Wajah Dewa merah padam mendengar ucapan Larasati. Mungkin diseluruh alam semesta ini, cuma Laras satu-satunya perempuan yang berani menyebutnya iblis. Karena biasanya perempuan-perempuan yang ia temui tidak sempat mengumpat, apalagi berkata kasar bila sudah berhadapan dengannya.
Mereka terlalu sibuk mengagumi ketampanannya, atau silau dengan uangnya. Apalagi bila Dewa sudah mengeluarkan dompetnya. Dan menggesek black cardnya yang tanpa limit itu. Hanya seharga tas merek Louis Vuitton atau Gucci, mereka sudah pasrah membuka pahanya untuk Dewa.
Tapi perempuan satu ini ... dengan beraninya menyebut Dewa iblis. Iblis dengan kedok manusia katanya? Well, meski Dewa akui kalau Laras memang tidak salah. Dia memang iblis. Iblis tampan dan kaya raya. Terus kenapa memangnya?
Toh, bukan salahnya kalau dia menjelma jadi iblis. Dewa menyukai perannya sebagai iblis berkedok manusia. Berpura-pura baik, tapi sebenarnya kejam. Terutama untuk lawan bisnisnya. Kalau tidak begitu, bagaimana ia bisa sukses membawa Windhunoto grup menjadi sebesar sekarang?
"Ya, aku memang iblis. Dan mulai sekarang, hidupmu berada di tangan iblis sepertiku."
***
Laras tidak ingin tinggal di Jakarta. Ia tidak tertarik dengan gemerlapnya kehidupan di kota besar. Atau segala iming-iming yang disebutkan ibunya. Tapi sebagai seorang anak, yang masih berada di bawah tanggungan orang tuanya. Laras tidak bisa menolak keinginan ibunya.
Pertama kali menginjakkan kaki di rumah besar ini, Laras melongo. Tercengang dan terheran-heran. Rumah besar dan megah yang cuma bisa ia lihat di sinetron tv, kini menjulang di hadapannya. Laras tidak pernah bermimpi, apalagi membayangkan bila suatu hari nanti ia bakal tinggal di rumah sebesar ini.
Pintu gerbangnya tinggi, catnya perpaduan putih dan kuning emas. Pilar-pilarnya tinggi. Dan atapnya ... ya ampun, Laras belum pernah melihat atap rumah setinggi itu. Yang luar biasa adalah halamannya. Dari pintu gerbang ke pintu depan rumah jaraknya cukup jauh. Padahal mereka naik mobil. Lalu bagaimana kalau jalan kaki? Pasti pegal.
Belum lagi taman bunganya, ada kolam air mancur segala. Rumah sebesar ini, mirip istana ... Laras sempat berpikir berapa setiap bulannya uang yang harus dikeluarkan untuk perawatannya? Belum lagi buat bayar listrik! Pasti mahal.
Dan Laras tidak percaya bila ibunya bisa menikah dengan pemilik rumah besar ini. Meski cuma nikah siri. Yang tidak ada kekuatan hukumnya. Cuma sah secara agama.
Bukankah dulu ibunya cuma bekerja di rumah ini? Kenapa sekarang bisa jadi nyonya rumah? Pantas saja ibunya memaksa Laras untuk ikut dia ke Jakarta. Memaksa Laras untuk tinggal bersamanya meski Laras bersikeras menolak. Ternyata ibu memiliki alasannya sendiri. Alasannya apalagi? Ya karena ingin berbagi segala kesenangan dan kemewahan yang beliau dapatkan. Meski Laras merasa ia tidak patut untuk ikut menikmati semua kemewahan ini.
Ini bukan miliknya. Bukan milik ibunya. Jadi hak apa yang ia miliki untuk menikmati semua ini?
"Siapa bilang kamu gak berhak? Kamu itu satu-satunya anak ibu. Satu-satunya yang ibu kepengin berbagi kebahagiaan ini sama kamu. Mas Windhu juga sudah menganggap kamu sebagai anaknya sendiri, Ras."
Berbagi kebahagiaan? Bahagiakah nantinya Laras bisa tinggal di rumah semegah ini? Bahagiakah nantinya Laras menerima semua fasilitas yang diberikan ayah tirinya?
Ketika baru saja datang dan bertemu kembali dengan ibunya, Laras tidak menyangka hanya dalam waktu dua bulan penampilan ibunya begitu berubah.
Rambut ibunya digelung anggun. Di telinganya bertengger anting-anting berlian yang menyilaukan mata. Belum lagi leher dan pergelangan tangannya yang dihiasi gelang cantik terbuat dari emas dengan batu-batu permata. Di lehernya juga melingkar kalung cantik yang Laras yakin tidak bisa dibeli dengan gaji ibunya. Bahkan Bu Broto, yang terkenal paling kaya di kampung mereka juga tidak akan mampu membeli perhiasan yang kini dikenakan ibunya.
Daster yang biasa dipakai ibunya digantikan gaun cantik selutut. Kuku-kukunya diwarnai cantik dan dibentuk. Bahkan ibunya yang jarang berdandan kalau di rumah, sekarang berdandan meski dengan make up yang tipis. Ibunya yang memang cantik jadi bertambah cantik.
Banyak sekali perubahan yang terjadi pada ibunya itu. Bahkan tadi Laras dijemput supir di Bandara ketika turun dari pesawat. Mobil yang mengantarnya sampai rumah bagus sekali. Laras belum pernah naik mobil sebagus itu.
Laras ke Jakarta memang naik pesawat. Meski ia sudah bilang pada ibunya ia bisa naik bis atau kereta. Tapi ibunya tidak mengizinkan. Alasannya untuk menghemat waktu. Biar cepat sampai Jakarta. Karena kedatangannya sudah ditunggu suami baru ibunya. Tapi mungkin karena ibunya gengsi. Dia sudah menikah dengan orang kaya, sudah jadi nyonya besar. Jadi harga tiket pesawat bukan masalah.
Dan begitu bertemu dengan suami baru ibunya atau ayah tirinya, Laras lagi-lagi dibuat tertegun. Ibunya ternyata menikah dengan pria tua. Seorang kakek-kakek yang usianya dua kali lipat dari usia ibunya. Tapi meski sudah tua, sudah kakek-kakek. Namun terlihat kalau pria tua ini punya aura orang kaya. Mungkin karena ini ibunya mau dinikahi pria tua ini.
Tapi Laras tidak mempermasalahkan hal itu, asalkan ibunya bahagia. Dengan siapapun ia menikah, asalkan orang itu bisa memperlakukan ibunya dengan baik. Laras tidak keberatan.
Dan terbukti, Pak Windhu terlihat sangat mencintai ibunya. Ia juga sangat ramah menyambut kedatangan Laras. Sikapnya baik dan tulus. Tidak seperti perempuan muda sebaya ibunya yang berdiri di belakang Pak Windhunoto.
Wajahnya asam sekali. Judes. Tidak ramah. Dan pandangannya penuh kebencian pada Laras. Seakan ingin dilumatnya Laras detik itu juga. Tapi pandangan penuh kebencian itu tidak cuma ditunjukkannya pada Laras. Tapi juga pada ibunya.
Saat itu juga Laras sadar, bila hari-harinya ke depan tidak akan seindah bayangannya. Tidak akan seindah bentuk rumah besar yang akan menjadi tempat tinggalnya mulai hari ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembayung di ujung Senja
RomanceBagi Dewa Putra Bramasta, Larasati adalah serangga pengganggu. Kehadiran gadis itu sama buruknya dengan ibunya yang tanpa malu merayu kakeknya demi harta. Karena itu ia melakukan berbagai cara untuk membuat gadis itu menderita. Membully, melecehkan...
