Ketiganya mencari tubuh OmenD selama berjam-jam lamanya, namun mereka tidak juga menemukan tubuh pemuda itu. Setiap sudut kuil mereka jelajahi, namun tetap nihil. Tubuhnya benar-benar lenyap.
Meskipun begitu, prosesi pemakaman OmenD tetap akan dilakukan.
Saat malam sebelum prosesi pemakaman, Kaira dan Ajul memutuskan untuk membuat sebuah patung kayu yang dibuat semirip mungkin dengan pemuda itu beserta peti mati yang dibuat seukuran dengan boneka tersebut.
"Kau yakin masih mau mencoba mengambil hatinya?" tanya Jerry kepada Maji yang berdiri tepat di sebelahnya. Mereka berdua tengah memperhatikan kedua orang tersebut dari kejauhan, tentu saja tanpa diketahui oleh mereka.
"Sangat yakin," balas Maji mantap, dirinya pun terkekeh. "Walaupun OmenD yang memenangkan hatinya saat ini, tapi bukankah dirinya sudah pamit dari dunia ini? Maka hal itu akan jauh lebih mudah."
"Kau terlalu percaya diri, Maji."
"Hei, kau buta? Jika dirinya benar-benar menolakku, ia juga akan menolak semua perlakuanku." Mendengar jawaban pria itu, Jerry hanya bisa menghela napas. Memang benar, Ajul sendiri tidak pernah menolak Maji ataupun OmenD, berbeda sekali saat berhadapan dengan Garox.
Melihat kedua orang tersebut sudah selesai dengan kegiatan mereka, Jerry dan Maji juga memutuskan untuk segera pergi sebelum diketahui oleh pasangan mereka masing-masing.
Prosesi pemakaman itu dilakukan saat siang hari, tepatnya di taman atas kastil Ragnarok. Saat itu, dunia seakan ikut berduka dengan mereka. Prosesi pemakaman itu diiringi oleh rintik hujan, membuat baju mereka sedikit basah.
Tidak besar memang kuburan tersebut, namun cukup untuk peti kayu tersebut. Ajul sendiri yang memasukkan peti tersebut ke dalam liang lahat, yang kemudian dirinya jugalah yang menutup lubang tersebut.
Prosesi selanjutnya adalah menyampaikan pesan terakhir kepada OmenD oleh semua anggota Ragnarok, termasuk Ajul.
"OmenD ...." Ajul pun maju selangkah mendekati pusara pemuda itu, kepalanya menunduk. "Terima kasih karena selama ini kau selalu membantu diriku dan juga bersikap baik kepadaku."
Dirinya pun tersenyum sendu. "Maaf ... aku tidak dapat membalas perasaanmu tepat waktu," ujarnya sambil berbisik. "Kalau aku tahu akan jadi seperti ini ... setidaknya aku tidak akan terus menerus mengelak dari fakta bahwa ... aku juga menaruh perasaan kepadamu."
Saat Ajul selesai menyampaikan pesannya, dirinya pun kembali ke barisan anggota Ragnarok lainnya. Kini adalah giliran Ubi untuk menyampaikan pesannya. "Kalian ... bisa pergi dari sini? Aku ada pesan pribadi yang tidak dapat didengar oleh siapapun."
Mereka pun mengangguk dan kemudian meninggalkan Ubi sendirian di makam OmenD, semua orang tentu memiliki pesan tersendiri dan mereka menghargai itu.
"Ajul," panggil Maji saat mereka sudah tiba di depan kastil, pemuda itu kemudian menoleh. "Ayo kita berlatih bersama."
Ajul pun menyerngit heran. "Mengapa tiba-tiba sekali?"
Maji pun terkekeh. "Aku tahu kita semua kehilangan banyak kemampuan sebab permainan tersebut, Jul. Karena itu aku mengajakmu untuk ikut bersamaku, bagaimana?"
Pemuda itu berpikir sejenak sebelum akhirnya menyetujui ajakan pria itu, lagi pula ucapannya ada benarnya. "Baiklah .... Kau ingin berlatih apa?"
"Aku sedang ingin berlatih kekuatan tangan, kau tahu di mana letak hutan yang bagus?" tanya Maji, Ajul kemudian menatap ke sekeliling.
"Nampaknya ... di sekitar sini sudah tidak ada hutan yang memiliki pohon-pohon yang bagus untuk digunakan berlatih," ujar Ajul. "Kecuali kau mau berkeliling terlebih dahulu untuk mencari tempat yang bagus."
Maji pun menggeleng, menurutnya itu sama sekali bukan rencana yang buruk. "Aku sama tidak keberatan dengan masalah itu."
"Oke, kalau begitu aku akan bersiap terlebih dahulu." Ajul pun segera meninggalkan Maji dan pergi ke rumahnya untuk mengambil peralatan-peralatan yang ia butuhkan untuk berlatih.
Tidak banyak yang ia bawa, hanya kapak, pedang, dan beberapa persediaan wortel emas sebagai makanan. Setelah itu, ia menghampiri Maji yang ternyata sudah menunggu dirinya di depan portal.
"Ayo," ajak Ajul sebelum melangkah ke arah portal, namun tangannya segera ditahan oleh Maji sebelum dirinya benar-benar masuk ke sana.
"Siapa yang bilang kita akan lewat portal itu, hei?"
"Lantas? Ke mana kita akan pergi?"
Maji pun tertawa sebelum menarik lengan pemuda itu dan membawanya ke dalam air. "Kita akan berenang, sekaligus melatih kelincahan dan daya tahan tubuh kita. Kau tentukan arah, Jul."
Ajul pun merotasikan matanya malas sebelum menunjuk ke arah tempat matahari terbit. "Ayo ke timur, aku belum pernah benar-benar menjelajahi tempat itu. Bisa saja terdapat hutan besar di sana."
Tebakan Ajul cukup akurat sebab di daerah timur memang masih banyak pohon-pohon raksasa yang memenuhi hutan, maka dengan begitu latihan mereka dapat berlangsung lebih efisien.
Satu demi satu pohon tersebut tumbang dan tersapu habis oleh mereka, mengubah mereka menjadi potongan-potongan kecil yang dapat diubah dengan mudah menjadi apapun yang mereka inginkan.
Tentu saja hal tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama, sebab mereka baru berhenti saat matahari terbenam. Di sana keduanya tengah beristirahat sebelum melanjutkan latihan mereka, ditemani oleh cahaya temaram dari api unggun yang dibuat dari potongan-potongan kayu yang mereka dapatkan sebelumnya.
"Kau ... apakah kau benar-benar menaruh perasaan kepada OmenD?" tanya Maji yang membuat Ajul yang awalnya tengah memastikan nyala api unggun itu langsung menghentikan pergerakannya.
"Aku tidak tahu." Dirinya kemudian memutuskan untuk duduk, kemudian menatap pria itu. "Kau sendiri kenapa bisa sampai jatuh hati kepadaku?"
"Kau itu sangat menarik, Jul. Aku sendiri merasa tertantang untuk bisa mendekatimu, karena itu aku berusaha," jawabnya jujur. "Namun semakin lama aku mencoba, kau semakin membuatku merasa tertantang."
"Jadi kalau kau berhasil, kau akan segera menghempas diriku karena aku sudah tidak lagi menarik bagimu?"
Maji seketika menggeleng panik. "Bukan itu yang aku maksudkan, Jul! Astaga, sepertinya aku menggunakan kalimat yang salah untuk menjelaskan perasaanku ini."
Ajul pun tertawa, entah kenapa dirinya merasa sedikit terhibur melihat gelagat Maji yang panik karena dirinya salah menangkap maksud perkataan dari pria itu.
Dirinya kemudian bangkit dari duduknya dan mengayun-ayunkan pedang besi miliknya. "Bagaimana kalau kita berduel pedang, Maji?"
"Ah, kalau kau tidak sedang memegang pedang besi itu, tentu saja aku sudah berpikir kau mengajakku duel pedang yang lain," kekeh Maji, Ajul yang kesal pun kemudian meletakkan pedang tersebut tepat di bawah dagu pria itu.
"Jangan berani macam-macam kau dengan diriku, Maji," desis Ajul. "Aku bisa saja membunuhmu detik ini juga, kau tahu?"
Maji pun tertawa sebelum menyingkirkan pedang tersebut dengan santai dan berdiri, kemudian mengeluarkan pedang besi miliknya dan mengarahkannya ke pada Ajul. "Kau pikir aku takut dengan ajakanmu?"
Maka dengan itu, duel di antara mereka pun resmi terjadi. Siluet yang dihasilkan dari nyala api unggun membuat mereka seakan sedang berdansa mengikuti alunan pedang, benar-benar indah untuk dipandang.
T. B. C
=======================================
OmenD cooking date, Maji grinding date. Terlihat sangat jelas perbedaannya, bukan?
So don't forget to vote, spam comments, follow, and share if you like this story!
KAMU SEDANG MEMBACA
AZAZEL [Completed]
Fanfiction[Revised] Main cast : Ajul / Azazel (Aspect30) Brutal Legends Universe! Phase 2! BxB, Fluff, no lemon, hareem. Terjebak di sebuah dunia yang penuh dengan legenda, kutukan, dan pengkhianatan sama sekali tidak menyurutkan langkahnya, bahkan jika ia ha...
![AZAZEL [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/355840738-64-k194782.jpg)