Bab 6

15.2K 823 11
                                        

Hai, man teman. Kunjungi juga akun saya di KaryaKarsa ya. Biar saya makin semangat update tiap hari.

Di KK, Sweet Leo tiga bab lagi tamat( saya buat 3 bab dalam satu langsung) harganya 3000.

Saat cinta harus memilih tamat di KK. Love is Blue extra chapter finish, Serenada Biru finish. Yang on going: You are ( 1 bab lagi ). Dalam peluk cintamu dan satu lagi segenggam cinta(free).

Terima kasih untuk semua dukungan kalian di KK. Arigato. ( Eykabinaya )

*****

"Dengar, Win. Papi ngomong mau nikah sama Astuti bukan minta izinmu. Papi bilang karena bulan depan Papi mau kawin sama Astuti." Nada suara Pak Windhu dingin. Ia tidak senang dengan reaksi anaknya yang menurutnya tidak patut.

"Secepat itu?" Belalak Wina kaget. Tidak menyangka ayahnya bakal tetap nekat meski sudah mendapat tentangan darinya.

"Kenapa? Bukankah lebih cepat lebih baik? Berapa lama lagi kamu pikir Tuhan bakal kasih Papi umur panjang untuk menikmati hidup?"

"Lalu kenapa Papi harus nikah lagi? Papi sudah punya cucu! Punya segalanya! Apalagi yang Papi belum peroleh dalam hidup Papi?"

"Papi ingin punya istri, Win. Merasakan lagi menjadi seorang suami. Bukan cuma menjadi seorang ayah dan kakek!"

"Itu namanya gak tahu diri, Pi!" Seru Wina sengit. Geram bukan main melihat kekeras kepalaan ayahnya. "Papi mau nikahin perempuan yang usianya dua kali lipat lebih muda dari Papi. Apa Papi gak malu jadi omongan orang? Berapa lama Astuti bakal tahan jadi perawat Papi?"

"Ngapain dengerin omongan orang, kita makan gak minta sama mereka kok. Lagi pula apa itu penting?"

"Tentu saja itu penting, Pi! Apalagi kalau yang diinginkannya cuma harta Papi!"

"Lalu apa salahnya?" Pak Windhu bertanya datar. "Harta Papi sangat banyak untuk dibagi kalian berdua."

Suara sendok yang dibanting keras ke atas piring membungkam mulut Wina, yang hendak beradu argumen lagi dengan ayahnya.

Dia pikir ayahnya yang melakukan itu. Tapi saat mendengar suara kursi digeser kasar di depannya. Wina baru tahu kegaduhan itu dibuat oleh Dewa.

"Dewa! Mau ke mana kamu?" Seru Wina melihat putranya berdiri dari duduknya.

"Sekolah."

"Sarapanmu belum habis."

"Sudah kenyang. Mendengar pertengkaran kalian bikin selera makan hilang!" Lalu tanpa pamitan lagi, Dewa segera ngeloyor pergi dari ruang makan. Tidak dipedulikannya teriakan ibunya yang memanggil namanya. Atau tatapan tajam dari kakeknya.

"Lihat anak kamu. Itu hasil didikkan darimu? Tidak ada sopan santunnya sama orang tua!" Pak Windhu gatal untuk tidak mengkritik anaknya pedas. Sudah lama ia tidak puas dengan kelakuan cucunya itu. Yang suka berbuat seenaknya. Itu semua karena selalu dimanja ibunya! Sering dibela kalau salah. Jadi kelakuannya minus. "Pergi begitu saja tanpa pamitan atau ngucap salam!"

"Papi jangan nyalahin Dewa. Biasanya dia berkelakuan sopan. Dewa itu anak baik, Pi. Mungkin dia begitu karena malu mendengar kakeknya mau kawin lagi."

"Anak baik? Mana ada anak baik yang telinga kirinya ditindik dan pakai anting-anting? Apa di sekolahnya tidak dilarang? Apa dia krisis identitas? Bingung mau jadi anak cowok atau cewek!"

"Itu namanya mode, Pi."

"Sejak kapan pakai anting-anting buat cowok jadi mode? Kalau ada karyawan papi yang modelannya kayak Dewa. Sudah Papi pecat. Kamu jangan selalu memanjakan anakmu, Win. Sebagai seorang ibu, kamu harus mendidiknya dengan baik. Jangan semuanya dibiarkan saja. Dewa harus diajari, mana yang baik dan buruk. Dia sudah besar."

"Dewa itu cucu Papi satu-satunya. Tega Papi ngatain cucu sendiri kayak gitu?"

"Kalau Papi nikah dan punya anak lagi, yakin kamu Dewa bakal jadi satu-satunya cucu Papi?"

"Pokoknya Wina gak akan setuju Papi kawin lagi! Apalagi sama Astuti yang cuma pembantu!"

"Kamu jangan suka merendahkan orang, Win. Meski cuma pembantu, tapi dia lebih tahu etiket dan sopan santun dari kamu!"

"Tapi saya gak sudi punya ibu tiri yang seorang pembantu!"

"Itu urusan kamu! Kalau kamu keberatan Papi menikah lagi dengan Astuti. Kamu bisa pergi dari rumah ini. Papi akan belikan kamu rumah baru untuk tempat tinggalmu dan keluargamu! Papi tahu, tanpa uang Papi kamu gak bisa apa-apa. Apalagi dengan suami yang gak berguna!"

Bram yang sedang mengunyah makanannya nyaris tersedak. Sedangkan Wina menahan geram di dada. Dari dulu, ayahnya memang tidak suka dengan suaminya. Kerap menghina dan menyindir Bram di depannya.

Dan Bram biasanya diam saja. Dia tahu dengan jelas rasa tidak suka ayah mertuanya yang menganggapnya cuma benalu. Menikahi Wina karena hartanya. Cuma memanfaatkan wajah gantengnya untuk menikahi perempuan kaya bodoh seperti Wina. Bahkan sudah hamil sebelum lulus kuliah!

Jabatan dan pekerjaannya di kantor saat ini juga berkat ayah mertuanya yang punya perusahaan. Bram memang tidak  punya apa-apa!

Tanpa mereka sadari, Dewa ternyata belum pergi jauh dari situ. Ia berdiri bersandar di dinding pembatas antara ruang makan dan ruang tengah. Hingga bisa mendengar dengan jelas semua ucapan kakeknya. Amarah dan kebencian di hatinya berkobar. Demi perempuan itu, kakeknya bahkan tidak segan mengusir anak dan cucunya.

Dengan ekspresi dingin dan gigi terkatup rapat, Dewa melangkah pergi begitu saja.

Lembayung di ujung SenjaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang