Benar seperti dugaan Narendra sebelumnya, perjalanan mereka kali ini cukup panjang. Bukan karena memang perjalanannya yang begitu jauh, namun keduanya tersesat sehingga sempat hanya berputar-putar di dalam hutan.
Mereka baru tiba di tempat itu saat matahari sudah tiba di ufuk barat, bersiap untuk beristirahat. Keduanya langsung menghela napas lega begitu tiba di sana.
"Hei, Narendra. Aku sarankan untuk kau tidak bicara macam-macam, oke? Kau bilang bahwa kau merasa ini akan menjadi perjalanan yang panjang, benar saja kita baru tiba selarut ini," gerutu Ajul.
"Berhenti menyalahkanku, kau bisa mati kelaparan jika tidak sarapan tadi pagi." Narendra pun segera meninggalkan pemuda itu, dirinya malas menghadapi omelan pemuda itu.
Cukup dirinya harus berhadapan dengan omelan Evan saja, tidak perlu ditambahkan dengan Ajul. Bisa-bisa dirinya menjadi tuli jika harus menghadapi keduanya di waktu yang bersamaan.
Ajul hanya berdecak sebelum berlari mengejar Narendra yang berhenti di hadapan sebuah batu nisan yang berada tepat di depan pintu masuk bangunan tersebut.
"Indra Zedong?" heran Ajul saat membaca nama yang tertulis pada batu tersebut, seingatnya tidak ada seseorang pun yang ia kenal dengan nama tersebut. "Apakah itu nama pemilik tempat ini?"
"Mana aku tahu, aku sendiri tidak pernah menjelajahi tempat ini secara menyeluruh," balas Narendra.
"Pantas saja tadi kita tersesat." Ajul pun merotasikan bola matanya malas sebelum masuk ke dalam gua tersebut.
Gua tersebut sangatlah luas, yang mana di dalamnya terdapat bangunan-bangunan yang masih berdiri kokoh. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana, hanya sisa-sisa peradaban saja.
"Tempat ini ... luar biasa ...." Ajul menatap ke sekeliling tempat itu dengan kagum, terutama dengan pemandangan tanaman rambat yang menghiasi seluruh bagian gua tersebut.
Mereka terus menjelajahi satu persatu ruangan yang berada di tempat itu. Semakin jauh mereka pergi, semakin rumit pula pemandangan yang mereka lihat.
"Tempat ini ... sepertinya adalah tempat yang damai pada zamannya ...." gumam Ajul sembari menyentuh salah satu tanaman merambat yang berada di dinding gua tersebut. "Entah kenapa aku merasa seperti itu dengan tempat ini."
Hingga pada akhirnya, keduanya mendengar samar-samar sebuah suara yang berasal dari salah satu ruangan yang berada di bawah tanah. Didorong oleh rasa penasaran, akhirnya keduanya pun segera mendekati sumber suara tersebut.
Di ujung ruangan, terdapat seorang pria yang tengah mendengarkan rekaman suara. Ajul dan Narendra saling bertatapan sebelum mendekati pria tersebut.
"Siapa kau?" tanya Narendra yang membuat pria itu menoleh, ternyata itu adalah Febfeb.
"Narendra? Ajul? Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Febfeb sambil menyerngit heran, Ajul pun bersidekap dada sembari menghela napas.
"Bukankah seharusnya kami menanyakan hal yang sama kepadamu? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku sendiri hanya sedang berjalan-jalan untuk mencari bahan-bahan sebelum tidak sengaja menemukan tempat ini." Kemudian pria itu menatap kedua orang yang berdiri di hadapannya itu. "Cukup aneh mengingat kalian berdua seharusnya tidak bersama, mengingat kau adalah anggota Ragnarok."
"Memang benar aku membenci anggota Aliansi," balas Ajul sebelum melirik ke arah rekannya itu. "Namun tidak dengan Centerra, aku masih menganggap mereka seperti keluargaku."
Febfeb pun tertawa mendengar pernyataan Ajul yang terdengar naif. "Hei bocah, Centerra itu termasuk ke dalam Aliansi. Bagaimana ceritanya kau membenci aliansi, tapi tidak dengan Centerra?"
KAMU SEDANG MEMBACA
AZAZEL [Completed]
Fiksi Penggemar[Revised] Main cast : Ajul / Azazel (Aspect30) Brutal Legends Universe! Phase 2! BxB, Fluff, no lemon, hareem. Terjebak di sebuah dunia yang penuh dengan legenda, kutukan, dan pengkhianatan sama sekali tidak menyurutkan langkahnya, bahkan jika ia ha...
![AZAZEL [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/355840738-64-k194782.jpg)