"Kenapa kamu gak berobat di Singapura saja, Wa? Kita minta surat rekomendasi untuk kamu biar bisa dirawat di rumah sakit di Singapura sana."
"Nggak perlu." Dewa yang sedang memeriksa berkas-berkas penting perusahaannya, di atas ranjang rumah sakit cuma menjawab pendek usul ibunya tanpa mengalihkan perhatian dari sana.
Sudah hampir satu minggu lebih ia dirawat di rumah saki ini. Kondisinya sudah membaik, trauma di kepalanya sudah tidak mengkhawatirkan. Hanya retak tulang kakinya yang masih membuatnya tidak bisa beraktifitas seperti biasa.
Tapi itu bukan masalah. Dalam beberapa bulan lagi, ia sudah akan bisa berjalan normal kembali. Ia masih bisa melaksanakan pekerjaannya dari rumah sakit. Ada asisten pribadinya, Andika yang bisa diperintahnya bolak-balik Jakarta-Malang bila ada dokumen penting yang tidak bisa ditunda.
Selebihnya ia bisa melakukan dan memeriksa laporan anak buahnya lewat email. Dan tetap berkomunikasi dengan Rizka, direktur eksekutif yang bekerja padanya dan cukup bisa diandalkan. Perusahaan juga berjalan seperti biasa, meski bos besar mereka masih dirawat pasca kecelakaan yang menimpanya.
Karena kondisinya yang tidak lagi mengkhawatirkan dan kesembuhannya yang cepat dan luar biasa. Untuk apa berobat ke luar negeri? Cuma buang-buang uang.
Tapi sebenarnya ada alasan kenapa Dewa menolak dipindahkan ke rumah sakit di Jakarta atau luar negeri. Ia belum menemukan Larasati!
Saat dua hari yang lalu Melky menjenguknya di rumah sakit, temannya itu menunjukan foto yang diambilnya diam-diam ketika bertemu perempuan yang sangat mirip Larasati.
Dan Dewa tahu, perempuan itu bukan mirip Larasati. Tapi perempuan itu memang Larasati! Meski perempuan itu terlihat banyak berubah, tapi tetap saja Dewa akan selalu mengenalinya.
Meski ia sendiri heran. Biasanya ia selalu tidak peduli dan cepat melupakan perempuan yang menjadi teman kencannya. Tapi terhadap Larasati kenapa berbeda? Karena dia perempuan kampung? Karena ia perempuan yang paling dibencinya? Entahlah.
Tapi Dewa memang bertekad untuk menemukan wanita itu. Ingin melihat seperti apa ekspresi perempuan itu bila ia tiba-tiba muncul di hadapannya. Kaget? Takut? Atau mungkin penuh amarah dan kebencian? Apapun ekspresi yang akan ditunjukan Larasati, Dewa sungguh sangat ingin menemukan perempuan itu. Rasanya akan sangat memuaskan egonya, melihat perempuan itu lagi dalam hidupnya.
Untung saja cuma ponselnya yang hancur, tapi kartu SIM telponnya tidak. Hingga nomor Melky masih tersimpan aman di ponselnya, jadi ia bisa menghubungi Melky. Dan untungnya Melky belum pulang ke Jakarta. Jadi mereka bisa bertemu.
"Waktu lu gak dateng ke tempat pertemuan kita, gue pikir elu udah gak tertarik dengan berita yang gue bawa. Siapa sangka ternyata Tuan Dewa yang terhormat mengalami kecelakaan? Sampai gak bisa jalan begini." Ada nada geli dalam suara Melky melihat kondisi temannya itu. Dewa cuma mendengkus, tahu bila Melky sedang meledeknya. "Ini gak cacat permanen kan? Elu masih bisa jalan kan, Wa?"
"Apa lu pikir gue bakal cacat seumur hidup? Ini cuma retak tulang, bego. Empat atau lima bulan lagi juga bakal sembuh."
Melky tertawa kecil mendengarnya. "Tebak. Kemarin gue ketemu lagi sama perempuan yang mirip Laras itu. Kali ini di mal. Malang Town Square, waktu gue lagi makan sama cem-ceman gue. Dia gak sendiri, sama cowok. Eh, bentar. Gue sempet foto. Candid sih. Tapi lumayanlah hasilnya, gak burem. Ponsel gue kan mahal."
Dewa melirik Melky yang di matanya seperti orang tidak punya otak. Apa harus disebutkan harga ponselnya hanya karena berhasil mengambil foto candid seseorang? Tapi diambilnya juga ponsel yang disodorkan Melky. Dan matanya mengamati foto candid yang diambil temannya itu.
Itu memang Laras. Tapi dia tidak sendiri. Melainkan bersama seorang pria kelimis yang jauh dari kata keren di mata Dewa. Tapi Dewa tidak tertarik mengamati pria yang bersama Larasati. Matanya serius melihat wajah Laras di foto itu.
Larasati terlihat sedang berbicara dengan pria di depannya. Tersenyum kecil dan terlihat ceria. Dewa ingat, Larasati memiliki lesung pipit di kedua pipinya yang cukup dalam. Bila tersenyum atau tertawa, maka lesung pipinya akan terlihat jelas. Menambah kemanisan wajahnya.
Yah ... Larasati memang tidak memiliki kecantikan luar biasa seperti perempuan-perempuan cantik yang selama ini dilihat Dewa. Kecantikannya bahkan kalah jauh bila dibandingkan Priscila, mantan istrinya itu.
Tapi harus diakui, Larasati memiliki wajah yang manis. Terutama senyumnya dan lesung pipitnya itu. Bila ia tersenyum, siapapun yang melihat bakal terpana. Seperti pertama kali Dewa bertemu dengannya, sebelum akhirnya sadar dan tahu bila gadis itu anak dari perempuan yang dibencinya.
Meski tidak secantik bidadari, meski tidak secantik bintang film. Tapi wajah Larasati tidak membosankan untuk dilihat. Semakin dilihat, semakin manis dan memikat jadinya.
"Sudah, jangan kelamaan dilihat. Ntar kangen." Lagi-lagi suara Melky yang menyebalkan terdengar. Dewa melemparkan ponsel di tangannya yang segera ditangkap Melky dengan gusar. Sialan Dewa, nyaris saja ponselnya jatuh berkeping-keping. Dasar teman gak tahu diri! Tapi meski begitu, mulutnya sudah gatal ingin bertanya. "Gimana? Perempuan ini ... "
"Itu dia." Dewa cepat memotong pertanyaan Melky. "Itu Laras."
"Hah? Beneran? Gila! Enam belas tahun ... "
Dewa tidak menanggapi. Untung saja orang tuanya sudah balik ke hotel. Mereka langsung pergi begitu Melky datang. Mumpung ada orang yang menemani Dewa, jadi mereka manfaatkan untuk balik ke hotel. Istirahat.
Kalau ibunya ada dan tahu Melky datang dengan info tentang Larasati. Wah, bisa ngamuk beliau. Dewa sendiri tidak takut dengan kemarahan Wina, dia sudah dewasa. Siapa yang berani memarahinya? Dia cuma tidak ingin membuat keributan di rumah sakit dan mengusik ketenangan pribadinya dengan ocehan ibunya, yang membuat sakit kepala.
Apalagi bila ibunya tahu, alasan Dewa tidak mau pulang ke Jakarta karena masih penasaran untuk mencari Larasati. Sudah gila mungkin dia.
Dewa sendiri curiga ada yang salah dengan otaknya. Kenapa kalau menyangkut Larasati, dia selalu kehilangan akal sehatnya? Kewarasannya?
"Ada info yang lebih menarik lagi, Wa. Elu pasti tertarik."
"Apa?"
"Tapi ini gak gratis. Ada harganya."
"Sebutin. Apa ada di dunia ini yang gak bisa gue beli pakai uang?"
Ada. Larasati. Dewa menjawab dalam hati, meski berusaha menyangkalnya.
"Dua tiket ke Maldive plus akomodasi hotel dan uang saku."
"Oke. Asal info lu sepadan sama bayarannya."
Melky menyeringai penuh kemenangan. "Elu tahu, Wa. Sebenarnya ... Larasati bekerja di rumah sakit ini."
Dan reaksi Dewa seperti yang Melky duga. Membuat senyumnya semakin lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembayung di ujung Senja
RomanceBagi Dewa Putra Bramasta, Larasati adalah serangga pengganggu. Kehadiran gadis itu sama buruknya dengan ibunya yang tanpa malu merayu kakeknya demi harta. Karena itu ia melakukan berbagai cara untuk membuat gadis itu menderita. Membully, melecehkan...
