Bab 22

12.7K 777 15
                                        

** update setiap senin dan jum'at. Tapi karena kemarin pemilu jadi mundur updatenya. Maaf ya. Semoga kalian tetap tidak bosan membaca karya-karya saya ini. Arigato.

***

Kebenaran, memang selalu menyakitkan. Larasati tidak pernah ingin mengungkapkan kebenaran ini pada anaknya. Kalau bisa, biarlah semua aib dan dosa miliknya di masa lalu hanya dia yang mengetahuinya.

Arfa tidak perlu tahu. Tidak perlu tahu hal keji apa yang sudah menimpa ibunya. Tidak perlu mengetahui kebenaran kelam yang begitu menyakitkan. Larasati hanya ingin mempersembahkan dunia yang begitu indah untuk Arfa.

Tapi semua itu tidak mungkin lagi. Hari ini, jika ia tidak mengatakan kebenaran yang tersembunyi. Arfa akan tetap membencinya, Arfa akan menyimpan kebencian dan dugaan buruk pada dirinya. Dan mungkin di masa depan akan menjauhinya.

Tidak, Larasati tidak ingin itu terjadi. Ia tidak ingin Arfa membencinya, menjauhinya dan menghilangkan kepercayaan atas dirinya. Ia akan kehilangan Arfa untuk selama-lamanya. Dan cuma kebenaran yang akan merebutnya kembali.

"Aku tidak berbohong padamu, Arfa. Pria itu ... dia memperkosaku. Dia  sudah merenggut kehormatanku dan masa mudaku. Sebenarnya aku tidak ingin menceritakan hal ini padamu. Aku ingin menyimpannya seumur hidupku. Aku tidak ingin kau memandang buruk pada dirimu sendiri dan menyalahkan dirimu sendiri atas sesuatu yang bukan kesalahanmu. Kau sama sekali tidak berdosa. Kelahiranmu bukan merupakan sebuah kesalahan. Dia yang berdosa. Dia, Arfa. Bukan kau."

Arfa mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari bibir Larasati dengan hati terajam. Tangannya terkepal erat. Bibirnya kelu. Ia tidak menyangka kebenaran yang keluar dari mulut ibu kandungnya begitu mengejutkan sekaligus mengerikan.

Pria itu ... sudah memperkosa ibunya. Membuatnya hamil. Membuatnya mengandung dirinya dan juga membuat seorang ibu kandung tidak bisa mengakui anak yang sudah dilahirkannya. Bukan karena ia tidak menginginkannya tapi karena ia mencoba melindungi putranya dari segala cemooh dan hinaan orang bila mereka tahu ia anak yang terlahir dari korban perkosaan.

Dan sekarang ... Pria itu kembali datang dalam hidup mereka. Mengungkap kebenaran itu, menuntut haknya sebagai seorang ayah. Oh, betapa menjijikkannya sebutan itu di telinga Arfa. Pria yang begitu keji, yang sanggup melakukan perbuatan buruk itu. Masih pantaskah disebut seorang ayah? Masih pantaskah dipanggil ayah oleh anak kandungnya yang sudah ia telantarkan bertahun- tahun?

Oh, alangkah bencinya Arfa dengan pria itu!

"Kenapa ... Kenapa saat itu kau tidak melaporkan perbuatannya pada pihak berwajib? Agar ia dihukum. Agar ia menerima semua pembalasan atas perbuatannya padamu."

"Apa kau pikir aku tidak ingin melakukan itu?" Larasati balik bertanya dengan getir. "Aku ingin melaporkan perbuatannya itu pada pihak berwajib. Tapi aku tahu, untuk membuatnya di penjara itu tidak mungkin. Keluarganya kaya dan berkuasa, hukum ada di tangan mereka. Dan tidak ada saksi yang dapat memberatkan. Di masa itu ... aku hanya akan menjadi bahan olok-olok. Bahan cemoohan.

"Tahukah kau, korban perkosaan maupun pelecehan saat itu. Tidak pernah benar-benar mendapat keadilan yang nyata. Selalu pihak korban yang disalahkan. Disudutkan dan dianggap sebagai pihak bersalah karena sudah dianggap mengundang kejahatan pada diri mereka sendiri. Apalagi saat itu banyak orang yang melihat bila malam itu ... aku ... aku datang bersamanya ... "

Dan kisah pedih enam belas tahun lalu kembali terkuak dari mulut Larasati. Arfa terdiam dan makin merasakan hatinya tercabik mendengar kisah pilu itu.

Lembayung di ujung SenjaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang