Bab 4

16.1K 817 12
                                        

Sekali lagi saya minta maaf kalau saya sudah mengecewakan kalian semua, karena sudah unpublish cerita KCA. Karena kalau saya tidak mood menulis satu cerita, hasilnya malah bakal jelek dan mengecewakan kalian. Sumimasen.

Saya harap kalian menikmati cerita-cerita saya yang lainnya ya. Arigato.

****

Ketika Larasati berusia enam belas tahun, ibunya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta mengajak Larasati untuk tinggal bersamanya. Larasati yang selama ini tinggal di Malang bersama Pakde dan Bu denya tentu saja menolak.

Ia baru sebulan masuk SMA. Baru kenal teman-teman barunya dan sekarang ibunya malah mengajak ia tinggal di Jakarta bersamanya.

"Kenapa Laras harus ikut ibu ke Jakarta? Di sana kan ibu kerja, memangnya boleh kerja sambil bawa anak?"

"Justru majikan ibu Pak Windhu yang nyuruh ibu ngajak kamu. Dia mau kenal kamu, kepengin kita tinggal bareng sama beliau."

Apa ada majikan pembantu yang ingin kenal anak pembantunya? Kok aneh?

"Buat apa bu, beliau kepengin kenal sama Laras?"

"Katanya biar akrab sama kamu. Lagian di Jakarta nanti kamu masuk sekolah yang bagus. Pak Windhu mau nyekolahin kamu di Sekolah elit yang ada di Jakarta. Satu sekolah sama cucunya!"

"Memang di Malang gak ada sekolah yang bagus apa, Bu? Sampai Laras harus sekolah di Jakarta segala? Lagi pula aneh, kenapa Pak Windhu kepengin akrab sama Laras?"

"Karena sebentar lagi kita bakal jadi anggota keluarganya."

Jadi anggota keluarganya? Apa sih maksud ibunya? Kenapa ngomongnya jadi aneh begitu?

"Laras gak mau pindah ke Jakarta ah, Bu. Laras tinggal di sini saja. Kan ada Pak de Yon sama Bu dhe Ti. Ibu gak usah khawatir soal Laras. Di sini juga kualitas pendidikkannya sudah bagus. Ibu tahu Universitas Brawijaya? Itu, isinya bukan cuma orang Malang thok. Orang Jakartanya juga banyak yang kuliah di situ. Itu artinya mutu pendidikkan di Malang gak kalah sama Jakarta kan, Bu?"

Semenjak ditinggal ayahya, Larasati memang sudah tinggal dengan Pakde dan Budhenya. Ayahnya meninggal sejak ia berusia lima tahun, setelah suaminya meninggal ibunya nekat pergi ke Jakarta buat bekerja. Sudah beberapa kali ganti majikan. Dan yang terakhir ini, ibunya bekerja pada keluarga Windhunoto. Yang konon katanya keluarga konglomerat.

Ibunya sepertinya kerasan bekerja di sana. Setiap pulang kampung saat lebaran, selalu bawa oleh-oleh banyak. Dan tidak ada habis-habisnya ceritanya tentang majikannya yang bernama Pak Windhu.

Katanya Pak Windhu majikan paling baik di dunia. Majikan yang sangat baik dibandingkan majikan-majikan ibu yang lain. Ibu bahkan diberi kamar sendiri di rumah itu, kamarnya besar dan bagus. Tidak seperti kamar pembantu. Yang biasanya kecil dan letaknya di belakang. Nyempil sendiri.

Tapi kamar ibu beda, bahkan ada kamar mandi di dalam kamar. Lengkap dengan bathtub dan air hangat. Bayangkan, airnya bisa berubah-ubah. Bisa dingin dan juga hangat. Kalau udara panas, mandi air dingin. Di musim penghujan, mandi air hangat. Tidak usah susah-susah merebus air panas dulu di panci. Tinggal putar, maka mengalirlah air hangat. Enak sekali.

Kamar ibu juga ada ACnya. Juga televisi besar. Bayangkan! Kamar ibu diberi fasilitas AC dan televisi. Sedangkan kamar Laras saja tidak ada ACnya. Cuma kipas angin. Itu juga jarang dinyalakan. Buat apa? Toh udara Malang kalau malam itu dingin. Enak buat kemulan sarung.

Televisi di rumah Budhenya cuma ada di ruang tengah. Tidak ada ditiap kamar.

Belum lagi kalau ibunya pulang kampung. Banyak sekali yang dibawa. Untuk Laras, Budhe Ti, untuk Pakde Yon dan juga untuk Kuswara dan Adit. Kedua anak Pakde dan Budhe.

Kata ibu semua itu pemberian dari Pak Windhu, majikannya. Beliau bahkan menitipkan uang sangu untuk Laras. Katanya uang lebaran. Dan besarnya satu juta!

Ya ampun, Laras belum pernah punya uang sebanyak itu. Satu juta! Ia bisa simpan uang itu sebagai tabungan pribadinya. Toh selama ini uang kiriman dari ibunya tidak pernah kurang. Selalu berlebih malah.

Gaji ibu kali ini di Jakarta pasti besar. Buktinya bisa mengirimi Budhe setiap bulan, jumlahnya selalu besar. Uang itu digunakan Budhe untuk makan sehari-hari dan kebutuhan Larasati. Meski setiap bulan Larasati juga mendapat kiriman uang saku dari ibunya. Tapi ibunya juga mengirimi Budhe uang bulanan.

Dari gajinya juga ibu bisa beli rumah di Malang, lumayan besar dengan halaman yang luas. Meski tidak ditempati karena Larasati masih tinggal dengan Budhenya, rumah itu dikontrakan. Dan uangnya ditabung tiap bulan untuk kuliah Larasati nanti.

Larasati ingin sekolah perawat bila lulus SMA. Ia bercita-cita menjadi perawat seperti tetangganya Mbak Eni. Yang tugas di RSUD. Rasanya keren bila melihat Mbak Eni dengan seragam perawatnya. Terlihat gesit dan berwibawa.

Dan kebetulan sahabatnya, Desi Pratanti juga ingin jadi perawat juga. Karena itu mereka sudah bersumpah bakal mewujudkan cita-cita mereka. Sekolah yang pintar dan dapat nilai bagus. Lalu lanjut sekolah perawat.

Lalu sekarang ibunya memaksa Larasati buat pindah ke Jakarta. Terus terang, Larasati tidak rela. Tidak rela kehilangan teman- temannya, tidak rela jauh dari sahabatnya. Terlebih lagi bila ia tinggal di Jakarta, apa ibu masih mengizinkan dia sekolah perawat?

Kenapa pula ia yang cuma anak seorang pembantu harus kuliah di sekolah elit? Yang katanya di situ juga ada cucunya Pak Windhu yang bersekolah di sana.

Larasati sudah membayangkan, sekolah seperti apa yang akan ia masuki nanti. Pasti sekolah itu penuh dengan anak-anak orang kaya. Apa pantas ia yang cuma anak seorang pembantu bersekolah di sekolah yang isinya anak-anak gedongan semua?

Memikirkannya, Larasati sudah hilang semangat. Karena itu ia bersikukuh tetap tidak mau pindah. Di Malang ataupun Jakarta, di manapun ia bersekolah baginya sama saja. Ia tidak perlu bersekolah di sekolah elit, tidak perlu bersekolah di sekolah yang katanya memiliki kurikulum internasional.

Yang terpenting baginya hanya satu, ia cuma ingin lingkungan sekolah yang mau menerimanya. Itu saja!

Lembayung di ujung SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang