"Kalau tidak kuat, kalian bisa menyerah saja," ujar Maji, namun OmenD menggeleng tegas. Dirinya masih sanggup untuk bertarung dalam permainan ini.
"Aku masih akan bermain mungkin hingga empat permainan lagi," ujar Voiz, dirinya pun menghela napas. "Masih ada berapa anggota Aliansi yang tersisa?"
"Tidak banyak, hanya sekitar tiga orang lagi," jawab OmenD, dirinya pun berkacak pinggang. "Namun mereka nampaknya tidak akan menyerah sampai titik darah penghabisan, sama seperti kita."
"Kurasa ... ini akan menjadi pertarungan yang sengit," ujar Voiz mempertimbangkan keadaan saat ini. "Semoga mereka tidak senekat itu."
"Aku tidak yakin atas hal itu, Voiz," ujar Maji, dirinya kemudian melirik ke arah anggota Aliansi yang tersisa. "Narendra, Ikkan, dan Awan nampaknya adalah sekumpulan orang yang akan mempertaruhkan segalanya."
"Ah ... mereka bertiga ternyata ...." Voiz pun berkacak pinggang. "Kalau begitu, ini adalah pertarungan yang sulit."
Mereka kemudian kembali berpindah ke ruang perjamuan. Tanpa berpikir panjang, ketiganya langsung memakan hidangan yang telah disuguhkan. Voiz yang mengambil sepotong roti, OmenD yang mengambil sebuah apel, dan Maji mengambil sepotong manisan.
"Aku tidak terkena efek apapun," ujar Voiz begitu mereka kembali ruang tunggu.
"Aku juga," balas OmenD, Maji pun mengangguk mendengar kondisi kedua rekannya itu.
"Bagus, aku juga sama." Dirinya pun bersidekap dada. "Kita lihat berapa lama lagi anggota Aliansi dapat bertahan dalam permainan ini."
OmenD pun menatap ke arah ketiga anggota Aliansi yang kini sudah berada di ruangan yang sama dengan mereka, belum ada tanda-tanda mereka akan menyerah.
"Hei, OmenD. Menyerahlah, tidak usah lanjut berusaha untuk senjata keempat itu," ujar Awan yang membuat pemuda bermanik oranye itu merotasikan matanya malas.
"Mengapa kau tidak saja yang menyerah, Awan? Ada lebih banyak hal yang dapat kau lakukan dibandingkan harus membuang nyawamu di sini," balas OmenD. Tiba-tiba dirinya teringat sesuatu, mengenai luka yang sama pada dirinya dan Awan. Belum sempat dirinya bertanya pada pria itu, mereka kembali berpindah ke ruang perjamuan.
Tidak mungkin dirinya membahas mengenai luka itu di ruang perjamuan, mengingat Ubi telah memberikan ultimatum kepadanya untuk tidak menemui Awan. Maka satu-satunya cara adalah berbicara empat mata dengan pria itu saat berada di ruang tunggu.
Dirinya kemudian menuangkan anggur dari botol ke dalam gelas dan segera meminumnya. OmenD pun mendesis sebab nyawanya kembali berkurang satu, menyisakan empat darah saja.
"Awan!" panggilnya saat dirinya kembali ke ruang tunggu, dirinya kemudian segera menghampiri pria itu. "Mengenai luka itu ... kita harus membahasnya suatu hari nanti."
Awan pun bersidekap dada. "Bukankah kau bilang bahwa Ubi sudah melarangmu untuk menemui diriku?"
Pemuda itu berdecak. "Aku dapat mengatur masalah itu, ataupun bisa saja aku mengajak Ajul untuk menemani diriku."
"Ajul?" Awan pun terkekeh. "Aku tadi melihat saat kalian berdua mencium dirinya. Ternyata ... anggota Ragnarok dapat menaruh perasaan satu sama lain juga, ya?"
OmenD pun terkekeh. "Memangnya apa yang salah dari menyukai seseorang? Sudahlah, kau tidak ada hubungannya sama sekali dalam masalah itu."
"Seharusnya Ajul masih melanjutkan permainan, mengingat dirinya cukup rakus juga sampai berkencan dengan dua orang sekaligus."
Tanpa banyak basa-basi, OmenD pun menarik kasar pakaian Awan sambil menatapnya tajam. "Kau bebas mengatakan apapun mengenai diriku, namun tidak untuk Ajul. Satu kata lagi kau berkata buruk tentang dirinya, aku tidak akan segan untuk menghabisi dirimu sekarang juga."
Setelah mengatakan itu, OmenD langsung mendorong tubuh Awan dengan keras dan kemudian mendatangi tempat Voiz dan Maji.
"Apa yang Awan katakan kepadamu hingga membuat ekspresimu hancur seperti itu?" tanya Maji, OmenD pun berdecak.
"Tidak ada, itu bukan urusanmu."
Permainan terus berlanjut dengan intensitas yang semakin menegangkan setiap bergantinya ronde, membuat kedua pihak saling berharap cemas bahwa merekalah yang akan berhasil.
Kini hanya tersisa tiga orang, OmenD, Maji, dan juga Awan yang entah bagaimana caranya masih belum juga menyerah untuk bertarung dalam permainan.
"OmenD, aku masih sanggup untuk melanjutkan permainan ini," ujar Maji. "Kau kembali saja, biar aku yang bertarung."
OmenD menggeleng. Walaupun hanya tersisa dua nyawa, dirinya masih sanggup untuk melanjutkan permainan. "Awan masih akan terus melanjutkan permainan ini, aku masih sanggup untuk mengimbangi permainan."
"Baiklah."
Mereka kembali berpindah ke ruang perjamuan, lagi-lagi mereka langsung menyantap hidangan yang telah tersedia tanpa perlu berpikir panjang. Kali ini dirinya merasakan tubuhnya kembali melemah, sebagai konsekuensi yang ia terima dari permainan tersebut.
Dirinya mendesis, ia harus tetap berusaha untuk menyingkirkan Awan. Manik oranyenya melirik ke arah Maji, setidaknya pria itu yang harus mendapatkan senjata tersebut kalaupun dirinya gagal.
Namun semakin berjalannya permainan, dirinya sama sekali tidak melihat tanda-tanda bahwa Awan akan menyerah. Lain hal dengan dirinya, yang kini hanya tersisa satu nyawa saja.
"Hei Maji, sepertinya hanya salah satu dari kita saja yang dapat keluar dari permainan ini," ujar OmenD kepada pria bermanik merah tersebut saat mereka berada di ruang tunggu.
Menyadari maksud perkataan OmenD, Maji pun menggeleng. "Segera kembali, OmenD. Aku masih sanggup berhadapan satu lawan satu dengan Awan, akan aku pastikan Ragnarok yang mendapatkan senjata tersebut."
"Tidak, Maji. Aku akan masih berusaha untuk mendapatkan senjata tersebut, setidaknya untuk membuat Awan tidak berpikir dirinya hanya selangkah lagi menuju kemenangan," tolak OmenD, dirinya sanggup mengorbankan seluruh hidupnya demi Ragnarok.
"Aku benar-benar tidak menyukai idemu ini, OmenD ...."
Mereka untuk kesekian kalinya kembali ke ruang perjamuan, namun kali ini OmenD tidak langsung memakan hidangan yang ada. Dirinya memilih untuk memperhatikan Ajul terlebih dahulu sebelum akhirnya dirinya menyantap sekeping biskuit coklat.
Biskuit tersebut nampaknya bukanlah makanan yang terakhir, sebab dirinya berhasil tiba di ruang tunggu tanpa mengalami efek apapun.
"OmenD, menyerah saja. Aku akan melanjutkan permainan ini sendiri," ujar Maji, namun pemuda bermanik oranye itu tetap teguh pada pendiriannya.
"Tidak apa-apa, Maji. Aku masih sanggup."
"Kau hanya memiliki satu nyawa, bodoh! Kembali saja, aku masih memiliki cukup nyawa untuk duel dengannya."
OmenD menggeleng, kemudian dirinya terkekeh kecil. "Hei Maji ...."
Maji pun berdecak. "Apa lagi? Ingin bersikeras untuk melanjutkan permainan?"
"Jaga Ajul dengan baik, oke?"
"Hei—"
Belum sempat melanjutkan perkataannya, mereka sudah kembali ke ruang perjamuan. Tentu saja Maji tidak dapat melanjutkan perkataannya, mengingat Awan dapat mendengar mereka.
OmenD pun mengambil sepotong roti dengan potongan kecil daging babi pada bagian atasnya, bibirnya tersenyum tipis saat melihat ke arah Ajul yang terpisahkan oleh sebuah kaca yang agak tebal.
"Senang bisa mengenal dirimu, Ajul. Semoga kita dapat bertemu lagi suatu hari nanti."
Keberuntungan dan kesempatan memang tidak akan pernah datang dua kali, catatan takdir telah tertulis jelas. Bukan hanya gugur dari permainan, namun dirinya juga harus gugur dari dunia ini.
"Terima kasih, Ragnarok."
T. B. C.
============================================
10 part lagi book ini tamat bro 🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️
So don't forget to vote, spam comments, follow, and share if you like this story!
KAMU SEDANG MEMBACA
AZAZEL [Completed]
Fiksi Penggemar[Revised] Main cast : Ajul / Azazel (Aspect30) Brutal Legends Universe! Phase 2! BxB, Fluff, no lemon, hareem. Terjebak di sebuah dunia yang penuh dengan legenda, kutukan, dan pengkhianatan sama sekali tidak menyurutkan langkahnya, bahkan jika ia ha...
![AZAZEL [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/355840738-64-k194782.jpg)