** Saya ingin membuat jadwal update, agar kalian tidak terlalu lama menunggu-nunggu update cerita saya. Mungkin setiap senin- selasa, atau senin- jum'at. Atau mungkin sabtu minggu. Entahlah, masih bingung nih. Menurut kalian hari apa yang cocok? Hari di mana kalian punya waktu luang mengunjungi WP dan cerita saya?
**Cerita saya di KaryaKarsa yang serenada biru, saat cinta harus memilih, Love is Blue semua sudah tamat di sana. Silakan mampir kalau berkenan.
***Apa kalian bosan dengan cerita-cerita mellow seperti ini? Saya akan buat cerita yang lebih ringan dan ceria kalau kalian mau. Salam sayang sahabat Eyka. Arigato.
*****
Dewa masih tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman Larasati, yang justru terdengar lucu di telinganya. Larasati baru saja mengancam untuk ... membunuhnya? Apa dia sedang bergurau?
"Seekor kucing tidak pantas untuk mengaum, tapi mengeong," ucap Dewa setelah tawanya reda. "Lagipula apa kamu pikir semudah itu untuk menyakitiku? Apa tidak terpikir olehmu, bila aku sudah menghubungi pengacaraku. Yaitu bila sesuatu terjadi padaku atau aku ditemukan mati dengan tidak wajar selama dalam perawatanmu. Maka tersangka utama adalah kamu.
"Dan informasi untukmu, aku selama ini tidak punya riwayat penyakit jantung. Medical check up ku bagus. Sehat luar dalam. Dan tidak mengidap penyakit berbahaya."
Laras terkejut mendengarnya. Bajingan ini ... sudah mengantisipasi semuanya? Melihat keterkejutan yang begitu jelas di wajah Laras. Dewa merasa puas.
"Jadi jangan membuat penolakan yang tidak perlu. Aku akan tinggal di rumahmu. Suka atau tidak suka."
Dan Laras cuma bisa pasrah dengan nasibnya.
Dewa pindah ke tempat Laras. Di rumah peninggalan mendiang ibunya ini, selama ini Laras tinggal. Sebuah rumah yang cukup besar dengan halaman yang cukup luas. Ada tanaman rambutan dan mangga di halaman depan. Dengan masing-masing dua pohon rambutan dan dua buah pohon mangga yang ranum dan berbuah lebat jika sudah musimnya.
Di halaman belakang ada tanaman pepaya, nangka dan juga beberapa pohon pisang. Juga ada tanaman buah naga dan belimbing wuluh. Sepertinya Larasati lebih senang menanam pohon buah-buahan daripada menanam bunga.
Ada tiga kamar tidur dengan satu kamar mandi dan toilet yang terpisah. Ruang tamu, ruang keluarga lalu dapur dan ruang makan. Ada teras dengan dua buah kursi di depan dengan coffee table. Secara keseluruhan, rumah Larasati bersih dan rapi. Mungkin karena ia tinggal sendiri. Dan selalu rajin bersih-bersih rumah jika libur atau sesaat sebelum masuk kerja.
Kamar tidur terbesar di rumah ini adalah kamar Larasati. Meski dua kamar tidur lainnya juga cukup besar karena ukurannya juga 3x3 meter. Hanya kamar Larasati yang ukurannya 5x4 meter. Meski begitu, kamar itu tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan kamar Dewa di Jakarta.
Karena Dewa sudah berjanji akan membayar uang sewa setiap bulannya selama ia tinggal di sini. Maka Laras memberikan kamarnya untuk di tempati Dewa. Sedangkan ia pindah ke kamar lain yang ada di ruang belakang, samping dapur. Satu-satunya kamar yang terpisah dari dua kamar tidur lainnya di rumah ini.
"Kenapa kamarmu harus berjauhan dengan kamar tidurku? Bukankah kamar yang di samping kamar tidurku itu kosong? Pindahlah ke situ."
"Kamar itu belum dibersihkan."
"Kalau begitu bersihkan. Aku tidak mau kita berjauhan. Bagaimana jika sesuatu terjadi padaku di tengah malam dan kau sedang tidur nyenyak? Apa kau yakin bakal bisa mendengar teriakanku yang memanggil namamu?"
Apa yang bakal terjadi dengan pria tinggi besar seperti Dewa? Hingga ia harus berteriak di tengah malam memanggil namanya? Bukankah sebenarnya fisiknya baik-baik saja kecuali kakinya yang masih memakai gips. Seharusnya Dewa memakai kursi roda. Tapi pria itu terlalu sombong hingga menolak kursi roda dan lebih suka memakai kruk. Meski langkahnya tertatih.
Sebenarnya Dewa sengaja tidak mau memakai kursi roda. Dengan dia lebih memilih kruk untuk aktifitas sehari-harinya, bukankah itu artinya Laras harus membantunya dengan menopang tubuhnya? Itu kesempatan untuk Dewa agar lebih dekat dengan Laras.
"Atau kamu mau kita tidur satu kamar? Di ranjang yang sama? Aku sendiri tidak keberatan ... " Kata Dewa dengan nada nakal membuat Larasati merinding. Dan aku tidak keberatan kamu menjadi penghangat ranjangku, sambungnya dalam hati.
"Aku akan membersihkan kamar itu segera." Larasati cepat-cepat menjawab. Tidur satu kamar dengan Dewa? Dalam mimpimu!
Laras terpaksa memindahkan barang-barangnya ke kamar sebelah Dewa. Padahal ia sudah membereskan kamar di belakang. Tujuannya apalagi, tentu saja agar tidak terlalu sering berinteraksi dengan Dewa. Tapi sepertinya Dewa mengetahui niatan Larasati hingga melayangkan protes. Malah memberi usul agar mereka tidur satu kamar. Cuma orang bodoh yang tidak tahu niat Dewa.
Begitu selesai membersihkan kamar dan membereskan barang-barangnya. Dewa mengatakan ia ingin mandi dan meminta Laras untuk membantunya mandi! Tentu saja Laras terkejut.
"Membantumu mandi? Apa kau tidak bisa mandi sendiri?"
"Apa kamu tidak lihat kondisiku? Jangankan untuk berjalan. Untuk mandi saja susah! Jadi kamu harus membantuku mandi! Aku tidak akan bisa tidur kalau tidak mandi."
Ini memang sudah jam setengah enam sore. Jika lebih malam lagi udara akan bertambah dingin. Tapi Laras sudah memasang water heater di kamar mandi, jadi tidak perlu khawatir bila mandi malam. Akan selalu tersedia air hangat. Tapi memandikan Dewa ... itu artinya ...
"Kenapa? Takut? Kamu kan seorang perawat. Terbiasa merawat pasien, seperti pasang kateter dan sejenisnya. Jangan bilang kamu belum pernah melihat tubuh telanjang seorang lelaki."
Tentu saja Laras sering melihat tubuh telanjang pasien. Baik lelaki maupun perempuan. Apalagi saat dia ditugaskan di bagian obgyn, membantu dokter Santoso di sana. Ia terbiasa melihat tubuh perempuan telanjang. Dan di ruang operasi jika membantu dokter mengoperasi pasien pria.
Bahkan baru-baru ini dia juga sudah melihat tubuh telanjang Dewa ketika pria itu tidak sadarkan diri dan di dorong ke kamar operasi. Laras yang membuka pakaiannya. Dan ia masih ingat semua otot-otot yang ada di tubuh Dewa. Semuanya pas, sexy dan proposional.
Jadi seharusnya memang tidak ada masalah kan bila ia membantu Dewa mandi. Anggap saja tubuh telanjangnya itu patung. Atau anggap saja dia sedang menggosok tembok. Dinding datar dan bukan tubuh berotot milik Dewa.
Tapi demi Tuhan, sekeras apapun Laras mengsugesti dirinya. Bila yang ada di hadapannya bukan Dewa, tapi tembok datar. Tetap saja tangannya gemetaran, tetap saja jantungnya berdegup kencang.
Apalagi ketika ia sedang membantu Dewa membuka bajunya. Lalu kancing celananya. Laras semakin gelisah. Ia pura-pura tenang, pura-pura tidak peduli. Tapi semakin ia berpura-pura tenang, semakin keras tangannya gemetaran. Beberapa kali tangannya terpeleset tidak berhasil membuka kancing celana Dewa.
Dan Dewa bukannya tidak mengetahui hal itu, ia malah sangat menikmati kegugupan Larasati. Sikap salah tingkahnya dan bahasa tubuhnya yang tidak bisa disembunyikan kalau ia bersikeras bersikap wajar. Meski kepalanya menunduk, tapi aura tegang sangat kentara sekali memancar dari tubuh Larasati.
Dewa yang lebih tinggi darinya cuma menyeringai puas, yang tentu saja tidak disadari oleh Larasati. Ketika tangan Laras berhasil membuka kancing celana sialan itu, tanpa sengaja tangannya yang membuka ritsleting celana Dewa menyenggol kejantanan Dewa di balik celana dalamnya.
Lalu tanpa Larasati duga, ereksi Dewa membesar karena sentuhan tangannya yang tidak disengaja!
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembayung di ujung Senja
RomanceBagi Dewa Putra Bramasta, Larasati adalah serangga pengganggu. Kehadiran gadis itu sama buruknya dengan ibunya yang tanpa malu merayu kakeknya demi harta. Karena itu ia melakukan berbagai cara untuk membuat gadis itu menderita. Membully, melecehkan...
