Bab 15

12.9K 562 3
                                        

Laras tidak mau ikut Dewa ke pesta ulang tahun temannya. Buat apa? Kenal juga nggak sama yang empunya pesta. Lagi pula siapa yang sudi pergi berduaan dengan 'setan' kayak Dewa? Entah apa yang bakal dilakukannya nanti kalau Laras ikut pergi.

Ia sudah mencari-cari alasan untuk menolak. Meski Dewa bilang ia tidak menerima penolakan. Tapi Larasati tidak peduli. Memangnya siapa dia? Jenderal? Atau pejabat yang berkuasa? Selama Laras menjauhinya, ia yakin bakal aman.

Namun sesuatu yang tidak disangkanya terjadi. Ia ingin menolak, tapi ibunya sendiri yang membujuk Laras agar mau pergi ke pesta ulang tahun itu bersama Dewa. Saat ibunya masuk ke kamarnya dengan membawa gaun hitam pendek, Laras tahu jalan keluar untuknya sudah tertutup rapat.

"Ras, kamu diminta Dewa untuk datang ke pesta ulang tahun temannya besok malam? Kok kamu gak bilang sama ibu? Kalau Dewa gak ngomong sama ibu, ibu gak bakal tahu kamu diajak pergi dia."

"Laras gak mau ikut, Bu. Mau di rumah saja. Laras juga gak kenal sama yang berulang tahun kok."

"Ish, kamu jangan begitu Ras. Tidak baik menolak ajakan orang yang sudah berbaik hati ngajakin kamu."

Baik hati apanya? Cibir Laras dalam hati. Dia malah sudah berkali-kali berbuat kurang ajar padaku. Jangan dipikir aku gak tahu, anak-anak di sekolah merundungku juga karena perbuatannya!

Tapi selama ini aku diam saja, karena takut ibu sedih. Dan hubungannya dengan Pak Windhu memburuk. Padahal ibu baru bahagia. Ah, bagaimana aku tega mengusik kebahagiaannya?

"Lihat, Dewa bahkan membelikan gaun baru ini untukmu. Katanya harus kamu pakai besok malam. Dia baik sekali kan? Dari mana dia tahu kamu gak punya gaun resmi buat kamu pakai ke pesta ulang tahun? Ah, ini salah ibu juga. Nanti setelah pulang dari Lembang, ibu ajak kamu membeli gaun-gaun cantik dan juga kosmetik. Biar kamu bisa berdandan cantik."

"Ibu mau pergi ke Lembang?" Laras tidak peduli dengan gaun-gaun cantik ataupun kosmetik untuk dia berdandan. Laras cuma peduli mendengar ibunya mau pergi ke Lembang. Itu artinya dia bakal ditinggal sendirian di rumah ini.

"Pak Windhu meminta ibu menemaninya melihat perkebunan miliknya di sana. Cuma dua hari. Tidak lama. Besok pagi berangkat."

Meski cuma dua hari, Laras tidak mau ditinggal sendirian di rumah ini. Dua hari akan terasa seperti dua abad baginya. Dia takut, sangat takut. Jika ada ibunya saja ia kerap menerima perlakuan buruk, lalu bagaimana jika ibunya tidak ada?

Bukan cuma pelecehan Dewa, tapi juga ucapan judes dan menyakitkan yang sering dilontarkan Nyonya Wina. Anak perempuan Pak Windhu itu. Yang kentara sekali tidak menyukai Laras dan ibunya.

"Laras ikut ya, Bu. Laras gak mau ditinggal sendirian. Laras belum pernah ke Lembang, anggap saja liburan."

"Ras, bukannya ibu tidak mau membawamu. Tapi kamu tahu kan, ibu dan Pak Windhu baru menikah. Ikatan di antara kami masih rapuh. Ini kesempatan ibu untuk memperkuat ikatan di antara kami berdua.

"Kamu tahu sendiri, Wina anak perempuannya tidak suka sama ibu. Dia malah menentang pernikahan kami. Karena itu ibu harus memantapkan posisi ibu di rumah ini. Kamu mengerti kan, nak?"

Jika ibunya sudah bilang seperti itu, apalagi yang bisa dikatakan Laras? Tapi sebenarnya ia sedikit kecewa dengan ibunya. Apakah menjadi seorang nyonya besar di rumah ini sebanding dengan harga diri mereka? Yang dianggap benalu di mata Wina dan anaknya.

"Ibu lihat Dewa cukup baik sama kamu. Dia sampai peduli dan membelikan kamu gaun baru. Mengajakmu ke pesta. Ibu senang melihatnya. Ibu juga sudah bilang sama dia buat nitip jagain kamu selama ibu pergi. Dan dia gak keberatan."

Laras menatap ibunya tidak percaya. Ibu menitipkannya pada Dewa untuk menjaganya? Ah, seandainya saja ibu tahu kalau anak perempuannya ini sering dilecehkan olehnya. Lalu bagaimana reaksinya? Sedihkah? Marah atau mungkin tidak percaya?

Bagaimana ibu bisa memberi kesimpulan kalau Dewa itu anak yang baik? Sandiwara apa yang sedang dimainkan Dewa di depan ibunya?

"Oh, gue gak keberatan lu ngadu sama nyokaplu soal gue yang berani berbuat macam-macam sama elu. Silakan aja. Tapi jangan salahin gue kalo hidup ibu lu gue bikin kayak di neraka. Lu gak mau lihat ibu lu sedih kan? Atau ditendang dari rumah ini, padahal baru beberapa bulan jadi nyonya besar di rumah ini. Dan menikmati kekayaan dan kemewahan yang diberikan kakek gue sama nyokaplu. Dan juga elu."

Laras teringat ancaman Dewa tempo hari, ketika untuk kesekian kalinya dia melecehkan Laras dan Laras balik mengancam akan mengadukan perbuatannya ini pada ibunya dan juga Pak Windhu.

Tapi dia terlalu pengecut. Pengecut untuk melakukan itu. Karena ia tahu, kebahagiaan ibunya adalah taruhannya. Dan dia tidak mau merusak kebahagiaan ibunya. Karena ia tahu, Dewa bakal sanggup melakukan itu semua.

Lembayung di ujung SenjaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang