Bab 31

12.5K 716 20
                                        

Wina mungkin hanya menggertak Laras. Tapi meski begitu, Laras tahu bila Wina bisa mewujudkan semua ancamannya itu.

Meski dipermukaan Laras begitu gigih membela haknya sebagai seorang ibu, dan bersikap seolah ia tidak takut dengan semua ancaman Wina maupun Dewa. Tapi cuma dia yang tahu betapa takut dan khawatirnya ia, bila ancaman itu diwujudkan.

Mereka memiliki uang, kuasa dan koneksi yang luas. Bila gugatan itu dilayangkan, mampukah Laras melawan gugatan itu? Mampukah ia mempertahankan Arfa tetap di sisinya?

Meski ia bisa melawan sekuat tenaga, tapi dihadapan Dewa dan ibunya. Laras tahu ia tidak berdaya. Perlawanannya seperti gurauan di mata mereka. Ia seperti macan kertas. Yang hanya bisa mengaum tapi tidak bisa menggigit.

Dan biaya sidang di pengadilan tidaklah murah. Butuh uang yang banyak. Belum lagi menyewa pengacara, bahkan bisa-bisa kasus gugatan itu akan memakan waktu lama. Berbulan-bulan dan bahkan mungkin bertahun-tahun. Biayanya tidak sedikit. Dan kalau soal uang itu tidak menjadi masalah untuk pihak penggugat, keluarga Windhunoto. Tapi merupakan masalah besar untuk Laras.

"Jangan khawatir, bu. Apapun yang terjadi, Arfa tidak akan pernah meninggalkan ibu." Arfa tentu saja tahu mengenai ancaman nenek tua itu pada ibunya, yang mengancam akan merebut Arfa dari sisi Laras. Dia toh tidak tuli, hingga tidak bisa mendengar semua yang diucapkan nenek tua itu pada ibunya.

Dan meski usianya baru lima belas tahun, ia sudah mengerti segalanya. Ibu yang melahirkannya, membiayai hidupnya. Dan kini orang asing yang disebut ayah dan neneknya ingin mengambil dirinya begitu saja. Huh, apa mereka bercanda? Siapa yang sudi ikut dengan mereka? Siapa yang sudi tinggal bersama orang-orang sombong seperti itu? Sampai kapanpun Arfa tidak akan mau!

"Maafkan ibu, Ar. Karena ibu semua ini terjadi," ucap Laras sedih. Menatap anaknya yang tubuhnya jauh lebih tinggi darinya. Mungkin karena gen dari Dewa, atau memang anak zaman sekarang gizinya bagus. Arfa tumbuh lebih tinggi dari anak-anak sebayanya.

Padahal masih jelas dalam ingatan Laras, saat pertama kali menggendong anaknya untuk pertama kalinya. Arfa masih merupakan bayi mungil yang lucu. Dan ternyata waktu begitu cepat berlalu. Bayi mungil itu sudah tumbuh menjadi anak lelaki yang tampan dan jangkung.

"Kenapa ibu harus minta maaf? Mereka yang salah, bukan ibu!"

"Tapi bagaimana jika mereka benar-benar ingin mengambil kamu dari sisi ibu? Apa yang harus ibu lakukan? Ibu bisa melawan, tapi mereka bukan lawan yang mudah. Kamu tahu mereka orang kaya."

"Kenapa kalau mereka orang kaya? Apa itu artinya mereka bisa mengambil Arfa seenaknya? Ibu yang melahirkan Arfa, membesarkan Arfa. Mereka tidak punya andil apapun dalam membesarkan Arfa! Arfa sudah besar, Arfa bisa memilih dengan siapa Arfa mau tinggal!"

"Tapi jika perintah pengadilan ..."

"Masa bodoh dengan perintah pengadilan! Keluarga Arfa cuma ibu! Bukan mereka! Kalau mereka memaksa dan bersikeras untuk mengambil Arfa dari ibu, Arfa akan kabur!"

Laras terkejut mendengar ucapan anaknya. Sekaligus terharu melihat keteguhan hati Arfa yang tetap memilih bersamanya. Padahal ia tahu, jika Arfa memilih tinggal bersama Dewa. Maka bisa dipastikan bila segala kemewahan akan ia miliki. Namun Arfa tidak tergoda, ia cuma mencibir saat tahu seberapa kaya ayah kandungnya itu.

"Memang kenapa kalau mereka kaya? Uangkan tidak dibawa mati! Kalau mati yang dibawa juga cuma selembar kain kafan! Kalau orang mati, memang masih bisa memikirkan kekayaan mereka?"

Arfa mungkin naif karena ia masih muda. Tapi meski begitu, diam-diam Laras merasa bahagia Arfa tetap teguh untuk bersamanya.

Untungnya, meski Wina datang ke Malang. Ia tidak ikut tinggal di rumah Laras, melainkan lebih memilih tinggal di hotel. Karena Wina juga tidak akan sudi tinggal di 'gubuk' bobrok milik Laras. Meski begitu, hampir setiap hari Wina datang untuk menemui anaknya.

Lembayung di ujung SenjaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang