41. My family, my home

11.3K 1.6K 1.7K
                                        

"Ini mengerikan." Komentar Yohan ketika diberitahu tentang dua orang yang tergantung terbalik di kubah depan teras istananya. "Bawa mereka turun." Titah Yohan pada beberapa prajurit yang ada di sekitar.

"Maaf, Yang Mulia." Salah satu dari mereka memberi respon sambil menunduk takut terlebih saat Matteo menatap ke arahnya.

"Hm?"

"Kami tak bisa melakukan perintah diluar perintah Kaisar." Lanjut prajurit itu berkata.

"Kaisar?" seketika kedua mata Yohan menyipit. "Kau tidak menganggapku?"

Jelas saja hal itu membuat Yohan jengkel dan memberengut kemudian ia berseru lantang. "CALIX! CALIX! CALIXXX! DIMANA KAU!?"

"CALIX!" panggilnya lagi lebih kencang dari sebelumnya namun tak ada sahutan dari dalam bangunan istana.

"CA--"

"Calix sudah mati." Potong Matteo sebelum Yohan membuat keributan dengan seruannya yang memanggil-manggil orang kepercayaannya itu.

"Kau membunuhnya!?" kaget Yohan.

Sontak Matteo menatap ke arahnya dengan wajah datar.  "Kau pikir aku punya waktu untuk melakukan itu?"

Yohan merasa tertampar dengan kalimat putranya lalu ia menoleh ke arah Lana yang berdiri dua langkah disebelahnya dan berbisik. "Kurasa aku salah bibit, mungkin itu sebabnya orang terdahulu dan nenek moyang bilang harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum membuat keturunan."

Spontan Lana melirik tajam ke arah suaminya itu. "Kau tak pernah berkaca?"

"Sering dan masih tampan." Bisik Yohan percaya diri seperti biasa lalu kembali mendekat pada Matteo.

"Apa yang terjadi padanya?" tanya pria itu ingin tahu bagaimana mungkin Panglima terhebat Kekaisarannya meninggal dengan mudah.

Namun Matteo bergidik, enggan menjawab dan malah menunjuk ke arah atas menggunakan dagunya. "Kau tanya mereka."

"Nak, aku--PRAJURIT!" seru Yohan lagi.

"Turunkan mereka berdua dari atas kubah, aku perlu bicara!"

Para prajurit itu tetap menunduk, mereka takut berakhir menjadi abu atau ditanam hidup-hidup seperti ubi.

Yohan berdecak, ia menoleh pada putranya lalu merampas bros Kaisar yang ada di dada kiri pemuda itu lalu memasangnya di dada sendiri. "Lihat aku sekarang." Titahnya pada para prajurit itu. "Aku Kaisarnya, cepat turunkan mereka berdua."

Melihat bros Kaisar ada di dada kiri Yohan, para prajurit serempak menyahut. "Baik, Yang Mulia Kaisar!"

"Brosku." Desis Matteo berusaha merebut balik bros itu dari Yohan namun wajahnya berakhir di bekap oleh tangan besar pria itu.

"Diam disana dan jangan membuatku marah, Nak." Ucapnya memperingati.

Matteo mendengkus. "Kalau tahu begini kuracun lagi kau." Gumamnya jengkel tetapi dengan suara pelan sehingga baik Yohan maupun Lana tidak ada yang dengar.

Setelah dua orang itu diturunkan dan dibaringkan di teras, Yohan melangkah mendekat. Mengamati wajah dua orang itu secara bergantian lalu menyipit ketika beradu pandang dengan Eros.

"Eros?" panggilnya mencoba mengenali pria yang sebagian besar wajahnya terbaluri oleh darah kering yang sudah berubah warna menjadi kecokelatan.

"Kau membunuh Calix?" tanyanya langsung pada inti tetapi Eros sendiri tidak punya kemampuan untuk menjawab.

"Istrinya yang sudah lebih dulu ke neraka yang lakukan." Seloroh Matteo.

"Istrinya?" Yohan menoleh sementara Matteo mengangguk.

The Shadow Prince Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang