*** Meski terkadang saya tidak membalas semua comment kalian, tapi saya tetap membaca komen-komen kalian yang masuk. Dan semua itu menjadi penyemangat saya. Terima kasih untuk semua follower saya dan pendukung saya di karyakarsa. Salam sehat selalu. (Eykabinaya)
Selesai acara makan malam, ternyata Dewa dan Arfa tidak pulang bersama Laras. Dewa meminta supirnya untuk mengantar Laras pulang, sedangkan ia sendiri memanggil supir lain untuk membawa mobil lainnya dari rumah.
"Mau ke mana sih?" Laras merasa kesal di tinggal sendirian. Sedikit curiga karena baru kali ini Dewa mengajak Arfa pergi berdua dengannya. Yang lebih menjengkelkan, Arfa kali ini tidak membantah. Ia oke, oke saja diajak pergi Dewa. Larasati merasa sedih dan dikhianati.
Dasar bocah! Pikirnya sedikit jengkel. Baru disogok mobil dan arloji mahal sudah tunduk. Mau saja diajak pergi berdua dengan Dewa.
Tapi bukankah itu wajar? Kali ini hatinya kembali berperang. Kau tidak bisa memberikan semua fasilitas yang diberikan Dewa pada anakmu. Wajar bukan bila anakmu begitu gembira menerima semuanya?
Lagi pula Dewa adalah ayah kandungnya. Wajar bukan bila ia memberikan semua yang dimilikinya untuk Arfa? Apa kau lebih senang melihat anakmu tetap berkubang dalam kemiskinan bersamamu? Apa kau tidak ingin Arfa mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya? Hal-hal yang tidak akan ia dapatkan jika tetap bersamamu! Maka berhentilah bersikap picik Larasati! Biarkan Arfa bahagia!
"Aku ingin mengajaknya ke suatu tempat, kamu tidak keberatan kan?" Dewa menjawab tanpa mengangkat kepalanya. Masih asyik dengan ponselnya. Entah ada apa dengan ponselnya itu yang lebih menarik perhatiannya ketimbang meladeni pertanyaan Laras.
"Berdua saja? Kau tidak akan mengajaknya ke tempat yang aneh-aneh kan?"
"Ke tempat yang aneh-aneh seperti apa maksudmu?" Dewa menyipitkan matanya, kali ini menatap Larasati berbahaya. "Kau pikir ke mana aku akan membawa anakku pergi?"
"Mana aku tahu?"
"Arfa itu anakku juga, Ras. Apa menurutmu aku akan menjeremuskannya ke sesuatu yang tidak baik? Sebrengsek apapun aku, aku tetap seorang ayah. Aku tahu mana yang baik dan buruk untuk anakku."
"Jadi kamu mengakui kalau kamu brengsek?"
"Aku cuma brengsek bila di atas ranjang. Kamu mau mencobanya lagi?" Dewa menyeringai nakal menggoda, membuat bulu kuduk Larasati meremang. Ia cepat memalingkan wajahnya kesal. Dasar bajingan! Makinya dalam hati.
Untung saja Arfa segera datang setelah dari toilet. Ia segera menghampiri ibunya.
"Bu, aku pergi dengan Om Dewa ya. Tidak apa-apa kan bu?"
"Ya, tidak apa-apa. Ibu pulang ya, jangan pulang terlalu larut," ucapan terakhir ditujukan Laras untuk Dewa.
"Siap, Nyonya." Dewa tersenyum manis menjawab perintah Laras. Akhirnya meski dengan berat hati, Laras masuk juga ke dalam mobil. Meninggalkan Dewa dan Arfa yang masih menunggu mobil lainnya datang.
Laras baru merasakan apartemen sebesar ini begitu sepi, dengan hanya dirinya yang berada di sini. Biasanya ada suara Arfa yang meramaikan suasana. Atau kehadiran Dewa yang sering mengganggunya dan membuat Laras jengkel.
Sering pula suara perdebatan dan saling mengejek antara Arfa dan Dewa. Arfa kelihatan jelas masih tidak menyukai Dewa.
Namun entah kenapa, malam ini Arfa terlihat dekat dengan Dewa. Melihat keakraban anaknya dan Dewa, Larasati merasa cemburu. Juga takut. Takut bila Arfa melupakannya, takut bila Arfa akan lebih memilih Dewa ketimbang ibunya sendiri. Dan takut bila Arfa semakin jauh darinya.
Sebenarnya Larasati merasakan bila akhir-akhir ini, sikap Arfa pada Dewa memang agak melunak. Sedikit lebih baik. Arfa tidak lagi sering melontarkan kata-kata sinis penuh sindiran pada Dewa. Tidak lagi suka cari gara-gara hanya untuk membuat Dewa sakit kepala.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembayung di ujung Senja
RomanceBagi Dewa Putra Bramasta, Larasati adalah serangga pengganggu. Kehadiran gadis itu sama buruknya dengan ibunya yang tanpa malu merayu kakeknya demi harta. Karena itu ia melakukan berbagai cara untuk membuat gadis itu menderita. Membully, melecehkan...
