Bab 36

8.8K 785 23
                                        

Tidak disangka, cerita ini banyak yang menanti updatetannya ya. Terima kasih untuk yang suka dengan ceritanya.

***

"Mantan istri Om nyebelin," ucap Arfa ketika Priscila sudah diusir dari rumah Dewa. Arfa masih sempat mendengar kata- kata 'ramah' lainnya yang keluar dari mulut Priscila. Jika perempuan itu tidak cepat pergi, mungkin bakal ada perang lain dengan Arfa.

"Iya."

"Sama kayak Om."

Dewa nyaris tersedak ludahnya sendiri mendengar sindiran Arfa.

"Ibu dihina, tapi Om diam saja. Sepertinya Om memang senang kalau ada orang lain menghina ibuku."

"Kalau kamu gak keburu datang, saya pasti gak akan membiarkan Priscila menghina Laras." Bantah Dewa cepat.

"Kalau saya gak keburu datang, entah hinaan apa lagi yang bakal dilontarkan perempuan itu pada ibu."

"Kamu masih berpikir saya tidak akan membela Laras bila ada yang menghinanya?"

"Saya tidak perlu berpikir. Saya cuma bicara berdasarkan fakta, apa yang saya lihat dan dengar!" Ucap Arfa dingin. "Kalau Om mau ibu dan saya menerima Om, seharusnya mulai sekarang Om merubah kelakuan Om sendiri. Seharusnya Om bisa melindungi ibu, tidak membiarkan sembarangan orang menghinanya. Karena faktanya, ibu tidak pantas menerima hinaan itu."

Dewa tidak berkata apa-apa lagi, tidak lagi mencoba berdebat dengan anaknya. Karena jauh di lubuk hatinya, apa yang dikatakan anaknya itu adalah kebenaran.

Ia mungkin bisa menyangkal dan membantah semua hinaan orang yang ditujukan pada Laras. Tapi hanya sebuah bantahan yang dangkal. Ia tidak mungkin mengungkapkan bila semua hinaan yang diterima Larasati, itu semua disebabkan oleh dirinya.

Bagaimanapun, ia tidak mungkin mengungkapkan kejahatannya sendiri. Jadi apa yang diucapkan Arfa padanya, ia sendiri tahu. Itu adalah kebenarannya.

***

"Perempuan gak tahu diri! Sudah selingkuh, sekarang dengan tidak tahu malunya masih mencarimu. Apa dia mau minta rujuk?" Wina masih mengomel, tidak sadar kalau orang yang sedang diajak bicara dari tadi malah sedang melamun.

"Anaknya sakit. Dia datang minta bantuan saya, Ma."

"Anaknya yang sakit, kok datangnya ke kamu? Memangnya anak itu tidak punya ayah?" Wina mencibir. "Atau pria selingkuhannya itu gak mau tahu soal kondisi anaknya? Hukum karma tuh berlaku kan. Dia selingkuh dari kamu, dan sekarang pria selingkuhannya gak mau mengakui anak kandungnya sendiri. Malah gak mau tanggung jawab."

Dewa diam saja mendengar ocehan ibunya. Tapi hanya karena dia diam, bukan berarti Wina juga diam. Perempuan tua itu masih saja mengoceh.

"Mungkin Jonathan gak mau tanggung jawab dan gak mau mengakui anaknya, karena dia tahu si Manda itu bukan anaknya. Perempuan kayak gitu, entah dengan siapa saja dia suka 'main-main'. Untung kamu bisa lepas dari dia Dew. Coba kalau nggak, mama gak bisa bayangin kamu bakal memelihara anak orang yang bukan darah dagingmu sendiri!

"Kamu juga harus secepatnya tes DNA, untuk membuktikan kalau Arfa itu anak kandung kamu atau bukan. Biar kamu gak ketipu. Karena mama masih gak yakin, kalau Laras itu hamil anak kamu!"

Lembayung di ujung SenjaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang