Kalian ada rekomen laptop bagus tapi murah harga 3 jutaan gk sih, yang bagus buat penulis? Kalau ada jawab dikolom komentar ya. Thank you.
****
Laras tidak tahu, apa ia harus mempercayai omongan Dewa atau tidak saat ini. Rasanya teramat mustahil bagi seorang seperti Dewa, 'memberikan' sesuatu tanpa mengharapkan imbalan apapun.
Laras sudah pernah membuktikannya. Tapi percaya atau tidak percaya, Laras mendapati dirinya terjebak dalam situasi saat ini. Ia mendapati dirinya tetap tinggal di apartemen itu bersama Arfa, meski hal itu tidak mengurangi kewaspadaannya pada Dewa.
Dan lambat laun, Laras bisa melihat Dewa memang membuktikan ucapannya. Dewa menjalani fisioterapi dengan rajin, Laras masih menjadi perawatnya. Dewa juga masih mengurusi urusan perusahaannya yang memang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Tapi hebatnya, berita kecelakaan yang menimpa Dewa itu tidak sampai menjadi berita di media. Mungkin karena Dewa bukan seorang artis atau publik figure yang beritanya bisa menimbulkan sensasi. Mungkin karena ia cuma seorang pengusaha besar, yang sebenarnya menjadi salah satu konglomerat penggerak ekonomi negeri ini.
Apapun itu alasannya, sekian lama ketiganya hidup damai dalam satu atap. Laras, Arfa dan Dewa. Meski terkadang Nyonya Wina suka datang berkunjung dan masih dengan sikap bermusuhannya dengan Laras. Tapi boleh dikatakan, kehidupan Laras terkesan tenang dan damai.
Hingga suatu hari, ketika Laras baru saja kembali dari supermarket sehabis berbelanja kebutuhan sehari-hari. Ia bertemu dengan perempuan yang tidak ingin ia temui.
Laras pernah bertemu dengan mantan istri Dewa ini tempo hari. Meski hanya sekilas, meski tidak ada sapaan apapun diantara mereka saat itu. Tapi Laras bisa melihat bila perempuan yang berdiri di hadapannya ini begitu cantik.
Priscila bukan berasal dari kelas yang sama dengannya. Laras sangat menyadari hal itu. Ia tipe perempuan cantik kelas atas yang mungkin seumur hidupnya tidak pernah tahu apa artinya hidup susah. Tidak pernah merasakan panasnya berbaris mengantri kendaraan umum. Atau merasakan panasnya asap dapur.
Bahkan Larasati yakin, lipstik yang dikenakan perempuan ini berharga mahal yang bukan dari merek lokal yang biasa dipakai Larasati. Hanya satu kata yang menggambarkan penampilan Priscila saat ini: cantik, mahal dan berkelas.
Lalu kenapa perempuan berkelas ini malah menghentikan Laras yang hendak masuk ke dalam lift, menuju penthouse tempat tinggalnya sekarang? Dan yang tidak disangka, Priscila juga mengenalnya!
"Laras, kan?"
Meski kelihatannya terdengar sopan, tapi Laras bisa melihat sikap menjaga jarak dan agak merendahkan yang ditunjukan Priscila padanya.
Tiba-tiba saja Laras menyesal, kenapa tadi tidak menerima tawaran Dewa yang menawarkan supirnya untuk mengantar Laras pergi. Kenapa ia harus naik taksi saat keluar tadi? Dan akibatnya ia diturunkan di depan lobby apartemen. Dan harus bertemu dengan Priscila.
Priscila tentu saja tidak bisa langsung masuk ke apartemen Dewa, karena penthouse tidak bisa dimasuki sembarang orang. Setiap penthouse di gedung ini dilengkapi lift pribadi yang hanya bisa diakses penghuninya. Dengan keamanan maksimum. Bahkan ada security yang bertugas di front desk, untuk mencatat setiap tamu yang ingin berkunjung.
Karena penthouse yang dipilih Dewa bukan apartemen biasa, itulah sebabnya Priscila hanya bisa menunggu di lobby. Dan yang mengherankan Laras, apakah Priscila sengaja menunggunya?
"Kamu sudah tahu siapa saya kan? Saya Priscila, mantan istri Dewa."
Laras tidak berkata apa-apa, hanya memandang Priscila datar.
"Saya juga tahu siapa kamu. Kamu perawat pribadi Dewa, tapi saya tahu kamu bukan sekedar perawat pribadinya saja kan?"
Laras harus mengakui perempuan ini sangat pandai sekali menarik minatnya. Ucapan 'kamu bukan sekedar perawat pribadinya" harus diakui Laras membuat perempuan ini mendapatkan perhatiannya.
"Maksud anda?"
"Bisa kita bicara?"
"Maaf, saya harus cepat kembali. Masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan."
"Saya janji tidak akan mengambil banyak waktumu. Hanya bicara. Please?" Priscila menunjuk kursi sofa di lobby yang memang disediakan untuk tamu yang ingin membuat janji temu. Atau penghuni apartemen sendiri yang ingin duduk-duduk santai.
Laras menghela napas, sepertinya jika ia menolak. Priscila akan nekat membuntutinya atau mungkin membuat keributan agar Laras setuju. Ia sangat mengenal tipe perempuan seperti Priscila.
"Apa yang mau anda bicarakan dengan saya?" tanya Laras begitu mereka sudah duduk berhadapan.
"Laras, saya sengaja datang menemuimu. Untuk minta tolong sama kamu. Tolong bantu saya untuk membujuk Dewa, agar mau menolong anak saya Manda berobat di luar negeri. Kamu juga seorang ibu seperti saya, kamu pasti mengerti bagaimana rasanya melihat anak kandung kita sendiri. Terbaring sakit, sementara kita tidak berdaya untuk berbuat sesuatu.
"Saya sudah habis-habisan, sudah melakukan segala cara untuk kesembuhan anak saya. Tapi penyakit Manda tidak kunjung membaik. Sementara ia masih butuh biaya pengobatan yang besar. Dan satu-satunya jalan adalah membawanya berobat ke luar negeri. Tapi saya tidak punya uang lagi. Seluruh tabungan saya sudah habis. Dan cuma Dewa yang bisa membantu saya.
"Jadi ... tolong saya Laras, tolong bujuk Dewa untuk membantu biaya pengobatan Manda. Hanya dia satu-satunya harapan saya."
Kalau Laras tidak mengetahui alasan Priscila diusir oleh Dewa dari tempatnya tempo hari. Mungkin saat ini Laras bisa tertipu dengan wajah sedih dan raut putus asa Priscila. Meski saat ini Laras pun merasakan sedikit rasa iba pada Priscila. Tapi ia ingat, Priscila diusir dari tempat Dewa karena pertengkarannya dengan Arfa. Dan alasannya karena dirinya.
Karena itu Laras merasa heran, bagaimana Priscila bisa memiliki ide untuk bertemu dengannya. Dan memohon- mohon pada Laras agar membantunya membujuk Dewa untuk menolong anaknya. Apa yang sebenarnya dipikirkan perempuan ini? Apa maksud dibalik semua permohonannya ini?
"Maaf. Bagaimana anda bisa berpikir kalau saya bisa membujuk Dewa untuk membantu pengobatan putri anda? Saya cuma seorang perawat. Tidak punya kuasa apapun untuk mempengaruhi Tuan Dewa membantu siapapun. Saya rasa anda salah orang."
"Tapi kamu bukan perawat biasa! Saya tahu kamu bukan sekedar perawat pribadinya. Arfa itu ... dia putramu kan?"
Laras tidak menyembunyikan keterkejutannya. Jadi perempuan ini sudah menyelidikiku, pikir Laras. Ia datang bukan tanpa persiapan sama sekali. Ia tidak bodoh. Ia tahu apa yang dilakukannya dan apa yang diinginkannya.
"Saya sudah bertemu Arfa. Mirip sekali dengan Dewa. Dia putra kalian berdua kan? Putra yang kalian miliki di belakang punggungku. Mengingat usianya yang lebih tua dari Manda. Itu artinya ia telah berhubungan lama denganmu. Laras, katakan pada saya. Berapa lama kamu sudah menjadi simpanannya? Berapa lama Dewa menyembunyikan kalian berdua dalam bayang-bayang?
"Apa kamu bangga menjadi perempuan simpanan? Apa kamu bangga sudah menghancurkan pernikahan saya dan Dewa? Apa kamu merasa bangga karena akhirnya Dewa lebih memilih kamu daripada saya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembayung di ujung Senja
RomanceBagi Dewa Putra Bramasta, Larasati adalah serangga pengganggu. Kehadiran gadis itu sama buruknya dengan ibunya yang tanpa malu merayu kakeknya demi harta. Karena itu ia melakukan berbagai cara untuk membuat gadis itu menderita. Membully, melecehkan...
