Ajul seperti biasa mengisi sore harinya dengan merenung, terutama mengenai kejadian tadi pagi dan beberapa hari yang lalu. Entah mengapa, dirinya akhir-akhir ini menjadi lebih tempramental dari biasanya.
Walaupun dirinya telah mengaku di depan pusara OmenD, namun apakah dirinya benar-benar menyukai pemuda itu? Ataukah itu hanya perasaan kehilangan seorang teman?
Kenapa dirinya seakan tidak pernah protes pada perlakuan Maji? Kenapa dirinya memperlakukan Garox dan pria itu dengan sangat berbeda? Bukankah jika dipikir-pikir apa yang dilakukan keduanya itu sama?
Dirinya pun menggeleng, sungguh ia masih tidak paham dengan dirinya sendiri. Kalau memang dirinya menyukai Maji dan OmenD, bagaimana bisa dirinya menyukai keduanya pada saat yang sama?
Bukankah seharusnya tidak ada dua hati dalam waktu yang bersamaan? Ditambah, keduanya memiliki kepribadian dengan perbedaan sejauh langit dan bumi.
Entah mengapa dirinya tiba-tiba mendapat ide yang cukup bagus, yakni bercerita kepada Kaira. Kalaupun wanita itu tidak dapat membantunya, setidaknya dirinya akan ikut pusing bersama.
Ya, rencana yang bagus.
Dirinya kemudian segera bersiap untuk pergi mengunjungi rumah kakak angkatnya itu, yang kebetulan wanita itu sedang berada di depan rumahnya.
"Kaira!"
Kaira yang awalnya tengah menyiram bunga yang ia tanam di depan jendela rumahnya itu pun menoleh. "Kenapa Ajel? Apakah kau butuh sesuatu dariku?"
"Sebenarnya ada ...." Dirinya kemudian menoleh ke sekitar, kemudian ia kembali menatap sang kakak. "Bisakah aku menyampaikan keluh kesahku kepadamu? Jujur saja, ini cukup mengganggu diriku belakangan ini."
"Apakah ini seputar Maji dan OmenD?"
Wajah Ajul kini memerah, dirinya memilih untuk menatap arah lain. Apakah dirinya memang sangat mudah untuk dibaca?
Kaira yang melihat reaksi Ajul pun tertawa dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam rumah. "Kau duduk saja di atas kursi itu, aku akan mendengarkan ceritamu itu sembari membuat sup."
Pemuda itu hanya mengangguk dan kemudian mengikuti arahan dari sang kakak angkat, kemudian dirinya menghela napas. "Kaira, apakah salah jika aku menyukai dua orang dalam waktu yang bersamaan?"
Belum saja wanita itu memulai agendanya, ia sudah menghentikan pergerakannya. Kemudian dirinya duduk di atas kasurnya sambil menatap sang adik angkat antusias. "Oke, aku tidak jadi membuat sup. Ceritamu jauh lebih menarik, jadi cepat lanjutkan."
Ajul kemudian menatap malas wanita itu, namun dirinya tetap akan melanjutkan ceritanya. "Jujur saja, aku masih ragu mengenai perasaanku sendiri. Aku masih merasa ... tidak mungkin aku menyukai laki-laki, kan?"
"Cinta itu tidak memandang apapun, Adikku sayang." Kaira pun bersidekap dada. "Nah, sekarang aku akan bertanya kepadamu. Apa yang kau rasakan kepada mereka? Khawatir jika ada hal buruk yang terjadi kepada mereka? Rasa takut akan kehilangan?"
Ajul mengangguk ragu. "Iya ... kurasa? Sepertinya itu yang aku rasakan saat permainan senjata keempat."
"Di antara Maji dan OmenD, siapa yang paling kau khawatirkan?" Kaira pun nampak berpikir sejenak, mengingat kembali kejadian di hari itu. "Menurut firasatku ... kau sangat mengkhawatirkan OmenD."
"Bagaimana kau tahu?"
Kaira pun berdecak. "Kau itu sangat terbaca, kau tahu? Saat OmenD tiada, kau langsung bergerak untuk mencarinya. Aku memperhatikan matamu di hari itu, kau merasakan kekecewaan."
Ajul pun menghela napas. "Ya ... aku memang merasa kecewa. Sejak awal, dirinya selalu mengatakan kepadaku untuk tidak memaksakan diri dalam permainan. Tapi apa yang terjadi? Dirinya malah pergi mengorbankan diri."
KAMU SEDANG MEMBACA
AZAZEL [Completed]
Fanfic[Revised] Main cast : Ajul / Azazel (Aspect30) Brutal Legends Universe! Phase 2! BxB, Fluff, no lemon, hareem. Terjebak di sebuah dunia yang penuh dengan legenda, kutukan, dan pengkhianatan sama sekali tidak menyurutkan langkahnya, bahkan jika ia ha...
![AZAZEL [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/355840738-64-k194782.jpg)