusia dua puluh lima tahun. Bukan perempuan usia kepala tiga yang sudah punya anak remaja!
"Oh, kalau Suster Laras sih memang cukup terkenal di rumah sakit ini." Dewa teringat ucapan dokter Kemala, dokter perempuan yang merawat kakinya pasca operasi. Katanya sih Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi. Tapi duileh dandanannya, cukup menor untuk seorang Dokter Spesialis yang sibuk dengan bejibun pasiennya.
Lipstiknya merah menyala, rambutnya ditata ikal. Dan bulu matanya ... apa benar itu bulu mata asli? Kenapa bisa sepanjang dan selentik itu? Tingkahnya juga agak genit, senang sekali cari-cari perhatian Dewa. Apa dengan semua pria ganteng dan masih lajang dia segenit itu? Atau mungkin hanya dengan Dewa saja sikapnya mendadak genit seperti itu?
Tapi yang pasti, Dewa pusing mencium bau parfumnya yang menurutnya sangat berlebihan. Bila dokter Kemala sudah pergi, seluruh bangsal berbau parfum miliknya. Bikin mual, bikin kepala pusing. Membuat Dewa menyuruh asistennya untuk membuka jendela di ruangannya lebar-lebar. Agar bau parfumnya hilang.
Sayang sekali di rumah sakit itu cuma dia satu-satunya Dokter Spesialis Ortopedi. Hingga Dewa harus tahan mati-matian dengan kejengkelannya. Coba saja kalau nanti dia sudah resmi menjadi pemilik rumah sakit ini. Mungkin akan digantinya perempuan ini dengan dokter lain. Yang tidak genit, tidak berdandan menor dan yang pasti yang wangi parfumnya tidak menyengat.
"Dia dekat dengan dokter Kresna. Dari bagian neurologi. Mungkin mereka memiliki hubungan spesial. Tapi saya tidak tahu pasti, saya tidak terlalu suka bergosip. Apalagi mencampuri urusan pribadi orang."
Lalu apa namanya kau mengatakan hal ini padaku? Maki Dewa jengkel. Kalau bukan sedang menyebar gosip?
Tapi Dewa tidak peduli dengan berita itu. Menurutnya bukan urusannya Larasati mau berhubungan dengan pria manapun. Atau punya suami sekalipun. Memang apa pedulinya?
Sampai hari itu, ketika untuk pertama kalinya Dewa kembali bertemu dengan Larasati. Ketika untuk pertama kalinya perempuan itu memasuki ruangannya.
Sikap angkuhnya, acuh tak acuhnya membuat Dewa semakin tertantang untuk menaklukannya. Untuk membuat perempuan itu patuh padanya, tidak membangkangnya lagi.
Mungkin aku memang 'sakit', pikir Dewa teringat ucapan sahabatnya, Melky. Obsesiku pada Larasati bukan sesuatu yang wajar. Keinginanku untuk menaklukannya membuatku gila dan dipenuhi ambisi untuk memiliki perempuan itu. Sesuatu yang tidak pernah ia miliki pada perempuan-perempuan lainnya.
Padahal apa istimewanya perempuan itu? Ia cuma perempuan biasa, meski cukup manis tapi kecantikkan yang ia miliki tidak seluar biasa perempuan-perempuan lain yang pernah ditemui Dewa. Terlalu sederhana bila disejajarkan dengan perempuan-perempuan teman kencan Dewa sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembayung di ujung Senja
RomanceBagi Dewa Putra Bramasta, Larasati adalah serangga pengganggu. Kehadiran gadis itu sama buruknya dengan ibunya yang tanpa malu merayu kakeknya demi harta. Karena itu ia melakukan berbagai cara untuk membuat gadis itu menderita. Membully, melecehkan...
