Bab 3

16.9K 1K 12
                                        

Ketika Dewa sadar, dirinya sudah berada di dalam kamar rumah sakit lengkap dengan bau khasnya. Dokter sudah datang dan memeriksanya dan memastikan ia sudah lolos dari tangan maut. Hingga bisa dipindahkan ke bangsal rawat inap.

Orang pertama yang ia lihat saat sadar adalah wajah kedua orang tuanya. Terlihat sekali jika keduanya begitu khawatir dengan kondisinya dan baru bernapas lega setelah dia sadar dari koma.

Karena ia menderita trauma kapitis, dokter masih memantaunya dengan seksama. Bukan cuma benturan kepala yang ia derita, tapi juga tulang kaki kanannya retak dan harus di gips.

Untuk sementara ia tidak bisa berjalan dan harus menggunakan kursi roda atau kruk. Dan menurut dokter, ia akan bisa berjalan normal lagi serta sembuh dari cederanya setelah 4 - 5 bulan pasca operasi.

Dewa ingat kenapa ia sampai mengalami kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya. Ia sedang menerima telpon dari Melky, temannya yang sedang liburan di Malang ini. Ia mengabarkan sesuatu yang cukup mengejutkan.

"Gue ketemu Laras di daerah Mojolangu waktu gue lagi nongkrong di Kafe. Sebenarnya gue gak yakin itu dia apa bukan. Maklum udah lama banget kan gak liat dia. Tapi mukanya mirip banget Laras, meski sekarang tambah cantik dan tentu saja lebih dewasa. Tapi gak kayak perempuan yang udah umur tiga puluhan lebih gitu. Kayak umur gadis dua puluhan malah. Kalo itu benar dia, berarti selama ini dia ada di sini di Malang."

"Elu yakin?" Dewa mengeratkan pegangannya pada kemudi.

"Gak yakin juga sih. Tapi mending lu ke sini deh. Gue nginep di hotel ... elu juga lagi di Malang kan sekarang? Sekalian kita ketemuan. Gila juga sih kalo itu beneran dia, udah enam belas tahun lebih ..."

"Ya udah. Gue ke situ sekarang. Nih udah di mobil."

"Oke, gue tunggu ya."

Tapi ternyata Dewa tidak pernah sampai bertemu Melky. Ia mengalami kecelakaan dan mobilnya ringsek. Dia sendiri koma selama dua hari. Ia tidak tahu bagaimana kabar Melky. Apa masih menunggunya atau tidak. Ponselnya sendiri ia yakin sudah ringsek bersama bangkai mobilnya. Entah berapa biaya untuk memperbaiki jeep wrangler itu.

Namun berita yang dibawa Melky cukup mengusik pikirannya. Benarkah Larasati berada di Malang? Apakah selama enam belas tahun ini wanita itu bersembunyi di sini setelah pergi begitu saja tanpa kabar berita.

Seharusnya Dewa juga tidak peduli, untuk apa merasa terganggu dengan berita perempuan yang tidak penting seperti itu dalam hidupnya? Toh, ia dan Larasati tidak memiliki hubungan apa-apa. Ia hanya pernah 'mencicipi' gadis kampung itu sekali. Hanya sekali, tapi kenapa sampai sekarang rasanya tidak bisa ia lupakan?

Dan pertanyaan Melky yang dilontarkan dengan nada bergurau cukup mengganggunya.

"Emang berapa kali lu 'nyicipin' gadis itu? Yakin dia gak hamil?"

Sial, kenapa Melky harus melontarkan ucapan seperti itu? Apa peristiwa hari itu bisa membuat Larasati hamil? Waktu itu dia memang tidak memakai pengaman. Lupa. Kecerobahan yang tidak pernah ia lakukan bila 'tidur' dengan perempuan-perempuan lain. Tapi justru hari itu ia bisa lupa.

Kalau nafsu sudah di kepala, siapa sih yang ingat dengan pengaman segala? Apalagi tubuh Larasati begitu menggiurkan. Padahal cuma gadis kampung. Udik, kampungan, tapi tubuhnya ternyata bagus begitu. Seksi menggoda, tubuh yang biasanya selalu tertutup pakaian longgar dan sopan. Tapi setelah ditelanjangi membuat Dewa lupa diri!

Memang cuma satu peristiwa itu terjadi, tapi Dewa ingat ia melakukannya berkali-kali. Masih diingatnya isak tangis gadis itu ketika ia menggaulinya. Isak tangis yang cukup menyedihkan, tapi justru isak tangis gadis itu menyulut birahi Dewa lebih berkobar. Dewa puas membuat gadis itu menangis, puas karena sudah merenggut kehormatan gadis itu yang di matanya sama dengan serangga pengganggu.

Suruh siapa dia harus datang ke Jakarta. Suruh siapa dia harus menjadi anak perempuan rendahan yang Dewa dan ibunya benci. Itu nasib sialnya karena harus bertemu dengan Dewa Putra Bramasta. Hingga harus mengalami nasib buruk.

Dewa sama sekali tidak merasa bersalah karena sudah merenggut kesucian seorang gadis polos. Baginya itu hukuman yang pantas diterima oleh Larasati dan ibunya. Karena berani menginginkan kemewahan dan kehidupan nyaman yang bukan milik mereka!

Bahkan ketika gadis itu menghilang begitu saja setelah peristiwa hari itu, Dewa sama sekali tidak peduli. Sampai ucapan yang dilontarkan Melky mengusiknya.

Yakin dia gak hamil?

Ucapan Melky menyentak kesadaran Dewa. Ia sama sekali tidak terpikir selama ini jika perbuatan bejatnya itu bisa membuat Larasati hamil. Sama tidak terpikirnya dia untuk mencari gadis itu dan menyesali perbuatannya. Dalam hidupnya, Dewa tidak pernah kekurangan wanita sebagai penghangat ranjangnya. Meski sekarang statusnya sebagai seorang duda. Bahkan saat masih terikat pernikahan dengan Priscila saja, ia tidak pernah segan untuk menggauli wanita lain.

Pernikahan sama sekali tidak bisa mengikatnya untuk setia. Ibarat kuda liar, sampai detik ini belum ada perempuan yang bisa menaklukannya. Bahkan Priscila yang memegang tali kekangnya begitu erat, mencoba mengaturnya dan membatasi ruang geraknya malah berakhir dengan selembar surat cerai!

Apalagi gadis kampung seperti Larasati, yang tidak pernah ia pandang bahkan dengan sebelah mata.

Lalu bagaimana jika peristiwa itu memang menyebabkan Larasati hamil? Apakah perempuan itu bersembunyi bersama anaknya?

Dewa memang tidak pernah kekurangan perempuan dalam hidupnya. Tapi tidak satupun dari perempuan itu yang ia izinkan mengandung benihnya.

Dan bila benar Larasati hamil, maka dia menjadi satu-satunya perempuan yang pernah mengandung benihnya. Dan ia harus membuat perhitungan dengannya!

Lembayung di ujung SenjaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang