Bab 17

12.2K 597 9
                                        

Eeww, maju mundur mau nulis part ini. Semoga gak kena banned ya akun saya dan gak ada bocil yang baca. Ingat ya ini novel 21+. Ada di tagar kan?

*****

Semuanya sudah terlambat ...

Ketika Laras menyadari ada yang salah dengan minumannya, ia sudah dibawa pergi oleh Dewa. Ke sebuah kamar kosong yang ada di belakang diskotik itu.

Laras tidak mengerti kenapa diskotik seperti ini menyediakan kamar untuk pengunjungnya. Otaknya berkabut, tubuhnya panas. Tapi kesadarannya masih tersisa ketika melihat Dewa yang sedang berada di atas tubuhnya, melucuti pakaiannya. Dan firasatnya mengatakan ini bukanlah hal yang baik.

"Jangan ... " Laras terisak berusaha mendorong tubuh Dewa yang sedang menindihnya dan membuka gaunnya. Tangannya menempel di dada Dewa, lemas, tidak bertenaga. Minuman apa yang diberikan Dewa padanya? Bukankah itu cuma jus biasa?

Tapi kenapa tubuhnya begitu lemas? Kenapa begitu bergairah oleh setiap sentuhan Dewa?

"Yakin lu mau gue berhenti?" Dewa menyeringai melihat wajah Larasati di bawahnya. Ada kabut gairah di sana, rambut hitam panjangnya tergerai indah di atas bantal. Matanya menatap Dewa berkaca-kaca dengan manik air mata. Larasati sedang berperang dengan dirinya. Antara menyerah dengan nafsunya yang dipicu oleh obat atau tetap mempertahankan rasionalitasnya yang semakin terkikis habis.

Apalagi ketika tangan Dewa melepas tali gaun di bahunya, menampakan payudara Laras yang terbungkus bra hitam. Lalu tanpa aba-aba lagi, tangan Dewa melepas bra itu. Membuangnya ke lantai.

Matanya menatap payudara Laras yang bulat putih sempurna. Tidak terlalu besar, tidak juga terlalu kecil. Tapi Dewa tahu di masa depan, payudara ini akan semakin tumbuh dengan indahnya. Payudara Laras merona dan tampak indah karena gairah. Dewa menyentuhnya dengan ujung lidahnya sambil mendesah.

Kepalanya menunduk dan menekankan bibirnya. Lidahnya yang panas dan meliuk-liuk membuat Laras kehilangan kendali diri. Sementara dari mulutnya terdengar rintihan pelan. Reaksi Laras membuat Dewa semakin terangsang. Tidak sia-sia obat yang ia campurkan ke minuman Laras saat melihat reaksi Laras atas semua sentuhannya.

Biasanya, Dewa tidak pernah menggunakan obat apapun untuk membuat seorang cewek takluk di bawah tubuhnya. Mereka sendiri yang secara suka rela menyodorkan diri padanya.

Tapi Laras berbeda. Semakin dikejar, semakin ia lari menjauh. Tidak mungkin Dewa berharap Laras akan menyerahkan dirinya dengan suka rela bila tidak dengan cara yang kotor. Gadis itu terlampau tinggi menjaga harga dirinya.

Dan sekarang, melihat gadis itu terbaring di bawahnya tidak berdaya. Hanya ada rasa puas dan bangga sebagai seorang lelaki. Yang telah berhasil menaklukan gadis incarannya.

"Jangan takut," bisik Dewa menghapus air mata Laras yang mengalir karena rasa takut dan malu. Tubuh Laras sudah telanjang dan begitu juga dengannya. Tangan Dewa terulur ke bawah dan meletakkan tangannya di atas inti kewanitaan Laras. "Gue udah bilang bakal bikin lu menikmati surga dunia kan?"

Tapi Laras tidak ingin menikmati  surga yang dikatakan Dewa. Hatinya diliputi rasa marah, takut, malu dan jijik bercampur jadi satu. Ia tidak ingin melihat tubuh telanjang Dewa dan apa yang dilakukannya pada tubuhnya. Namun rangsangan obat itu begitu kuat. Meski Laras mencoba melawan tapi ia kalah oleh gairahnya sendiri.

Ia memalingkan wajahnya ketika Dewa ingin mencium bibirnya. Tapi dengan paksa Dewa mencengkram dagunya dan langsung melumat bibir Laras yang basah dan merona. Bibirnya menghujami Laras dengan ciuman panas penuh gairah berkali-kali. Lidahnya menjelajah masuk mempermainkan mulut Laras hingga gadis itu merintih kesakitan, membuat gairah Dewa semakin memuncak.

Matanya berkilat penuh gairah melihat keindahan payudara Laras, tangannya meraih pinggul gadis itu agar sejajar dengan pinggulnya. Laras tercekat saat merasakan tangan Dewa meraih pinggulnya dan menariknya ke bawah ke kejantanannya yang sudah siap.

Saat kejantanan itu menerobos masuk, ada yang menghambat dan desah pelan kesakitan. Dewa tercengang.

"Jadi beneran elu masih perawan ... ?" Ekspresi Dewa saat ini tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata. Waktu ia bertanya pada Laras saat itu, apakah ia masih perawan. Sebenarnya Dewa juga tidak yakin. Meski usia Laras masih enam belas tahun, tapi banyak cewek seusianya yang sudah tidak perawan lagi. Dewa sendiri sudah melepas keperjakaannya di usia lima belas! Karena itu saat ia tahu Laras benar-benar masih perawan, Dewa tidak tahu harus berkata apa.

Tapi jauh di lubuk hatinya ia senang. Ia laki-laki pertama yang menyentuh Laras. Gadis ini benar-benar masih suci dan belum berpengalaman. Untungnya, Laras jatuh ke tangannya. Cowok dengan segudang pengalaman.

Laras tidak ingin menanggapi, tidak ingin mendengar apapun juga. Ia hanya memejamkan matanya rapat ketika Dewa memasuki dirinya. Hanya air matanya yang masih deras mengalir.

Ia bahkan tidak peduli dengan rasa sakit yang ditimbulkan Dewa, meski kemudian Dewa menciuminya untuk menghilangkan rasa sakit itu. Dan tangannya yang menjelajah sekujur tubuh telanjang Laras untuk merangsang gadis itu.

Dan rupanya usahanya berhasil. Meski matanya masih terpejam. Meski air matanya masih mengalir. Tapi Laras bisa merasakan gerakan Dewa di atas tubuhnya. Cumbuan bibirnya dan remasan tangannya di atas buah dadanya.

Dunia mereka mulai berguncang kemudian pecah lepas. Yang terdengar hanya suara erangan dan napas panas memburu. Tubuh berkeringat Dewa ambruk di atas tubuh Laras setelah mencapai pelepasannya. Ia belum pernah merasakan kepuasan seperti ini sebelumnya.

"Jangan menangis, sayang," bisik Dewa lembut menghapus air mata Laras. "Aku bakal bikin kamu 'bahagia' malam ini."

Setelah yang pertama, Dewa memang jauh lebih lembut melakukannya. Laras tidak ingat apa-apa lagi. Hatinya menjerit tidak rela atas perbuatan Dewa padanya, tapi tubuhnya mengkhianatinya. Ia hanya bisa pasrah dengan perlakuan Dewa. Hingga tidak sadar berapa kali mereka melakukan itu, sama tidak sadarnya dengan Dewa yang lupa memakai pengaman saat ini.

Saat segalanya sudah terlambat, Laras sudah jatuh tak sadarkan diri di pelukan Dewa.

Lembayung di ujung SenjaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang