Bab 39

8.7K 677 66
                                        

"Tapi saya mengerti. Lelaki seperti Dewa ... memang tidak akan pernah setia pada satu wanita. Terlalu banyak perempuan di sekelilingnya yang mencoba menggodanya. Dan sialnya bagi saya, Dewa pria yang mudah tergoda.

"Saat ini kamu mungkin menjadi favoritnya. Dia memilihmu dari sekian banyak perempuan di dekatnya. Menyimpanmu di sisinya. Tapi kamu jangan pernah merasa bangga, jika dia bosan bermain denganmu. Dewa bakal membuangmu seperti boneka usang. Tapi kamu beruntung, kamu memiliki anak dengannya. Dengan begitu ada kesempatan bagimu untuk menikmati kekayaan yang dia miliki."

"Kalau anda datang menemui saya hanya untuk melontarkan hinaan. Maaf, saya tidak ada waktu untuk meladeni. Lagi pula
Saya tidak mengerti apa yang anda tuduhkan pada saya. Karena saya bukan 'simpanan' siapa-siapa." Laras menatap Priscila dingin. Tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan perempuan ini padanya.

"Apa kamu mau membantah bila Arfa bukan anak Dewa? Bila bukan hasil dari hubungan kalian berdua?"

"Hubungan apa yang anda maksud? Dari mana anda mendapat informasi yang tidak relevan mengenai saya? Apa anda berpikir anak usia enam belas tahun bisa menjadi simpanan lelaki berusia sembilan belas tahun?" Rasanya kesabaran Laras sudah habis.

"Yah ... saya juga mendengar kamu melahirkan anak itu diusia ketujuh belas. Setelah Dewa 'memaksa' kamu melakukan itu. Hanya saja ... kadang apa yang kita dengar tidak sesuai dengan realitanya. Saya agak sangsi jika rumor yang saya dengar itu benar. Ditilik dari paras dan status sosial kamu, apa memang Dewa memperkosamu? Bukan hubungan yang didasari suka sama suka?" Sebelah alis Priscila naik, menatap tajam Laras yang kini wajahnya sudah berubah pucat di depannya.

Ia menikmati setiap perubahan yang dilihatnya di wajah Laras. Rasa marah, malu dan terhina terlihat jelas di wajah Laras. Tangannya bahkan mengepal dengan erat.

Kata-kata yang dilontarkan perempuan ini sangat kejam, pikir Laras menahan gejolak emosi di hatinya. Setiap kata yang ia keluarkan, disengaja menikam jantungnya.

"Saya pikir akan lebih masuk akal bila kamu yang merayunya. Ups, kamu jangan marah Laras. Bagaimanapun, semua orang akan berpikir sama seperti saya. Dewa kaya dan tampan, dia tidak pernah kekurangan wanita yang memujanya. Jadi tidak masuk akal bila dia tertarik untuk 'menyentuh' perempuan sekelas kamu."

"Dewa memang tampan dan kaya. Dan tidak kekurangan apapun. Ia cuma kurang memiliki moral yang baik!" Laras berdiri dari duduknya dan hendak melangkah pergi. Sejak ia bertemu kembali dengan Dewa, entah berapa banyak sudah ucapan hinaan yang diterimanya. Ucapan yang dilontarkan dengan rasa ketidak percayaan bila Dewa bisa berbuat sebejat itu padanya.

Sungguh miris, korban di sini adalah dirinya. Dan pelakunya adalah Dewa. Tapi kenapa seolah-olah di mata orang lain, dirinyalah pelaku yang sebenarnya? Kenapa justru dia yang dituduh merayu Dewa? Seakan kejadian itu terjadi karena ia yang memberi peluang dan kesempatan pada Dewa untuk berbuat itu padanya.

Dan mirisnya lagi, ketidak percayaan itu, hinaan itu dilontarkan oleh Wina dan Priscila. Dua orang perempuan yang notabene adalah kaumnya sendiri. Meski itu bisa dimaklumi, karena yang satu adalah ibu kandung Dewa dan satunya lagi mantan istri.

Jika Wina membela Dewa mati-matian, itu bisa dimaklumi. Karena ia ibu kandung Dewa. Seorang ibu yang terkadang menjadi 'buta' dan 'tuli' bila menyangkut perilaku tak bermoral anaknya. Seorang ibu yang dibutakan oleh cinta dan kasih sayangnya yang teramat besar pada anaknya.

Lalu Priscila ... apa ia menganggap Laras sebagai saingannya hingga bersikap seperti ini padanya? Benarkah aku bisa dianggap saingannya, padahal segala yang ada di diri kami berdua begitu berbeda. Alangkah lucunya! Pikir Laras.

"Kamu harus menjauh dari Dewa! Bawa pergi anak kamu dan diri kamu darinya. Pergi sejauh mungkin darinya!" Priscila berseru tertahan ketika di lihatnya Laras akan melangkah pergi. Laras yang mendengar itu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Priscila.

"Kenapa? Kenapa kamu ingin saya dan anak saya pergi dari sini? Menjauh dari Dewa?"

"Karena saya tidak ingin Dewa memberikan semua hartanya untuk anak kamu!"

"Apa itu yang ada dipikiran kamu? Kalau saya menginginkan bagian dari harta Dewa?"

"Apa lagi? Jangan munafik! Saya sangat tahu pikiran kotor perempuan miskin macam kamu! Merayu Dewa, menjebak dia dan memiliki anak darinya. Semua itu karena kamu ingin bagian dari hartanya kan? Siapa di dunia ini orang yang tidak tergiur akan uang? Apalagi bila itu mudah di dapat hanya dengan rayuan. Dan saya tidak mengerti kenapa Dewa bisa terbuai rayuanmu!"

"Nah tanyalah padanya, jangan tanya saya."

"Ada apa ini? Dua perempuan ular berkumpul bersama?" Tiba-tiba saja suara seorang wanita menyela perdebatan mereka. Laras dan Priscila langsung terdiam.

Wina Windhunoto sudah berdiri di hadapan mereka berdua. Mendadak Laras sakit kepala melihat kemunculan perempuan tua itu. Satu Priscila sudah sulit di hadapi. Sekarang ditambah kemunculan Wina. Laras benar-benar menyesal tidak memakai mobil pribadi yang tadi ditawari Dewa!

** Mohon doanya teman-teman. Tgl 26 nanti saya harus periksa penyakit saya ke dokter. Dan semoga hasilnya tidak buruk dan di luar prediksi saya. Semoga juga saya tidak harus masuk kamar operasi. Aamiin. Terima kasih.

Lembayung di ujung SenjaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang