Bab 43

7.7K 617 28
                                        

Untuk pertama kalinya Laras bangun kesiangan pagi ini. Ia tidak membuatkan sarapan, kesiangan sholat subuh dan keadaan apartemen sudah sepi ketika ia keluar dari kamarnya.

Mungkin pertengkarannya dengan Dewa semalam yang membuatnya bangun kesiangan. Pertengkaran entah untuk yang kesekian kalinya, yang sungguh melelahkan jiwa dan raganya.

Tapi biasanya, meski ia sudah sering bertengkar ataupun berdebat dengan Dewa. Laras tidak pernah bangun sampai kesiangan seperti ini. Tetapi hari ini ...

Mungkin karena efek rasa lelah. Mungkin juga karena ia sudah terlalu banyak menangis dan mengeluarkan emosinya semalam. Ia bahkan jatuh tertidur tanpa mengetahui jam berapa Arfa pulang semalam.

Namun saat ia menuju ruang makan, ia melihat sudah ada sarapan yang tersedia dan selembar catatan yang ditulis oleh Arfa. Rupanya ia sudah berangkat ke sekolah dan itu artinya Dewa juga sudah berangkat ke kantor. Hingga tinggal dia seorang yang ada di apartemen ini sendirian.

Karena acara ulang tahun Arfa yang dirayakan dengan makan malam bersama. Membuat Laras lupa membicarakan hal yang penting pada Dewa. Ditambah dengan pertengkaran mereka semalam.

Dewa sudah sembuh. Kondisinya sudah prima, sudah tidak perlu lagi fisioterapi ataupun seorang perawat yang harus mendampinginya. Jadi tidak ada gunanya lagi ia berada di sini kan?

Laras ingin pergi, ingin menyewa rumah sendiri dan kalau memungkinkan ia ingin melamar sebagai perawat. Di salah satu rumah sakit yang ada di Jakarta ini. Kebetulan tempo hari dokter Askar sudah menawarkan jasanya, untuk mencarikan Laras pekerjaan. Tentu saja yang sesuai dengan keahliannya. Kalau begitu ia tidak perlu sungkan meminta bantuan dokter Askar kan? Apalagi ia masih menyimpan nomor telponnya.

Meski tempo hari Dewa keberatan dengan rencananya yang ingin keluar dari apartemen ini. Menyewa rumah sendiri, malah mengatakan ia yang akan keluar dari apartemen ini. Hingga Laras dan Arfa bisa tetap tinggal di sini.

Tapi buktinya sampai sekarang, Dewa juga belum pindah dari apartemen ini. Ia masih tinggal di sini. Masih tinggal bertiga dengan Laras dan Arfa.

Padahal apa sih yang ia tunggu? Kakinya sudah sembuh, jalannya sudah normal, sudah bisa ngantor juga. Tapi kok masih anteng tinggal di sini?

Ini memang apartemennya, Laras tidak berhak mengusir. Tapi Laras tidak percaya kalau Dewa tidak punya tempat tinggal lain selain apartemen ini. Tidak mungkin orang sekaya dia tidak punya banyak properti. Namun kenapa sampai detik ini Dewa belum juga pindah?

Apa dia lupa atau berlagak pilon ? Terus terang saja, Laras sebenarnya agak jengah dan takut tinggal serumah dengan Dewa. Apalagi kalau harus ditinggal berdua saja dengan Dewa, bila Arfa tidak ada.

Saat kaki Dewa masih luka dan tidak bisa jalan, Laras masih tidak terlalu peduli. Karena ruang gerak Dewa terbatas. Bergerak saja masih butuh bantuan kursi roda atau kruk, tidak mungkin bisa berbuat macam-macam kan?

Tapi sekarang beda. Dewa sudah sehat. Sudah bisa bergerak normal. Laras takut bila sewaktu-waktu Dewa bisa berbuat kurang ajar padanya. Ia tidak ingin kejadian buruk itu terulang lagi.

Jadi jalan satu-satunya, ia yang keluar dari tempat ini. Atau Dewa yang segera pindah dari sini. Sialnya ia belum punya kesempatan untuk menegaskan hal ini. Belum punya kesempatan untuk 'mengusir'  Dewa dari sini.

Laras meraih kertas catatan yang ditulis Arfa, diselipkan di bawah kotak sarapan yang sudah pasti dibeli di luar. Ia duduk di kursi makan dan membaca catatan itu.

Bu, terima kasih untuk kado ulang tahunnya. Arfa suka topi yang ibu belikan dan hari ini Arfa pakai ke sekolah.

Bagi Arfa, kado pemberian dari ibu lebih berharga dari kado apapun juga. Terima kasih juga telah melahirkan Arfa ke dunia ini.

Meski Arfa belum bisa menjadi anak yang sempurna untuk ibu. Tapi bagi Arfa, ibu adalah ibu yang sempurna untuk Arfa.

Arfa sayang ibu.

Note: oh, ya. Tadi ayah sudah membelikan sarapan untuk kita. Dan melarang Arfa membangunkan ibu. Di makan sarapannya ya bu. Arfa sekolah dulu. Sayang ibu.

Larasati termangu membaca catatan yang ditulis anaknya. Jadi ... Arfa menyukai topi hadiah darinya? Arfa tidak membencinya? Ia malah memakainya ke sekolah?

Laras baru ingat, ia memang meninggalkan kotak hadiahnya begitu saja di ruang tamu setelah bertengkar dengan Dewa. Mungkin Arfa menemukan kotak hadiah itu ataukah ... Dewa yang memberikannya? Dan mengatakan itu adalah hadiah dari Laras?

Jadi posisinya di hati Arfa belum tergeser? Ia masih menyayangi ibunya? Tidak melupakan ibu yang melahirkannya hanya karena mendapatkan hadiah mobil dan jam tangan mahal?

Ah, kenapa ia menjadi berburuk sangka pada anaknya sendiri? Tentu saja Arfa akan tetap menyayanginya. Mencintainya. Ia ibunya. Yang mengandung dan melahirkannya. Tidak mungkin tergeser dengan seorang ayah yang baru muncul lima belas tahun kemudian setelah kelahirannya.

Tapi ...

Laras mengernyit, menyadari sesuatu yang berbeda. Cepat-cepat dibacanya lagi catatan itu dari awal dan segera menemukan apa yang berbeda itu.

Tadi ayah sudah membelikan sarapan untuk kita. Dan melarang Arfa membangunkan ibu.

Ayah.

Arfa menulis kata ayah di sini. Tentu saja Laras tahu siapa yang dimaksud ayah oleh Arfa.

Arfa tidak menulis Om Dewa. Seperti yang biasa ia lakukan bila menyapa ayah kandungnya itu. Ia menulis ayah. Satu hal yang baru dan berbeda.

Apakah itu artinya Arfa sudah menerima Dewa sebagai ayah kandungnya? Apakah itu artinya ia sudah memaafkan kesalahan yang dilakukan ayahnya? Dan apakah ... apakah Dewa sudah mendengar panggilan barunya dari mulut Arfa?

Laras meremat kertas catatan di tangannya tanpa sadar, saat ini beragam perasaan kembali campur aduk di hatinya. Ia tidak tahu apakah harus merasa senang atau sedih mendengar Arfa sudah mau memanggil Dewa dengan sebutan 'ayah'.

Panggilan yang sudah lama dinantikan Dewa, yang kerap dikeluhkannya di depannya bila Arfa tetap menyapanya dengan sebutan om. Om Dewa, bukan ayah.

Dan terus terang, ada sedikit rasa puas di hati Laras setiap kali melihat wajah muram Dewa jika Arfa memanggilnya om. Melihat penolakan yang ia dapatkan dari Arfa, yang menolak mengakui ia sebagai ayah kandungnya.

Namun sepertinya sekarang itu sudah berubah. Arfa tidak lagi menolak Dewa. Tidak lagi menyebutnya Om Dewa. Melainkan ayah.

Lalu apakah itu artinya Dewa sudah berhasil memenangkan cinta Arfa? Memenangkan kasih sayang anaknya? Sesuatu yang memang sangat di dambakan Dewa selama ini. Lalu ... bagaimana dengan dirinya? Sikap apa yang harus ia ambil?

Haruskah ia membiarkan Arfa semakin dekat dengan Dewa? Haruskah ia merelakan membagi cinta anaknya pada orang yang paling ia benci?

Haruskah ia juga memaafkan Dewa? Dan berdamai dengan masa lalunya?

*** Hai, banyak banget komen yang masuk. Yang bilang setiap bab yang saya tulis pendek banget. Baru baca sudah habis. Mau scroll ke bawah eh, pas tahunya sudah habis babnya. Ah .. yang beneeerr? He... He... Itu 1000 an kata loh beb, setiap bab yang saya tulis. Masa pendek sih?

Tinggal beberapa bab lagi cerita ini tamat. Terima kasih untuk yang setia tetap mengikuti cerita ini, jangan bosen ya beb.

Cerita baru? Ada sih. Tapi nanti dulu deh, saya mo fokus dululah di karyakarsa. Kasian novel saya di sana ditelantarkan kayak anak tiri hiks ... Padahal saya kan cari cuannya di sana ya. Malah di sana yang ditelantarkan lama banget.

Ke depannya saya kayaknya bakal aktif nulis di karyakarsa ( janji melulu mbak, udah kayak calon pejabat😀). Saya bakal nulis novel yang bagus-bagus di sana. Rencananya setengah bab gratis, sisanya baru berbayar. Biasalah beb, cari cuan.

Yang di wp gimana kak? Tetep kok, jangan takut. Tapi ...

Lembayung di ujung SenjaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang