Bab 5

16K 1K 22
                                        

Hai apa kalian ada yang sama seperti yg dikatakan salah satu readers saya? Akun RomiRomoy, saking fokusnya baca cerita saya jadi lupa komen? Gak apa-apa sih, asal jangan lupa votenya ya besti

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hai apa kalian ada yang sama seperti yg dikatakan salah satu readers saya? Akun RomiRomoy, saking fokusnya baca cerita saya jadi lupa komen? Gak apa-apa sih, asal jangan lupa votenya ya besti. Biar eke makin semangat nulis.

Bocil saya sudah mo libur sekolah, sayang agenda pulang kampung gak jadi karena ayahnya harus kerja. Cutinya buat lebaran aja. Apa saya update cerita aja ya tiap hari biar gak bosan????😘😘😘😘

*****

"Pokoknya Wina gak setuju kalau Papi mau kawin lagi!"

"Lho, Papi gak minta persetujuan kamu kok mau kawin lagi apa nggak."

"Ingat, Pi. Umur Papi itu sudah tua! Sudah tujuh puluh tahun! Cucu papi sudah gede! Apa gak malu kalau jadi omongan orang, kakek-kakek mau kawin lagi?"

"Memang ada undang-undangnya kalau kakek-kakek dilarang kawin lagi? Lagian kamu jangan kurang ajar ya Win, tua-tua begini. Papi masih sehat, belum penyakitan. Umur boleh tua tapi semangat tetap muda!"

"Kalo papi mau kawin lagi, Wina gak keberatan. Tapi kenapa harus sama Astuti? Usia dia jauh lebih muda dari papi! Empat puluh tahun pi! Beda umur papi sama Astuti hampir empat puluh tahun!"

"Terus kenapa kalau papi sama Astuti beda jauh? Dia perempuan dewasa. Seorang ibu. Usianya juga tidak muda lagi, sudah tiga puluh tujuh. Apa salah papi nikah sama dia?"

"Kenapa papi gak nyari perempuan yang sebaya sama papi? Biar gak jadi omongan orang. Gak yang muda kayak Astuti gitu, pi. Umurnya cuma beda tiga tahun sama Wina! Malah lebih tua Wina dari Astuti!"

"Kamu nyuruh papi nikah sama perempuan peyot? Kalau sama-sama tua, bagaimana nanti dia ngurusin papi? Papi justru milih Astuti karena dia masih muda, baik dan bisa ngurusin papi kalau papi sakit. Kalau sama-sama tua dan peyot, malah nanti papi yang repot! Lagian Astuti juga gak keberatan nikah sama papi, meski papi sudah kakek-kakek!"

"Tentu saja dia gak keberatan. Kapan lagi ada majikan yang mau nikahin pembantunya sendiri? Wina yakin, Astuti cuma ngincar harta papi doang. Dia gak tulus cinta sama papi!"

BRAKK!!!

Suara meja digebrak Tuan Windhunoto mengagetkan semua orang yang sedang ada di meja makan. Bukan cuma Wina yang kaget, tapi juga Bram dan Dewa.

Ini pertengkaran  Wina dan Tuan Windhunoto untuk kesekian kalinya. Penyebabnya apalagi, masalah Astuti. Pembantu baru yang dibilang Wina tidak tahu diri! Bayangkan, baru setahun kerja tapi sudah mendapat perlakuan istimewa dari ayahnya.

Gaji yang lebih besar dari pembantu yang lain, diberi fasilitas lainnya seperti kamar pribadi yang setara dengan majikan mewahnya. Dan sekarang, ayahnya bilang dia mau nikah dengan Astuti.

Bagaimana mungkin Wina bakal setuju? Astuti itu cuma pembantu! Tidak pantas buat ayahnya. Pendidikannya saja cuma tamatan SD! Lah, masa mau dipersunting ayahnya yang seorang komisaris Windhu corp. Itu tidak tahu diri namanya.

Entah guna-guna apa yang dipakai Astuti, sampai ayahnya begitu ngotot ingin mempersuntingnya. Padahal usia mereka terpaut jauh.

Ayahnya memang sudah lama menduda. Sejak Wina SMA, ayah sudah ditinggal ibu. Dan selama itu pula ayahnya tidak berniat kawin lagi. Hidupnya hanya diabdikan untuk perusahaan sampai Windhu Corp sebesar sekarang.

Wina pikir ayahnya tidak akan menikah lagi selamanya, tapi saat usianya sudah tujuh puluh tahun. Ayahnya malah kepengin kawin lagi. Dan wanita pilihannya itu Astuti. Janda beranak satu yang cuma seorang pembantu di rumah ini. Sampai matipun Wina tidak bakal sudi punya ibu tiri seorang pembantu! Apalagi usia Astuti lebih muda sedikit darinya. Apa kata teman-teman sosialitanya bila mereka tahu dirinya punya ibu tiri mantan pembantu mereka, yang usianya lebih muda dari dia.

Dan yang terpenting lagi, ayahnya bakal jadi gunjingan. Bahan cemoohan orang-orang disekitar. Masa kakek-kakek sudah sepuh masih mau kawin lagi? Buat apa? Harusnya waktu mau kawin lagi pas masih muda, bukan sekarang. Setelah tua renta, peyot dan napas sudah kembang kempis. Meski Wina tahu ayahnya tidak seperti itu. Tapi tetap saja.

Lagi pula Wina yakin kalau Astuti cuma mengincar harta ayahnya. Tidak benar-benar cinta dan sayang pada ayahnya. Mana ada sih wanita muda dan cantik seperti Astuti sungguh-sungguh mencintai kakek-kakek? Paling cuma kepengin hartanya, berharap suami peyotnya cepat mati dan ia bisa menguasai hartanya. Lebih bagus lagi kalau sampai punya anak.

Laki-laki kan tidak ada menopause, meski setua ayahnya. Tetap saja bisa punya anak lagi bila menggauli perempuan muda macam Astuti. Membayangkannya saja Wina sudah bergidik. Tidak bisa membayangkan lelaki setua ayahnya punya anak yang masih bayi. Dan dia punya adik yang masih bayi juga!

Wina sebenarnya tidak peduli Astuti mau kawin sama siapa, asal jangan sama ayahnya! Dia juga tidak habis pikir, bagaimana bisa ayahnya jatuh cinta pada Astuti? Apa karena Astuti itu cantik? Bodynya bahenol? Atau memang kena guna- guna?

Astuti memang cantik. Untuk ukuran seorang pembantu dan perempuan kampung, Astuti itu cantik. Tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan cantiknya perempuan kelas atas yang biasa ditemui Wina.

Tapi Astuti memang cantik. Kulitnya putih, rambutnya panjang sampai pinggul, wajahnya bulat telur. Bibirnya tipis merah merona. Bulu matanya lentik. Mungkin karena sadar kalau memiliki wajah cantik. Maka digunakan untuk merayu ayahnya.

Dan ayahnya terkena jerat rayu Astuti. Sampai tidak ingat umur mau nikah lagi. Padahal lelaki setua ayahnya kebanyakan kumpul dengan orang-orang tua juga. Perbanyak ibadah dan menikmati masa tua yang damai. Bukannya ingin kawin lagi!

Lembayung di ujung SenjaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang