Sama seperti mamanya, Dewa sangat membenci keberadaan Larasati dan ibunya. Apalagi harus berada satu meja dengan keduanya, baik saat makan pagi maupun makan malam. Karena biasanya bila siang hari, seluruh anggota keluarga masih sibuk dengan aktifitas masing-masing. Jadi hanya pada saat makan pagi dan makan malam seluruh keluarga berkumpul.
Kalau boleh memilih, Dewa enggan untuk satu meja dengan ibu dan anak itu. Apalagi melihat sikap kakeknya yang jelas-jelas terlihat sangat memperhatikan ibu dan anak itu. Jika bukan mandat mamanya, yang menyuruh dia untuk menahan amarahnya. Siapa yang sudi semeja dengan serangga pengganggu itu?
Semeja dengan keduanya masih bisa ditolerir Dewa, namun ketika mendengar kakeknya akan memasukan Larasati di sekolah yang sama dengannya. Amarah dan kebenciannya semakin melonjak di ubun-ubun.
Apa kakeknya benar-benar tidak tahu malu, mau menyekolahkan anak tirinya dan cucu kandungnya dalam satu sekolah? Belum lagi usia anak tirinya dua tahun lebih muda dari cucunya!
Ketika teman-temannya tahu kakeknya yang sudah tua mau menikah lagi dengan perempuan yang lebih muda usianya, Dewa sudah jadi bahan ledekan mereka. Dan sekarang kalau mereka tahu, anak tiri kakeknya yang udik dan kampungan itu bakal satu sekolah dengannya. Dewa yakin dia bakal jadi bahan tertawaan satu sekolah. Meski dia yakin, tidak akan ada satupun anak di sekolah yang berani terang-terangan menertawakannya. Mau dihajar apa? Tapi tidak tahu kalau di belakang punggungnya.
Meski begitu, ia tidak sudi satu sekolah dengan gadis kampungan itu. Merendahkan levelnya saja!
"Dewa gak setuju kalau dia satu sekolah sama Dewa." Dewa mengungkapkan keberatannya. "Dewa gak mau jadi bahan tertawaan teman-teman di sekolah!"
"Apa Opa minta pendapatmu? Untuk apa kamu keberatan? Yang bayar uang sekolah opa, yang mau sekolah Laras. Lah apa urusannya denganmu?"
"Apa gak ada sekolahan lain di Jakarta ini? Kenapa harus satu sekolah sama Dewa?"
"Sekolah lain memang banyak. Tapi yang kepala sekolahnya kenalan opa cuma di sekolahmu. Kalau kamu keberatan Laras sekolah di situ, itu urusanmu! Bukan urusan opa!"
Dewa menahan geram. Pandangannya menyapu wajah Laras yang sudah pucat pasi mendengar pertengkaran kakek dan cucunya itu. Kalau boleh jujur, dia juga tidak mau sekolah di sekolah yang sama dengan Dewa. Ia bahkan tidak mau tinggal di sini. Kehidupannya di Malang sudah baik, buat apa repot-repot pindah ke Jakarta?
Tapi ini semua keinginan ibunya. Laras tinggal dan bersekolah di Jakarta. Tapi kenapa harus satu sekolah dengan Dewa? Laras juga tidak ingin kok bersekolah di sekolah yang katanya terbaik di Jakarta itu. Sekolah mahal, sekolah elit. Yang bayarannya setiap bulan saja sudah jutaan.
Kalau boleh, Laras lebih senang bersekolah di SMA negeri saja. Tapi Tuan Windhu tidak setuju. Masa anak tirinya sekolah di negeri yang bebas uang sekolah? Yang kualitasnya sekarang ini diragukan? Malu ah. Orang kaya, pengusaha besar, anaknya sekolah di negeri yang gratis. Cih, apa kata orang nantinya?
Ibunya sendiri juga menentang, katanya Laras harus belajar jadi anak gedongan. Karena mereka bukan lagi orang miskin seperti dulu. Sudah jadi orang kaya. Jadi Laras harus bersikap layaknya anak orang kaya. Meski Laras sendiri bingung, memangnya bagaimana harus bersikap seperti anak orang kaya?
Lagi pula apa salahnya sekolah di negeri? Malah menguntungkan. Gratis. Tidak ada uang pangkal dan bayaran. Uangnya bisa ditabung buat kuliah. Kata siapa mutunya juga meragukan? Kan tergantung kecerdasan anaknya. Ada kok anak yang otaknya pas-pasan sekolah di tempat yang mahal. Tetap saja nilainya jelek. Tidak pengaruh kan? Tapi sebagai anak, Laras cuma bisa patuh. Menurut. Membantah juga percuma. Nanti dibilangnya anak durhaka.
Karena itu di meja makan dia cuma bisa diam. Berusaha menghindari tatapan Dewa yang tajam dan penuh kebencian. Seakan dengan tatapannya itu, Dewa memberi ancaman terselubung. Ia tidak akan membuat hidup Laras damai. Baik di rumah maupun di sekolah!
Dan terbukti, sejak hari itu hidup Laras memang tidak pernah damai lagi. Di sekolah ia kerap di bully. Laras baru tahu, pengaruh Dewa di sekolah barunya sangat luar biasa. Ia bisa menggerakan teman-temannya untuk mengganggu Laras.
Satu hari ada yang menaruh tikus mati di kolong laci mejanya. Hari lain ada yang menyiram seember air kotor di tubuhnya. Bukan itu saja, bahkan saat makan di kantin ia juga tidak lepas dari gangguan kroni-kroninya Dewa. Dan di sekolah, Laras tidak punya teman.
Di rumah, Dewa memperlakukannya seperti pembantu. Suka menyuruh seenaknya. Berlaku sesuka hati. Tapi tentu saja tanpa sepengetahuan kakeknya atau ibu Laras sendiri. Dewa tidak sebodoh itu.
"Kalau elu berani ngadu, gue pastiin hiduplu hancur!" Itu ancaman Dewa pada Larasati. Yang membuat gadis itu bungkam. Dan Laras cuma bisa diam, menanggung semuanya sendiri. Ia takut Dewa akan berbuat lebih jahat lagi kalau mengadu. Takut ibunya bakal kena imbasnya. Karena baik Dewa maupun mamanya tidak menyukai Laras maupun ibunya.
Dan Laras tidak mau membuat ibunya sedih, ibu terlihat bahagia setelah menikah dengan Pak Windhu. Laras tidak tega menghancurkan kebahagiaan ibunya karena perbuatan Dewa padanya. Jadi selama ia bisa menanggungnya, maka ditanggungnya semua itu sendiri.
Seperti hari ini. Seenaknya saja Dewa masuk ke kamar Laras dan memerintahkan Laras untuk menyetrika bajunya. Padahal Laras sedang belajar, sedang menyelesaikan tugas sekolah yang menumpuk. Laras sendiri heran, sama-sama pelajar. Tapi Dewa terlihat santai.
Belum pernah Laras melihat Dewa belajar atau pegang buku. Lebih seringnya malah main-main dengan teman-teman gengnya. Padahal dia sudah tahun akhir di SMA. Sudah mau ujian. Beda dengan Laras yang baru awal masuk SMA.
Bi Narti, yang saat itu baru saja masuk ke kamar Laras untuk mengantarkan pakaian yang baru selesai disetrika tercengang. Dewa menyuruh Laras menyetrika kemejanya? Padahal dia sendiri baru selesai menyetrika. Kenapa tadi tidak menyuruhnya?
"Biar saya saja, Den. Non Laras sedang belajar. Jangan diganggu."
"Gue nyuruh Laras, Narti. Bukan nyuruh elu. Lagian apa gunanya dia kalo gak mau kerja? Tinggal gratisan di rumah ini?"
Bi Narti terdiam mendengarnya, ia kasihan pada Laras. Den Dewa sering sekali berbuat seenaknya pada Laras.
"Nggak apa-apa, Bi. Biar Laras setrika. Cuma sebentar kok." Dengan sabar Laras mengambil kemeja itu, lalu pergi ke ruang setrika. Sepuluh menit kemudian Laras sudah selesai dan bermaksud memberikan kemeja itu pada Dewa. Ia mengetuk pintu kamar Dewa. Setelah mendengar suara Dewa ia membuka pintu. Tapi kemudian mundur lagi saat melihat Dewa yang baru selesai mandi dan cuma pakai handuk yang menutupi bagian pinggang ke bawah.
"Masuk. Ngapain bengong di situ?"
Wajah Laras terasa panas. Ia belum pernah sedekat ini dengan laki-laki. Apalagi melihat lelaki telanjang dada. Dan terus terang tubuh telanjang Dewa bagus sekali. Torsonya tidak ada bandingnya. Laras tidak ingin masuk, jadi dia tetap berdiri di depan pintu.
"Dewa, ini kemejanya."
"Elu budeg? Gue kan nyuruh lu masuk."
"Aku gak mau masuk."
"Kenapa? Takut lu?" Dewa menyeringai. Puas melihat reaksi Laras yang gugup dan salah tingkah begitu. Dia sengaja telanjang dada sehabis mandi, tidak memakai bathrobe cuma dibelit handuk putih panjang. Ingin tahu bagaimana reaksi gadis ini. Dan ternyata seperti yang ia duga. Laras gugup. Wajahnya memerah. Dan sepertinya ingin cepat-cepat kabur dari situ, tapi tentu saja Dewa tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Maka didekatinya Larasati. Dicengkramnya lengannya kuat.
"Lu takut gue perkosa?" Dan sebelum Larasati menyadari apa yang terjadi, Dewa sudah menarik tubuhnya ke dalam kamar dan menutup pintunya kencang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembayung di ujung Senja
RomanceBagi Dewa Putra Bramasta, Larasati adalah serangga pengganggu. Kehadiran gadis itu sama buruknya dengan ibunya yang tanpa malu merayu kakeknya demi harta. Karena itu ia melakukan berbagai cara untuk membuat gadis itu menderita. Membully, melecehkan...
