Bab 21

13K 797 24
                                        

** Update setiap senin dan jum'at ya. Kalau saya lupa update diingatkan saja, gedor- gedor pintu rumah juga boleh🤣🤣🤣.

** Tolong ramaikan dengan vote dan comment kalian dong besti. Yang belum silakan follow ya.

**Kalau gak salah udah masuk ranking wattpad belum sih nih cerita?🤔🤔🤔

*****

Wajah Arfa terlihat pucat pasi. Ia mendadak berdiri dari tempat duduknya. Begitu tergesa dan mendadak, hingga kursi meja makan yang baru saja di dudukinya terjatuh ke lantai dengan suara keras.

Pandangannya bergantian menyapu wajah Larasati dan Dewa. Melihat raut wajahnya dan tatapan matanya ... mendadak hati Larasati terasa tenggelam.

Arfa mungkin masih muda. Ia mungkin masih dianggap sebagai bocah ingusan oleh semua orang dewasa yang dikenalnya. Tapi ia tidak bodoh!

Mendengar isi pertengkaran dua orang dewasa di depannya ini, ia bisa menangkap satu hal. Bila Larasati adalah ibunya dan pria menyebalkan ini adalah ayahnya!

Oh, lelucon konyol apalagi ini?

"Ar ... Arfa ..." Tersendat suara Laras memanggil nama anaknya. Ya Tuhan! Jeritnya dalam hati. Jangan biarkan anakku membenciku! Jangan biarkan ia membenciku karena mengetahui kebenaran tentang dirinya!

"Mbak Laras! Apa itu benar? Apa yang dikatakan lelaki menyebalkan itu benar? Kalau aku ... aku anak Mbak Laras?"

"Itu benar." Dewa yang menjawab. "Kamu anak kami berdua."

"Diam kamu Dewa!" Pekik Laras marah. Tidak peduli lagi dengan resiko yang bakal dia terima bila berani menyinggung seorang Dewa. "Kamu tidak berhak melakukan ini!"

"Tentu saja berhak! Aku ayahnya!"

"Ayah yang tidak pernah ada selama lima belas tahun hidupnya!"

"Siapa yang membuatku tidak dapat berperan dalam hidupnya? Siapa yang pergi begitu saja tanpa kabar apapun? Aku bahkan tidak tahu kalau kamu hamil! Kalau aku tidak menemukanmu, kamu akan menyembunyikan hal ini selamanya dariku kan? Iya kan?"

"Kamu menyalahkanku atas semua perbuatan kejimu padaku? Kamu sendiri yang sudah membuatku terpaksa melakukan ini! Menyembunyikan kebenaran dari anakku sendiri!"

"CUKUP!" Arfa meraung kencang. Hatinya sudah terguncang mendengar kenyataan yang meluluh lantakkan jiwanya selama ini. Sorot matanya yang penuh amarah dan kebencian menatap Larasati dengan mata memerah. "Jadi itu benar. Kamu ... Kamu ibuku. Kenapa ... kenapa ..."

"Arfa ..." Air mata Larasati sudah berlinang-linang melihat wajah anaknya. Pedih rasanya melihat kebencian dan amarah yang terlihat jelas di mata bocah itu. "Mbak akan jelaskan ..."

"TIDAK PERLU! AKU MEMBENCIMU!"

"ARFA!" Teriakan Larasati begitu memilukan bergema di langit-langit dapur yang tinggi itu. Ia melihat Arfa secepat kilat berlari pergi dari situ. Tidak menoleh lagi, seakan dirinya orang berbahaya yang mengancam keselamatannya.

"Biarkan dia. Dia butuh sendiri," ucap Dewa ketika melihat Larasati ingin mengejar Arfa yang sudah berlari keluar dari rumah seperti kesetanan.

"Kau puas bukan?" Ada kilat kebencian di mata yang kini penuh dengan air mata saat menatap Dewa dengan begitu dingin. "Kamu puas sudah menghancurkan semuanya bukan? Mengungkapkan kebenaran yang menghancurkan hatinya."

Lembayung di ujung SenjaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang