02. STONE MINER

1.1K 78 60
                                        

Hari ini adalah hari pertamanya setelah tiba di Ragnarok dan dia sudah mendapatkan tugas, yang mana dia sedikit menyesal menyetujui hal itu. Ya, tugasnya adalah menggali markas bawah tanah hingga ke bedrock.

Entah sudah berapa lama dirinya berada di sana, yang jelas ia benar-benar sudah merasa muak melihat bebatuan yang tak kunjung habis. Ia pun memutuskan untuk keluar sejenak sebelum kembali bekerja, dirinya butuh pemandangan selain bebatuan dan udara bebas.

Benar saja, begitu ia keluar udara segar langsung menyapanya. Ia pun menyisir rambutnya yang basah dengan tangan dan duduk di tepi laut sembari menunggu pakaiannya mengering, aroma yang menenangkan lautan menyapa indra penciumannya membuatnya tersenyum. Setidaknya rasa bersalah itu sudah mulai berkurang, lagipula segalanya layak dilakukan demi keluarganya.

"Hei Ajul!"

Ajul menyerngit melihat penampilan pemuda itu yang nampaknya hendak berpergian. "Kau mau kemana?"

Pemuda imut itu pun terkekeh. "Aku hanya ingin pergi mencari deepslate untuk bahan pembangunan kastil, kau mau ikut?"

Ajul pun mengangguk, kebetulan dirinya juga merasa bosan. Tanpa banyak basa-basi, Ajul pun segera bangkit dan berjalan mengikuti pemuda itu masuk ke dalam portal.

"Apakah ada perahu?" tanya Ajul pada OmenD yang sudah terlebih dahulu di jalur Nether, namun pemuda itu menggeleng. "Oke, kau naik saja kalau begitu."

OmenD mengerjakan matanya beberapa kali sebelum naik ke atas Ajul dan duduk di sana, barulah pemuda bernetra merah itu melemparkan ramuan kecepatan dan berlari dengan cepat sepanjang jalur es.

"Jadi kita mau kemana?" tanya Ajul begitu mereka keluar dari rute es, OmenD pun menunjuk ke arah jalan menuju markas lama.

"Aku sudah mengumpulkannya di markas lama, kita hanya perlu memindahkan mereka semua ke markas baru."

Ajul pun menoleh ke atas. "Berapa banyak yang harus kita pindahkan?"

Pemuda yang duduk di atasnya itu pun berdeham. "Kurang lebih ... dua peti besar? Aku kurang tahu jumlah pastinya ...."

Mendengar hal itu, pemuda bermanik merah itu pun menghela napas. Namun mau bagaimana lagi? Akhirnya ia terus berjalan sembari terus menggendong rekannya itu hingga tiba di depan pintu portal markas lama.

"Berapa banyak lagi yang kau butuhkan untuk menyelesaikan kastil itu?" tanya Ajul sembari berjalan beriringan dengan pemuda itu, yang ditanya pun tertawa pelan dan menoleh ke arahnya.

"Entahlah, bahkan kurasa lima belas peti besar pun belum tentu cukup untuk menyelesaikan kastil itu. Belum lagi ... pembangunan di markas bawah tanah. Ubi belum memberikan rancangan pembangunan kepadaku ataupun Kaira mengenai tempat itu."

"Ah begitu ...." Ia pun menoleh ke arah pemuda di sebelahnya dan memasang senyum tipis. "Kalau begitu, mulai sekarang kau fokus saja pada pembangunan. Bilang saja kepadaku jika kau butuh sesuatu, aku pasti akan membantumu."

OmenD pun menoleh ke arah pemuda bermata merah gelap tersebut, aura kebahagiaan begitu terpancar dari tubuhnya. "Kau sungguh-sungguh dengan perkataanmu itu?"

Ajul pun mengangguk. "Tentu saja, ini jauh lebih baik daripada aku harus menggali hingga ke bedrock. Lagipula masih ada Garox ataupun Citem yang bisa melakukan hal itu, setidaknya dengan begitu mereka akan menjadi jauh lebih berguna."

Mendengar hal itu, sontak OmenD tertawa. Apa yang dikatakan Ajul benar adanya, walaupun pemuda itu baru saja bergabung namun yang ia katakan sangatlah akurat. Lagipula, Ajul dapat dikatakan jauh lebih mengenal mereka berdua dibandingkan dirinya sendiri mengingat dirinya hanyalah seorang pendatang baru.

AZAZEL [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang