Dalam mimpi terburuknya sekalipun, Laras tidak pernah membayangkan bila suatu hari nanti ia akan kembali menginjakan kakinya di kota Jakarta.
Kota yang sudah memberi kenangan buruk padanya. Kota yang pernah menjadi impian ibunya dengan gelimang kemewahan. Dan kota yang juga telah memberi pelajaran berharga untuk Laras. Bila mahluk bernama manusia, bisa jauh lebih menakutkan dari iblis.
Dan sekarang ... ia kembali ke kota ini. Kota yang selama enam belas tahun ini tidak pernah sekalipun ia jejakan kakinya di sini.
Laras pikir, selamanya ia tidak akan pernah kembali datang ke kota ini. Tapi siapa sangka takdir berkata lain? Apa yang kita rencanakan, kita bayangkan. Tidak pernah sesuai dengan permainan nasib.
"Kamu jangan egois, Ras. Jangan hanya mementingkan ego dan dendam pribadimu padaku. Tapi kamu juga harus mementingkan masa depan Arfa. Ia memang dilahirkan olehmu. Dibesarkan dalam asuhanmu. Tapi Arfa juga anakku. Ia berhak mendapatkan masa depan yang lebih baik."
"Masa depan yang bagaimana maksudmu?"
"Kamu tahu masa depan seperti apa yang aku maksud. Pendidikkan terbaik dan semua hal yang terbaik yang pantas dia dapatkan. Sudahkah kamu pikirkan bila Arfa berhak mendapatkan pendidikkan terbaik dengan segala kecerdasan yang ia miliki?
"Masa depannya terbentang luas. Dengan uang dan koneksi yang kumiliki, ia bisa mendapatkan pendidikkan terbaik dibelahan bumi manapun yang ia inginkan. Apa kau tega menyia-nyiakan masa depannya hanya karena kebencianmu padaku?
"Oke, kamu mungkin membenciku. Mengutukku untuk seumur hidupmu. Tapi tolong kamu pikirkan lagi, pikirkan masa depan Arfa. Pikirkan semua kesempatan yang akan ia raih di masa depan. Lupakan egomu. Kebencianmu. Jangan biarkan Arfa hidup seperti katak dalam tempurung. Karena ia hidup untuk masa depan, bukan untuk hari ini!"
"Apa ini bujuk rayumu yang lain agar aku mau melepaskan Arfa dan membiarkan ia dalam perawatanmu? Agar kau bisa mengambil alih hak asuh Arfa dariku?"
"Kenapa kamu selalu berpikiran buruk padaku? Aku tidak akan mengambil hak asuh Arfa darimu. Tidak akan berebut dirinya denganmu. Aku hanya ingin ia mendapatkan hal terbaik yang bisa aku berikan padanya. Kamu bisa percaya padaku."
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu bila kau sendiripun bukan orang yang bisa dipercaya?"
"Kita bisa membuat surat perjanjian tertulis yang akan disahkan di depan notaris. Aku memiliki tim pengacara terbaik untuk membuat surat perjanjian itu. Agar kamu yakin dan tenang bila aku memang tidak ada maksud buruk dalam rencana masa depan anakku."
Dan di sinilah ia sekarang. Kembali ke kota ini. Meski Laras tidak yakin bila keputusannya ini adalah hal yang tepat yang ia lakukan. Mungkin ia telah terbujuk rayuan Dewa. Atau memang apa yang dikatakan Dewa itu benar. Jauh di dalam lubuk hatinya, Laras tahu ia tidak akan bisa memberikan semua yang bisa diberikan Dewa pada Arfa.
Arfa anak yang cerdas. Dengan uang dan koneksi Dewa, Arfa bisa bersekolah di luar negeri dan mewujudkan mimpinya. Laras ingat, Arfa pernah berkata ia ingin kuliah di Jepang. Ia ingin meraih beasiswa demi mewujudkan mimpinya itu.
Dan sekarang dengan dukungan Dewa, bila suatu hari nanti Arfa gagal mendapatkan beasiswa itu. Ia masih bisa kuliah ke Jepang dengan sokongan keuangan dari Dewa. Betapa Laras ingin mewujudkan semua impian dan harapan Arfa.
"Izinkan aku ikut bertanggung jawab sebagai seorang ayah, Ras. Meski sampai saat ini, Arfa masih belum sudi mengakuiku sebagai ayahnya. Saat ini ia baru berusia lima belas tahun, ketika usianya sudah delapan belas tahun. Usia yang sudah dewasa untuk memilih. Biarkan ia memilih jalan hidupnya sendiri. Jika ia tidak mau menerima semua pengaturan yang kubuat untuknya. Aku janji, aku tidak akan pernah memaksanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembayung di ujung Senja
RomansaBagi Dewa Putra Bramasta, Larasati adalah serangga pengganggu. Kehadiran gadis itu sama buruknya dengan ibunya yang tanpa malu merayu kakeknya demi harta. Karena itu ia melakukan berbagai cara untuk membuat gadis itu menderita. Membully, melecehkan...
