13. GREED

578 57 46
                                        

Sinar mentari mengusik kelopak mata pemuda itu yang membuat dirinya pun terbangun, netra merahnya pun menatap bingung ke arah pria yang tersungkur di karpet kamarnya.

Butuh beberapa saat hingga dirinya mengingat kembali apa yang telah terjadi semalam, kepalanya pun terasa sedikit pusing akibat minuman semalam. Ia pun bangkit perlahan sebelum menendang pelan pria itu, mencoba memastikan apakah ia masih hidup atau tidak.

Setelah yakin bahwa pria itu masih bernyawa, ia pun segera keluar dari kamar dan pergi menuju tempat memancingnya. Pemuda itu pun segera membasuh wajahnya dengan air sebelum pergi keluar rumah dan memperhatikan posisi matahari, yang ternyata kini hari sudah siang.

Ajul yakin sekali para anggota Ragnarok masih terlelap sebab terlalu banyak minum, terutama Maji yang kurang lebih sudah menghabiskan lima belas gelas. Entah kapan pria itu akan terbangun, yang jelas ia ingin Maji cepat pergi dari rumahnya.

Atas tekad tersebut, kini dirinya telah menggenggam kapak berlian miliknya guna mengumpulkan bahan-bahan untuk membangun rumah yang diminta oleh Maji. Ia pun berjalan menuju hutan dan segera menebangi beberapa pohon guna diambil kayunya, lalu menumpuknya di dekat portal sebelum kembali mencari kayu.

Dirinya mengulangi hal tersebut hingga matahari kini seakan sudah berada tepat di atas kepalanya, ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah untuk beristirahat sejenak mengingat sudah masuk waktu makan siang.

Ia berniat untuk memakan sepotong ikan salmon panggang hari ini, jadi ia pergi ke ruang penyimpanan untuk mengambil seekor salmon yang berukuran cukup besar. Kemudian dirinya membersihkan isi perut ikan tersebut sebelum memanggangnya, tak lupa dirinya pun turut meletakkan potongan kentang di sekitar ikan tersebut.

Sembari menunggu makan siangnya matang, ia pun pergi ke kamar guna mengecek keadaan Maji, yang mana membuat Ajul merasa dongkol seketika.

"Hei sialan, apa yang kau lakukan di tempat tidurku?" kesalnya pada pria itu, dirinya tidak pernah mengijinkan siapapun untuk menyentuh ranjangnya.

Maji yang merasa tidurnya terganggu pun berdecak. "Kau sedang tidak menggunakannya, karena itu aku di sini."

"Oh ayolah! Aku tidak pernah mengijinkan siapapun naik ke atas ranjangku," omel Ajul, namun Maji masih bersikukuh untuk tetap berada di sana.

"Kau harus belajar berbagi ranjang, Jul. Kau suatu hari akan memiliki pasangan, kau juga harus berbagi ranjang dengannya."

"Memang benar, tapi bukan berarti aku harus berbagi ranjang dengan dirimu! Dasar bedebah, kau bukan siapa-siapa bagiku untuk berbagi ranjang."

"Kalau begitu, ayo kita menjadi sepasang kekasih, jadi aku bisa tidur di ranjangmu," balas Maji yang membuat Ajul tidak habis pikir, bagaimana bisa pria itu memiliki pemikiran seperti itu?

"Mana bisa seperti itu? Tidak mau!" tolak Ajul mentah-mentah, namun Maji tidak bergeming sedikitpun. Pemuda itu berdecak, menyesal sudah berbuat baik kepada pria serakah itu. Kalau tahu akan jadi seperti ini, dirinya akan menolak Maji sejak awal.

Ia memutuskan untuk pergi, sudah tidak ingin berdebat lagi dengan pria yang bahkan melebihi kerasnya batu lapisan terbawah dari dunia ini. Lebih baik ia menikmati makan siangnya dibandingkan harus terus berdebat dengan pria keras kepala itu, yang bahkan mungkin masih dalam keadaan mabuk.

Salmon panggang dan kentang, benar-benar perpaduan yang cukup lezat. Rasanya yang gurih dan juga lemak dari perut salmon yang meresap ke dalam kentang, sebuah cita rasa yang mampu mengembalikan suasana hatinya setelah perdebatan tadi.

Setelah selesai menyantap hidangan tersebut, Ajul memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya membangun rumah Maji. Semakin cepat rumah itu jadi, maka semakin baik pula untuk dirinya.

AZAZEL [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang