Perempuan ini ... selalu seperti ini. Keras kepala dan selalu menentangnya. Bahkan setelah enam belas tahun tidak bertemu, sifatnya masih saja sama. Tidak berubah.
Dewa teringat bagaimana dulu Larasati selalu mencoba berontak untuk setiap penindasan yang dilakukannya. Meski terkadang diam, tapi sinar matanya tidak bisa menyembunyikan tekad kuat untuk menentangnya.
Seperti seekor binatang yang terluka. Semakin ia terluka dan terpojokkan, maka akan semakin keras ia melawan. Bahkan dalam kondisi paling putus asa sekalipun. Ia akan tetap berusaha menggigit, meski sadar bila gigitannya itu tidak berguna. Malah membuat sang pemburu semakin bertekad menaklukannya.
Dan sebagai pihak pemburu, Dewa tahu. Semakin sulit buruannya ditaklukan, semakin bersemangat ia untuk menaklukan buruannya. Katakanlah ia sinting, atau gila. Tapi cuma perempuan ini satu-satunya yang bisa membuatnya jengkel setengah mati, tapi juga membuatnya penasaran setengah mati.
Larasati memicingkan matanya mendengar tawa terbahak Dewa. Mungkin Dewa menganggap ancamannya cuma omong kosong belaka. Atau sesuatu yang terdengar lucu di telinganya. Oh, lihat saja. Jika Dewa berpikir ia cuma menggertak kosong, Larasati bertekad akan membuat Dewa menyesalinya.
Zaman dulu, berbeda dengan zaman sekarang. Di mana sekarang ini kekuatan media sosial begitu ampuh. Dewa mungkin kaya dan berkuasa. Tapi bagaimana jika peranan media sosial mulai berperan di dalamnya?
Apa ia bisa menerima segala hujatan dari masyarakat luas? Menerima segala kritik yang akan ia hadapi? Dan menjaga nama baiknya tidak sampai rusak?
Larasati tahu, perusahaan Dewa bukan hanya perusahaan besar yang bergerak di bidang komersil. Tapi juga ada yayasan sosial milik Windhunoto grup. Yayasan sosial di mana Nyonya Wina, sebagai ibu kandung Dewa juga menjabat sebagai ketuanya!
Yayasan sosial yang khusus menaungi anak-anak kurang mampu dan putus sekolah dengan memberi program beasiswa gratis untuk murid berprestasi. Dan juga bantuan alat tulis dan peralatan sekolah lainnya.
Berkat yayasan sosial itu Windhunoto grup mendapat citra baik. Dan nama Wina Windhunoto terkenal sebagai seorang dermawan. Dan juga nama Dewa Putra Bramasta yang dikenal sebagai pengusaha berhati malaikat.
Jika skandal ini terkuak, jika Larasati mengungkapkan kebenaran enam belas tahun lalu. Maka nama baik keduanya akan tercemar. Dan kredibilitas Dewa sebagai seorang pengusaha akan diragukan.
Bahkan tidak menutup kemungkinan juga berpengaruh pada ayahnya yang Larasari tahu bila Tuan Bramasta kini menjabat sebagai anggota dewan.
Ironis bukan, ayahnya seorang pengusaha besar. Kakeknya anggota dewan dan neneknya dikenal sebagai ketua yayasan sosial dan perempuan dermawan. Tapi cucunya ... cucu yang selama ini tidak diketahui keberadaannya, hidup dalam kesederhanaan.
Larasati semakin membenci keluarga yang terlihat terhormat itu, tapi sebenarnya busuk di dalamnya.
"Kamu tidak punya bukti," ucap Dewa setelah tawanya reda. "Semua itu cuma didasarkan oleh ucapanmu semata, tapi tidak ada bukti dan saksi. Lagipula peristiwa itu sudah terjadi sangat lama. Apa kau pikir akan ada yang peduli untuk menyelusuri kasus itu?"
"Aku memang tidak punya bukti dan saksi. Tapi kehadiran Arfa adalah bukti nyata. Kamu tidak menyangkal kelahirannya bila ia putra kandungmu. Jika kau bertekad meminta hak perwalian atasnya dan dibuktikan dengan tes DNA, itu sama dengan kau mengakui perbuatanmu itu padaku."
"Yeah ... Itu benar. Tapi apa kau pikir aku tidak bisa melakukan cara lain untuk membuat Arfa ikut bersamaku ke Jakarta? Kau jangan meremehkanku, Larasati. Kamu tahu siapa aku dan apa yang bisa aku lakukan padamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembayung di ujung Senja
RomanceBagi Dewa Putra Bramasta, Larasati adalah serangga pengganggu. Kehadiran gadis itu sama buruknya dengan ibunya yang tanpa malu merayu kakeknya demi harta. Karena itu ia melakukan berbagai cara untuk membuat gadis itu menderita. Membully, melecehkan...
