23. CREDENCE

359 42 8
                                        

Pagi hari telah tiba, kewajibannya untuk memberi makan para axolotl tersebut pun telah selesai. Kini sudah saatnya dirinya membawa pulang makhluk-makhluk tersebut dan memberikannya kepada Maji, dengan beberapa persyaratan tentu saja.

Bahkan belum genap satu hari ia pergi, ia sudah tertinggal kabar. Begitu ia kembali, OmenD dan Kaira langsung menyambutnya dengan heboh, membawa kabar bahwa identitas Joker telah terbongkar.

Mengapa saat ia pergi selalu saja hal penting yang terjadi?

"Aku yakin kau pasti tidak akan percaya," ujar Kaira yang kemudian diangguki oleh OmenD.

"Bahkan aku sendiri tidak percaya tentang identitas asli Joker adalah orang itu, namun Ubi sendiri yang telah membawanya kemari," tambah OmenD.

Ajul pun menyerngit. "Memangnya siapa sebenarnya orang yang disebut-sebut Joker itu? Hingga kalian nampak sangat tidak percaya seperti itu."

Namun, kedua orang itu malah saling berpandangan dan tertawa.

"Kami rasa ... akan jauh lebih baik jika kau melihatnya secara langsung, Jel. Aku yakin kau sendiri pun tidak mampu berkata-kata saat melihatnya."

"Namun aku sarankan, lebih baik kau persiapkan dirimu saja," tambah OmenD sembari terkekeh yang membuat firasat Ajul tidak enak, memangnya siapa sebenarnya sosok dibalik identitas Joker tersebut?

"Kebetulan sekali, kita diminta untuk berkumpul di markas lama sebab Joker telah membawakan seseorang yang sangat berguna untuk kita," ujar Kaira, ia pun tersenyum miring. "Ayo kita pergi, yang lain sudah pergi terlebih dahulu."

OmenD pun menyuruh keduanya untuk naik ke atas pundaknya agar mereka bisa berpergian dengan lebih cepat, yang mana kemudian mereka akhirnya tiba di markas lama. Di sana sudah ada Jerry, Ubi, Maji, dan ... Gempita.

Tubuh Ajul terasa membeku begitu melihat keberadaan Gempita di antara mereka, apakah pria itulah yang memegang identitas sebagai Joker? Kalau iya, maka itu benar-benar cukup mengejutkan baginya.

Gempita tiba-tiba menoleh dan tersenyum tipis saat melihatnya. "Sudah lama kita tidak bertemu, Ajul. Bagaimana kabarmu? Aku lihat-lihat, kau jauh lebih berkembang saat berada di sini."

Ajul bahkan tidak dapat membuka mulutnya untuk membalas perkataan pria itu sebab terlampau terkejut, beruntung Gempita kini kembali mengalihkan perhatiannya kepada Wahcot yang berada di dalam penjara.

"Ubi ... apa yang telah kau lakukan kepada Gempita? Apa yang telah kau lakukan hingga ia tega mengkhianati Baldurs?" seru Wahcot marah yang kemudian dibalas oleh Ubi dengan decakan.

"Aku sama sekali tidak melakukan apapun kepada Gempita, dirinya sendiri yang memutuskan untuk melakukan hal ini!"

"Ubi benar, Wahcot. Memang aku sendiri yang memutuskan untuk bergabung dengan Ragnarok, namun itu semua juga demi kebaikan kalian!" seru Gempita yang membuat Wahcot menggeleng, raut wajahnya nampak begitu kecewa atas keputusan pemimpinnya tersebut.

"Kebaikan apa yang kau maksudkan? Apa kau tidak ingat betapa kejinya mereka? Tidak kah kau lihat betapa banyak darah yang berlumuran di antara jemari mereka? LANTAS KEBAIKAN MANA YANG TENGAH KAU MAKSUDKAN ITU, GEMPITA?"

Gempita pun menghela napas. "Selama ini apa yang aku bilang kepadamu, Wahcot? Apa yang pernah aku katakan kepadamu dan juga seluruh anggota Baldurs?"

"Jadilah lebih kuat dan lakukan semuanya demi Baldurs dan hanya untuk Baldurs," jawab Wahcot yang kemudian diangguki oleh pria itu.

"Lalu apa yang aku katakan juga setelah itu? Jangan terlalu percaya kepada Aliansi! Tidakkah kau paham betapa munafiknya Aliansi?"

"Satu-satunya orang yang munafik di sini adalah kau Gempita," desis Wahcot, dirinya benar-benar merasa kecewa atas keputusan yang diambil oleh Gempita.

AZAZEL [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang